- Home
- Internasional
- 40 Negara Kutuk Israel, Netanyahu Minta UNIFIL Pergi dari Lebanon
40 Negara Kutuk Israel, Netanyahu Minta UNIFIL Pergi dari Lebanon

INFORMASI.COM, Jakarta - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) segera menarik pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL) dari wilayah tempat Israel bertempur melawan Hizbullah. Netanyahu menuduh Hizbullah menggunakan pasukan UNIFIL sebagai "perisai manusia."
“Tuan Sekretaris Jenderal, singkirkan pasukan UNIFIL dari bahaya. Ini harus dilakukan sekarang, segera,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di akun X miliknya, Senin (14/10/2024).
Netanyahu mengaku telah mengajukan permohonan serupa sebelumnya, namun ditolak meski jumlah cedera pada pasukan UNIFIL meningkat. "IDF telah berulang kali meminta hal ini, dan telah berulang kali ditolak. Semuanya (UNIFIL) ditujukan untuk menyediakan perisai manusia bagi teroris Hizbullah,” kata Bibi, sapaan Netanyahu.
UNIFIL - get out of harm’s way! pic.twitter.com/vCnw7XLWCo
— Benjamin Netanyahu - בנימין נתניהו (@netanyahu) October 14, 2024
Komentar Netanyahu muncul saat pasukan penjaga perdamaian PBB mengatakan dua tank Israel telah memasuki area UNIFIL di Lebanon, Minggu. Namun, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim tank baja dikerahkan untuk mengevakuasi tentara Israel yang terluka akibat tembakan Hizbullah.
UNIFIL mengatakan militer Israel sengaja menyerang beberapa pos UNIFIL, termasuk markas besar di Naqoura, Lebanon selatan. Setidaknya, lima tentara UNIFIL terluka ringan, termasuk dua tentara dari Indonesia.
“Penolakan Anda untuk mengevakuasi tentara UNIFIL menjadikan mereka sandera Hizbullah. Ini membahayakan mereka dan nyawa tentara kami," ujar Netanyahu.
Dua Prajurit TNI Jadi Korban, Israel Klaim Sering Kontak UNIFILNetanyahu mengatakan Israel menyesalkan adanya korban cedera yang dialami pasukan penjaga perdamaian. Namun, kata Bibi, Israel akan melakukan apa pun untuk mencegah insiden serupa. “Tetapi cara yang sederhana dan jelas untuk memastikan hal ini adalah dengan mengeluarkan mereka dari zona bahaya,” kata Netanyahu.
Di tempat terpisah, sebanyak 40 negara anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) mengutuk keras serangan yang dilakukan Israel. UNIFIL pun menyebut militer Israel sengaja menembaki markas pasukan penjaga perdamaian.
"Tindakan seperti itu harus segera dihentikan dan harus diselidiki secara memadai," kata pernyataan bersama anggota UNIFIL yang diunggah di akun media sosial X yang diprakarsai Polandia dan ditandatangani anggota utama UNIFIL.
A joint statement by 34 UNIFIL-contributing countries, initiated by 🇵🇱, urges to protect @UNIFIL_ peacekeepers.
— Poland in the UN (@PLinUN) October 12, 2024
We condemn recent incidents, call to respect UNIFIL's mission & ensure the safety of its personnel.
🇦🇲🇦🇹🇧🇩🇧🇷🇰🇭🇨🇳🇨🇾🇸🇻🇪🇪🇫🇯🇫🇮🇫🇷🇬🇭🇬🇹🇭🇺🇮🇩🇮🇪🇮🇹🇰🇿🇰🇷🇱🇻🇲🇾🇲🇹🇲🇳🇳🇵🇳🇱🇵🇱🇶🇦🇸🇱🇪🇸🇱🇰🇹🇿🇹🇷🇬🇧 pic.twitter.com/66q46Pu1RR
UNIFIL mendesak Israel dan Hizbullah untuk menghormati keberadaan pasukan penjaga perdamaian, termasuk kewajiban menjamin keselamatan dan keamanan personelnya.
Sementara itu, Lebanon resmi mengajukan keluhan kepada DK PBB di New York, Amerika Serikat, atas serangan Israel yang menargetkan UNIFIL, Senin (14/10).
"Ini preseden buruk dan pelanggaran nyata hukum internasional," kata utusan diplomatic Lebanon sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon, sebagaimana dilaporkan Anadolu via Antara.
AS Kirim Sistem Pertahanan THAAD, Israel Klaim Mau Serang Iran?Lebanon mendesak DK PBB bertindak tegas atas serangan Israel yang disebut telah melakukan kejahatan perang. DK PBB juga diminta memberi sanksi dan meminta Israel pertanggungjawaban atas pelanggarannya itu.
UNIFIL, yang melibatkan sekitar 9.500 tentara, bertugas memantau gencatan senjata yang mengakhiri perang 33 hari antara Israel dan Hizbullah pada 2006.
Perannya diperkuat oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tahun 2006, yang menetapkan bahwa hanya tentara Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian PBB yang boleh dikerahkan di Lebanon selatan. (The Times of Israel/ANT/Anadolu)
Komentar (0)
Login to comment on this news