- • Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari.
- • Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian tersebut pada Minggu dini hari, setelah Presiden AS Donald Trump lebih dulu mengumumkannya.
- • Serangan itu terjadi di tengah perang terbuka Iran-Israel yang berlangsung hampir dua pekan dan memicu ketidakpastian baru di Teheran.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat. Khamenei meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah serangan menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu, 28 Februari.
Media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar tersebut pada Minggu dini hari. Konfirmasi itu muncul beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Khamenei telah terbunuh dalam serangan udara bersama AS-Israel.
“Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada Sabtu pagi, 28 Februari," Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan.
Media pemerintah Iran juga menyatakan bahwa putri, menantu laki-laki, dan cucu Khamenei turut tewas dalam serangan tersebut.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak dapat lolos dari intelijen Amerika Serikat dan sistem pelacakan canggih.”
Awal Hidup dan Pendidikan
Ayatollah Ayatollah Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran, dari keluarga ulama yang sederhana.
Ia berasal dari keluarga ulama terpandang. Ayahnya merupakan seorang pemuka agama Muslim yang dikenal luas, sementara keluarganya memiliki latar belakang etnis Azerbaijan.
Keluarga Khamenei awalnya bermukim di Tabriz, wilayah barat laut Iran yang menjadi pusat komunitas Azerbaijan Iran, sebelum kemudian menetap di Mashhad. Ayahnya memimpin sebuah masjid komunitas Azerbaijan di kota tersebut.
Identitas etnis Azerbaijan ini memiliki arti penting dalam lanskap sosial Iran. Komunitas Azerbaijan merupakan kelompok etnis terbesar kedua di Iran setelah Persia. Keberadaan Khamenei sebagai figur tertinggi negara dengan latar belakang tersebut menunjukkan kompleksitas struktur etnis dalam Republik Islam, meskipun ia selalu menempatkan identitas revolusi dan nasionalisme Iran di atas afiliasi etnis.
Ia kemudian melanjutkan studi teologi di kota suci Qom, pusat pendidikan agama Syi’ah di Iran. Di sana, Khamenei belajar dari para ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini yang kelak menjadi mentor dan tokoh sentral Revolusi Islam Iran.
Sejak awal 1960-an, Khamenei aktif dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia beberapa kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK karena aktivitas politiknya yang anti-monarki. Situasi ini membentuk sikap politiknya yang keras terhadap pengaruh Barat dalam negeri Iran.
Setelah kemenangan Revolusi Islam 1979, ia diangkat menjadi anggota Dewan Revolusi Islam yang berperan penting dalam menstruktur ulang pemerintahan baru. Ia kemudian menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, tokoh militer penting, dan imam salat Jumat di Teheran – posisi signifikan secara politik dan sosial.
Pada 1981, Khamenei dipilih menjadi Presiden Iran setelah Presiden Mohammad-Ali Rajai dibunuh. Ia kemudian menjabat dua periode sebagai presiden. Pada tahun yang sama saat terpilih, ia selamat dari percobaan pembunuhan dengan bom, yang membuat lengan kanannya lumpuh permanen.
Sebagai presiden, ia menjalani masa perang Iran–Irak (1980–1988), konflik berdarah yang mempengaruhi pandangan politik dan strateginya soal pertahanan nasional.
Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, lembaga Majelis Ahli memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, jabatan tertinggi dalam sistem politik Iran. Untuk memungkinkan pilihan itu, konstitusi sempat direvisi karena Khamenei pada waktu itu tidak secara formal memenuhi syarat tertinggi ulama.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia menguasai semua cabang pemerintahan, termasuk legislatif, eksekutif, dan yudikatif, serta pangkat militer tertinggi sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran.
Khamenei dikenal memperkuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi kekuatan keamanan, politik dan ekonomi yang menentukan arah kebijakan dalam dan luar negeri Iran. Pengaruh IRGC ini turut memperluas jaringan pengaruh Tehran di kawasan melalui dukungan terhadap sekutu seperti Hezbollah (Lebanon), Hamas (Palestina), kelompok milisi di Irak, dan Houthi (Yaman).
Di dalam negeri, kepemimpinannya sering menghadapi protes besar yang menuntut reformasi, termasuk protes menentang hasil pemilu 2009 dan protes nasional terkait kasus sosial seperti pada tahun 2022. Pemerintahannya merespons protes tersebut dengan keras, sering kali menyebabkan bentrokan dan korban jiwa.
Perjalanan Politik Sejak Revolusi 1979
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh revolusi yang menggulingkan monarki Pahlavi pada 1979. Sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei memimpin Iran sebagai presiden selama perang berdarah dengan Irak pada dekade 1980-an.
Khamenei terus memposisikan Iran sebagai kekuatan anti-Barat, terutama terhadap Amerika Serikat dan Israel, dalam isu politik dan militer. Selama masa jabatannya, Iran mengembangkan program nuklir yang menjadi sumber ketegangan internasional dan sanksi luas dari negara-negara Barat.
Meskipun pada 2015 terjadi kesepakatan nuklir (JCPOA) yang sempat meredakan ketegangan, hubungan dengan Barat kembali tegang setelah penarikan AS dari perjanjian tersebut.
Sebagai pemimpin selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi simbol struktur kekuasaan teokratis yang kuat di Iran. Ia tidak hanya mempengaruhi kebijakan dalam negeri dan luar negeri Iran, tetapi juga membentuk karakter rezim melalui dominasi militer dan ideologis terhadap sistem politik.
Kematian Khamenei pada Februari 2026 menandai berakhirnya era politik yang penuh kontroversi dan ketegangan domestik serta global, membuka pertanyaan besar tentang masa depan politik Republik Islam Iran.
Perang Iran-Irak membentuk pandangan politiknya. Konflik itu menewaskan lebih dari satu juta orang dan menghancurkan perekonomian negara. Banyak warga Iran menilai negara-negara Barat mendukung Saddam Hussein pada masa itu. Kondisi tersebut memperdalam kecurigaan Khamenei terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.
Tantangan Internal dan Represi
Kepemimpinan Khamenei menghadapi sejumlah ujian besar. Pada 2009, demonstrasi besar meletus setelah hasil pemilihan presiden yang disengketakan. Ribuan orang ditangkap dan puluhan tewas menurut Amnesty International.
Pada 2019, protes kembali terjadi setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar. Amnesty International menyatakan lebih dari 100 orang tewas dalam penindakan tersebut. Khamenei menyebut para pengunjuk rasa sebagai “preman” dan menuduh musuh asing memicu kerusuhan.
Gelombang protes nasional kembali terjadi pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi terkait dugaan pelanggaran aturan hijab. Amnesty International melaporkan lebih dari 500 orang tewas dalam penanganan demonstrasi itu.
Di tengah tekanan sanksi dan krisis ekonomi, Iran sempat mencapai kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada 2018. Iran kemudian meningkatkan pengayaan uranium hingga 60 persen, meski pemerintah Iran menyatakan program nuklirnya murni untuk tujuan sipil. Pada 2003, Khamenei mengeluarkan fatwa yang melarang pembuatan, penggunaan, dan penyimpanan senjata nuklir.
Perang Terbuka dan Serangan Terakhir
Ketegangan meningkat tajam setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Konflik meluas ke Gaza, Lebanon, dan Suriah. Israel kemudian menyerang sejumlah target Iran pada 13 Juni 2025, termasuk fasilitas nuklir dan infrastruktur militer.
Iran membalas dengan rentetan rudal ke Tel Aviv. Perang terbuka berlangsung hampir dua pekan. Amerika Serikat menjatuhkan bom penghancur bunker ke tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan membunuh Khamenei, sementara Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat.”
Khamenei merespons dengan pernyataan keras. Ia mengatakan, “Orang-orang cerdas yang mengenal Iran dan sejarahnya tidak akan pernah berbicara kepada bangsa ini dengan bahasa ancaman karena bangsa Iran tidak akan menyerah, dan orang-orang Amerika harus tahu bahwa setiap intervensi militer Amerika Serikat pasti akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.”
Pada 28 Februari, Trump mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar” di Iran. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran. Ia mengatakan, “Saat kebebasan Anda sudah di depan mata.” Ia menambahkan, “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda untuk diambil. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi.”
Trump juga menyatakan, “Saya bersedia melakukan” apa yang belum pernah dilakukan presiden Amerika sebelumnya. Ia menutup dengan kalimat, “Jadi mari kita lihat bagaimana Anda merespons.”
Kematian Khamenei terjadi saat Iran berada di persimpangan sejarah. Negosiasi baru antara Teheran dan Washington sebelumnya tidak mencapai terobosan. Amerika Serikat menuntut pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran dan penghentian dukungan terhadap sekutu regional, sementara Iran menolak membahas rudal dan jaringan aliansinya.
Dengan wafatnya pemimpin yang berkuasa lebih dari tiga dekade itu, masa depan politik Iran kini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.