Iran vs Amerika Serikat Memanas, Saling Ancam Luncurkan Serangan

Iran vs Amerika Serikat Memanas, Saling Ancam Luncurkan Serangan
Ilustrasi
Ikhtisar
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran dan membuka opsi membantu demonstran anti-pemerintah Iran.
  • Parlemen Iran mengancam akan menjadikan militer AS dan Israel sebagai sasaran jika terjadi serangan terhadap Republik Islam.
  • Iran memperingatkan siapa pun yang ikut serta dalam demonstrasi, yang disebut dibekingi AS, akan dianggap sebagai musuh.

INFORMASI.COM, Jakarta - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat tajam di tengah gelombang unjuk rasa besar-besaran anti pemerintah yang melanda berbagai wilayah Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka memperingatkan Teheran agar tidak menembaki para demonstran, seraya menyatakan kesiapannya untuk membantu jika penindakan keras terus dilakukan.

Peringatan tersebut disampaikan Trump setelah menerima pengarahan terkait opsi baru serangan militer terhadap Iran. Trump disebut tengah mempertimbangkan menindaklanjuti ancamannya menyerang Republik Islam apabila aparat keamanan Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran damai.

Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!

— Donald Trump, melalui akun Truth Social miliknya, Sabtu (10/1/2026). 

Di sisi lain, parlemen Iran merespons keras pernyataan tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi sasaran jika Washington menyerang Iran lebih dulu.

Ghalibaf menegaskan bahwa jika Presiden Amerika Serikat benar-benar merealisasikan ancaman militernya, maka Iran akan menganggap pangkalan militer AS dan Israel sebagai “sasaran yang sah”. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang parlemen di Teheran, Minggu.

Matilah Amerika!

— Mohammad Bagher Ghalibaf, anggota parlemen Iran, Minggu (11/1/2026).

Ketegangan ini terjadi di tengah kekhawatiran meningkatnya unjuk rasa di dalam negeri Iran. Selain itu, sejumlah pihak anti-pemerintah Iran juga menyatakan kekhawatiran atas pemutusan akses internet. Menurut mereka pemadaman informasi dapat mendorong kelompok garis keras di dalam Dinas Keamanan Iran untuk melancarkan penindakan brutal terhadap demonstran.

Lembaga pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency, menyebut aksi protes di Iran terus meluas. Penindakan atas aksi unjuk rasa itu diklaim telah menyebabkan banyak korban jiwa dan penangkapan massal.

Berdasarkan laporan lembaga tersebut, sebanyak 116 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 2.600 orang ditahan aparat keamanan Iran.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa pihak pasukan keamanan Iran juga menjadi korban akibat kebrutalan pengunjuk rasa.

Meski demikian, media Iran menegaskan bahwa situasi negara masih terkendali. Mereka juga melaporkan bahwa aksi protes terus berlanjut hingga Minggu pagi, dengan titik-titik demonstrasi dilaporkan terjadi di Teheran dan Mashhad, di wilayah timur laut Iran.

Pemerintah Iran dilaporkan akan melakukan penindakan keras terhadap pengunjuk rasa yang melakukan kerusuhan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, secara terbuka memperingatkan bahwa siapa pun yang ikut serta dalam demonstrasi akan dianggap sebagai musuh. 

Dalam pernyataan yang sama, televisi pemerintah Iran juga menyebut bahwa individu atau pihak yang membantu para perusuh akan menghadapi tuntutan hukum serupa.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.