- • Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara AS-Israel mendorong Teheran ke fase transisi kekuasaan.
- • Konstitusi Iran mengatur mekanisme pemilihan Pemimpin Tertinggi melalui Majelis Ahli dan dewan sementara.
- • Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat, mulai dari Mojtaba Khamenei hingga Hassan Khomeini.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, yang dikonfirmasi pada Minggu (1/3/2026), menempatkan Iran pada titik krusial. Setelah 36 tahun berkuasa, kematian pemimpin tertinggi berusia 86 tahun itu memaksa elite ulama Iran memulai proses suksesi di tengah situasi perang.
Serangan yang terjadi pada Sabtu juga menewaskan sejumlah pejabat senior yang dekat dengan Khamenei. Di antara mereka terdapat penasihat keamanan utama Ali Shamkani dan panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour.
Pemerintah Iran menyatakan akan membalas pembunuhan tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan agar Iran tidak melakukan serangan balasan dan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan berlanjut.
Serangan itu terjadi ketika diplomat senior Iran menunggu putaran perundingan berikutnya pada Senin untuk mengunci kesepakatan dengan Trump, termasuk soal pembatasan ambisi nuklir dan upaya menghindari konflik bersenjata.
Bagaimana Pemimpin Tertinggi Iran Dipilih?
Konstitusi Iran menetapkan bahwa Pemimpin Tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang dipilih publik setiap delapan tahun.
Calon anggota Majelis Ahli harus melalui proses verifikasi dan persetujuan Dewan Garda, lembaga pengawas kuat yang sebagian anggotanya ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi.
Jika jabatan kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan bersidang untuk memilih pengganti. Mayoritas sederhana sudah cukup untuk mengangkat Pemimpin Tertinggi baru.
Konstitusi mensyaratkan kandidat sebagai ahli hukum Islam senior yang menguasai fikih Syiah, serta memiliki penilaian politik, keberanian, dan kemampuan administratif.
Sebelumnya, proses transisi hanya pernah terjadi satu kali, yakni ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989.
Siapa Mengisi Kekosongan Sementara?
Pasal 111 Konstitusi Iran mengatur pembentukan dewan sementara hingga pemimpin baru terpilih. Media Iran melaporkan dewan tersebut terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan seorang ulama dari Dewan Garda.
Ketiganya akan menjalankan fungsi kepala negara hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin definitif.
Ali Larijani, pejabat keamanan Iran sekaligus orang dekat Khamenei, menyatakan bahwa proses transisi telah berjalan.
Luciano Zaccara, profesor riset politik Teluk di Universitas Qatar, mengatakan kepada Al Jazeera, “Trump ingin mendapatkan kesepakatan terbaik yang mungkin, tetapi metode yang ia gunakan untuk mendapatkan kesepakatan itu adalah dengan memusnahkan atau menghancurkan sebanyak mungkin.” Ia menambahkan, “Ini adalah cara untuk memaksakan syarat, bukan untuk merundingkan apa pun. Trump menginginkan penyerahan rezim, bukan perubahan.”
Zaccara juga menyatakan bahwa struktur kekuasaan telah dipersiapkan untuk menghindari kekosongan. Ia mengatakan, “Strukturnya tetap ada, garis kekuasaan dan garis komando tetap berada di tempatnya.”
Posisi Strategis Pemimpin Tertinggi
Pemimpin Tertinggi merupakan jabatan tertinggi dalam hierarki politik dan keagamaan Republik Islam. Ia bertindak sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, pengambil keputusan final negara, serta pengangkat pejabat kunci di bidang yudisial, militer, dan media.
Ia juga memimpin Garda Revolusi yang berperan dalam poros perlawanan Republik Islam Iran.
Daftar Kandidat Pengganti Khamenei
Berikut sejumlah nama yang disebut sebagai calon kuat:
1. Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Khamenei. Ia memiliki pengaruh signifikan di kalangan administrator dan IRGC.
Namun, garis keturunan menjadi hambatan politik. Suksesi ayah-ke-anak dipandang sensitif di Iran, terutama setelah monarki Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat digulingkan pada 1979.
2. Alireza Arafi
Alireza Arafi berusia 67 tahun dan menjabat wakil ketua Majelis Ahli. Ia juga anggota Dewan Garda dan imam salat Jumat di Qom.
Media pemerintah melaporkan bahwa Arafi ditunjuk sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Iran, lembaga yang menjalankan fungsi Pemimpin Tertinggi hingga pemilihan selesai.
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri
Mohammad Mehdi Mirbagheri dikenal sebagai ulama ultra-garis keras dan anggota Majelis Ahli. Ia memimpin Akademi Ilmu-Ilmu Islam di Qom dan dikenal dengan pandangan anti-Barat yang tegas.
4. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei saat ini menjabat kepala yudikatif Iran sejak Juli 2021 atas penunjukan Khamenei. Ia sebelumnya menjadi Menteri Intelijen (2005–2009), Jaksa Agung, dan Wakil Ketua Mahkamah Agung.
5. Hassan Khomeini
Hassan Khomeini merupakan cucu pendiri Republik Islam. Ia dikenal memiliki pandangan reformis dan lebih moderat. Pada 2016, Dewan Garda mendiskualifikasinya saat ia mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli.