Ekonomi Sulit, Warga Iran Berdemo, 5 Orang Tewas

Ekonomi Sulit, Warga Iran Berdemo, 5 Orang Tewas
Warga di sejumlah kota di Iran melancarkan aksi unjuk rasa untuk memprotes pemerintah Iran akibat ekonomi sulit. Foto: Middle East Monitor
Ikhtisar
  • Sedikitnya lima orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam aksi protes di Iran barat dan barat daya.
  • Bentrokan terjadi di Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari serta Lorestan, melibatkan aparat keamanan.
  • Pemerintah Iran mengakui adanya krisis ekonomi dan ketidakpuasan publik yang meluas.

INFORMASI.COM, Jakarta - Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka dalam rangkaian aksi protes yang berlangsung di wilayah barat dan barat daya Iran, Kamis, (1/1/2026).

Kantor berita Fars, mengutip keterangan seorang pejabat lokal yang tidak disebutkan namanya, melaporkan lebih dari 150 orang berkumpul di wilayah Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari. Massa dilaporkan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan melempari sejumlah gedung publik dengan batu.

Setelah polisi turun tangan, sebagian pengunjuk rasa melepaskan tembakan ke arah aparat keamanan hingga melukai sejumlah petugas, sementara dua orang tewas dalam bentrokan tersebut.

— Pernyataan pejabat lokal yang dikutip kantor berita Fars, Kamis (1/1/2026).

Masih menurut laporan Fars, insiden kekerasan juga terjadi di Provinsi Lorestan. Tiga orang dilaporkan tewas dan 17 orang lainnya terluka ketika sekelompok perusuh menyerang markas kepolisian di Kota Azna dengan memanfaatkan situasi aksi protes publik.

Fars melaporkan para penyerang menggunakan senjata tajam dan senjata api dalam upaya melucuti aparat keamanan serta menyerbu gudang senjata. Aksi tersebut memicu bentrokan langsung dengan aparat kepolisian setempat.

Rangkaian kekerasan ini terjadi sehari setelah media lokal melaporkan penangkapan 20 orang di Kota Kuhdasht, Provinsi Lorestan, pada Rabu (31/12/2025). Dalam insiden tersebut, seorang anggota pasukan Basij yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan tewas.

Sebelumnya, pada 28 Desember 2025, para pedagang di Grand Bazaar Teheran juga menggelar aksi protes menyusul anjloknya nilai tukar mata uang rial Iran terhadap mata uang asing. Aksi tersebut dipicu meningkatnya tekanan ekonomi dan kemudian meluas ke sejumlah kota lain di Iran.

Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengakui adanya gelombang protes yang berkembang di berbagai wilayah.

Kami mengamati, mendengarkan, dan secara resmi mengakui adanya protes, krisis, dan tantangan yang terjadi.

— Fatemeh Mohajerani, Juru Bicara Pemerintah Iran, dalam pernyataan yang dikutip media Iran, Kamis.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga mengakui adanya peningkatan ketidakpuasan publik terhadap pemerintahannya. Ia menegaskan pemerintah akan memikul tanggung jawab atas persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Presiden Masoud Pezeshkian juga menyatakan pemerintah tidak akan menyalahkan masalah ini kepada pihak luar seperti Amerika Serikat. Ia juga meminta para pejabat fokus pada penyelesaian persoalan ekonomi domestik.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.