- • Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menggelar latihan militer di Selat Hormuz untuk menghadapi potensi ancaman keamanan.
- • Latihan berlangsung di Pulau Abu Musa dan melibatkan drone serta unit rudal jarak jauh.
- • Kegiatan militer dilakukan menjelang dialog Iran–Amerika Serikat di Jenewa yang dimediasi Oman.
INFORMASI.COM, Jakarta - Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps memulai latihan militer di Selat Hormuz pada Senin (16/2/2026). Latihan tersebut disebut bertujuan menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di kawasan.
Kegiatan militer itu berlangsung setelah Amerika Serikat mengerahkan armada Angkatan Lautnya di sekitar wilayah tersebut.
Latihan dipimpin Jenderal Mohammad Pakpour dan dipusatkan di Pulau Abu Musa, wilayah paling selatan Iran. Latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan reaksi cepat pasukan IRGC.
Menurut laporan televisi pemerintah Iran, pulau tersebut menjadi markas salah satu unit pasukan tempur yang diklaim mampu bertahan tanpa bantuan dari Teheran. Unit itu juga disebut memiliki sistem rudal yang dapat menjangkau target hingga 1.000 kilometer.
“ Tujuannya untuk menciptakan benteng yang tangguh di sekitar pulau. ”
— Mohammad Pakpour, jenderal yang memimpin latihan IRGC di Pulau Abu Musa, kepada televisi pemerintah Iran, Senin (16/2/2026).
Latihan tersebut melibatkan penggunaan drone, namun detail operasional tidak ditampilkan karena alasan keamanan.
Sementara itu, pejabat Angkatan Laut Iran Mohammad Akbarzadeh menyampaikan peringatan terkait keberadaan kapal asing di kawasan tersebut.
“Kapal-kapal asing berada di bawah pengawasan, dan dalam jangkauan kekuatan pertahanan kami,” kata Akbarzadeh. “Angkatan Bersenjata kami sudah siap, kami memonitor pergerakan kapal, dan tak akan menghiraukan ancaman apa pun."
Latihan militer itu dimulai sehari sebelum Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berdialog di Jenewa pada Selasa (17/2/2026). Dialog tersebut dimediasi oleh Oman untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Ketegangan meningkat setelah serangkaian ancaman dari Presiden Donald Trump serta kehadiran gugus tugas tempur Angkatan Laut AS di kawasan, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal selam, dan kapal penjelajah.
Pertemuan di Jenewa melanjutkan negosiasi yang sebelumnya berlangsung pada 6 Februari 2026 di Oman. Dialog tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi kedua negara setelah konflik yang dikenal sebagai Perang 12 Hari dengan Israel dan serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran.