Mengapa Arab Saudi Serang Uni Emirat Arab di Yaman?

Mengapa Arab Saudi Serang Uni Emirat Arab di Yaman?
Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed.bi
Ikhtisar
  • Serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di Pelabuhan Mukalla menandai pecahnya ketegangan terbuka dengan Uni Emirat Arab (UEA).
  • Akar konflik berada pada dukungan UEA terhadap kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) di wilayah selatan dan timur Yaman.
  • Baik Yaman maupun UEA akhirnya membatalkan perjanjian demi menjaga hubungan harmonis dengan Arab Saudi.

INFORMASI.COM, Jakarta - Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman pecah ke permukaan setelah pasukran Arab Saudi melancarkan serangan udara di Pelabuhan Al Mukalla, Yaman timur. Serangan tersebut secara terbuka menyasar pasokan militer yang dikirim dari UEA kepada kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC), sekutu Abu Dhabi di Yaman selatan.

Kantor berita resmi Saudi, Saudi Press Agency (SPA), Selasa (30/12/2025), melaporkan bahwa serangan udara itu menargetkan senjata dan peralatan militer yang dibongkar dari dua kapal yang tiba dari UEA. Dalam pernyataannya, Saudi mengatakan pengiriman tersebut dilakukan tanpa izin resmi dari Komando Gabungan Koalisi pimpinan Arab Saudi.

Juru bicara Pasukan Militer Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, dalam pernyataan yang disiarkan SPA, Selasa (30/12), di Riyadh, mengatakan bahwa dua kapal UEA yang tiba di Pelabuhan Mukalla pada 27–28 Desember tidak memiliki otorisasi resmi. Ia menegaskan bahwa serangan itu bersifat “terbatas” namun ditujukan untuk menetralkan ancaman langsung terhadap keamanan.

Thumbnail Arab Saudi Sebut Pendudukan Israel di Palestina Menghalangi Terciptanya Solusi Dua Negara
i

Baca Juga

Arab Saudi Sebut Pendudukan Israel di Palestina Menghalangi Terciptanya Solusi Dua Negara

Internasional

STC, Minyak, dan Bara Api di Hadhramaut

Eskalasi ini tidak berdiri sendiri. Seorang sumber di pemerintah Yaman sebelumnya menyatakan bahwa Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman (Presidential Leadership Council/PLC), Rashad al-Alimi, mengunjungi Arab Saudi untuk membahas meningkatnya ketegangan militer di wilayah timur negara itu.

Konflik memuncak setelah pasukan STC menduduki sejumlah lembaga pemerintah dan bandara di Provinsi Hadhramaut. Aksi ini terjadi menyusul bentrokan dengan suku-suku setempat terkait penguasaan ladang minyak strategis di wilayah tersebut.

Awal Desember, pasukan yang berafiliasi dengan STC merebut ladang minyak Al Masilah milik PetroMasila setelah bentrok dengan Aliansi Suku Hadhramaut yang telah menjaga lokasi itu selama lebih dari satu tahun. Otoritas setempat menyebutkan bentrokan tersebut menyebabkan 12 korban tewas dan terluka di kedua pihak.

Dampaknya signifikan. PetroMasila, perusahaan minyak nasional milik pemerintah Yaman, terpaksa menghentikan operasionalnya. Sebelum konflik, perusahaan ini memproduksi sekitar 85.000 hingga 90.000 barel minyak per hari.

Penghentian produksi ini memukul salah satu sumber pendapatan utama pemerintah Yaman di tengah perang berkepanjangan.

Yaman Memutus Hubungan Pertahanan dengan UEA

Di tengah eskalasi tersebut, pemerintah Yaman mengambil langkah drastis. Pada Selasa (30/12), Yaman secara resmi membatalkan perjanjian pertahanan dengan Uni Emirat Arab dan meminta seluruh pasukan Emirat angkat kaki dari wilayah Yaman.

Seluruh pasukan Emirat harus ditarik mundur dari seluruh wilayah Yaman dalam waktu 24 jam.

— Rashad al-Alimi, dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Yaman pada Selasa (30/12) di Aden.

Keputusan itu, menurut Al-Alimi, diambil menyusul pengiriman senjata oleh UEA kepada pasukan STC di wilayah selatan. Pada hari yang sama, ia juga mengumumkan keadaan darurat nasional selama 90 hari, disertai larangan penerbangan udara dan pergerakan darat selama 72 jam, serta pengetatan pengawasan di seluruh pelabuhan dan pos perbatasan.

Langkah ini menandai putusnya kepercayaan pemerintah Yaman terhadap peran UEA yang sebelumnya menjadi bagian dari koalisi pendukung pemerintah.

Thumbnail UEA Lirik Investasi di Indonesia, Salah Satunya Energi Hijau
i

Baca Juga

UEA Lirik Investasi di Indonesia, Salah Satunya Energi Hijau

Ekonomi

Riyadh Minta Abu Dhabi Patuh

Arab Saudi segera memperkuat posisi Yaman. Pemerintah Saudi secara terbuka meminta UEA menanggapi secara positif permintaan penarikan pasukan tersebut dalam waktu 24 jam.

Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi yang dirilis pada Selasa (30/12) di Riyadh, pemerintah menyebut langkah UEA sebagai “ancaman terhadap keamanan nasional Kerajaan serta keamanan dan stabilitas” Yaman.

Kerajaan menegaskan pentingnya Uni Emirat Arab sebagai negara sahabat untuk menerima permintaan Republik Yaman agar seluruh pasukannya meninggalkan Republik Yaman dalam waktu dua puluh empat jam, serta menghentikan segala bentuk dukungan militer maupun keuangan kepada pihak mana pun di Yaman.

— Pernyataan Kemlu Saudi, Selasa. 

Arab Saudi juga menyampaikan peringatan keras. Dalam pernyataan yang sama ditegaskan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasional Saudi adalah batas yang tidak bisa dilanggar.

(Saudi) tidak akan ragu mengambil seluruh langkah dan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi serta menetralisasi ancaman tersebut.

— Kemlu Saudi menambahkan.

Thumbnail AS Desak Arab Saudi Normalisasi Hubungan dengan Israel
i

Baca Juga

AS Desak Arab Saudi Normalisasi Hubungan dengan Israel

Video

Respons UEA: Tarik Pasukan, Jaga Relasi

Uni Emirat Arab merespons ketegangan ini dengan mengumumkan penghentian kehadiran militernya di Yaman. Dalam pernyataan Kementerian Pertahanan UEA pada Selasa (30/12) di Abu Dhabi, disebutkan bahwa keputusan tersebut diambil atas pertimbangan keselamatan dan efektivitas misi.

Mengingat perkembangan terkini dan implikasi potensial terhadap keselamatan dan efektivitas tugas kontra-terorisme, Kementerian Pertahanan mengumumkan penghentian tim kontra-terorisme yang tersisa di Yaman atas kemauan sendiri, dengan cara yang memastikan keselamatan personelnya, dan berkoordinasi dengan mitra terkait.

— Pernyataan Kemenhan UEA.

Kementerian Pertahanan UEA menekankan bahwa pasukan Emirat “telah melakukan pengorbanan besar untuk mencapai tujuan-tujuan ini.” UEA juga menegaskan bahwa secara resmi mereka telah mengakhiri kehadiran militer di Yaman sejak 2019, setelah menyelesaikan tugas-tugas yang disepakati, dan hanya menyisakan tim khusus kontra-terorisme.

Ketua Kantor Media Nasional UEA, Abdulla Mohammed Butti Al Hamed, menegaskan bahwa pendekatan Abu Dhabi dipandu oleh “kebijaksanaan daripada emosi.” Ia juga berupaya meredam ketegangan dengan menekankan kedekatan hubungan dengan Arab Saudi.

Apa yang mengikat kami dengan Kerajaan Arab Saudi melampaui geografi dan politik; itu adalah darah yang bercampur di medan perang, sejarah yang ditulis dengan pengorbanan, dan masa depan yang hanya kami bayangkan bersama.

— Al Hamed, di Abu Dhabi, Selasa (30/12/2025).

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.