Apakah Republik Islam Iran Bakal Runtuh Setelah Ayatollah Ali Khamenei Tewas?

Apakah Republik Islam Iran Bakal Runtuh Setelah Ayatollah Ali Khamenei Tewas?
Seorang wanita mengibarkan bendera Iran dalam unjuk rasa mendukung pemerintahan Iran di Teheran, Senin (12/1/2026).
Ikhtisar
  • Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu gejolak politik di Teheran.
  • Pemerintah Iran segera membentuk dewan kepemimpinan sementara, menandakan aktivasi mekanisme kelangsungan sistem.
  • Analis menilai Iran tidak serta-merta runtuh, tetapi berisiko berubah menjadi negara yang lebih militeristik dan agresif.

INFORMASI.COM, Jakarta - Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, pada Sabtu (28/2/2026) dan Minggu (1/3/2026), mengguncang struktur kekuasaan Iran. Peristiwa ini menjadi pukulan terbesar bagi kepemimpinan negara tersebut sejak Revolusi Islam 1979.

Serangan tersebut memicu aksi protes dari para pendukung Khamenei. Pada Minggu (1/3/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pembalasan atas kematian Khamenei dan pejabat senior lainnya merupakan “kewajiban dan hak yang sah” negara.

Di Washington, Presiden Donald Trump menggambarkan operasi tersebut sebagai momen “pembebasan”.

Ia memprediksi penghilangan “kepala” akan membuat “tubuh” sistem runtuh dengan cepat. Namun, dinamika di dalam Iran menunjukkan situasi yang jauh lebih kompleks.

Transisi Cepat dan Aktivasi Protokol Darurat

Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Pasca-serangan, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan proses transisi kepemimpinan akan dimulai pada Minggu.

"Dewan kepemimpinan sementara akan segera dibentuk. Presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ahli hukum dari Dewan Garda akan memikul tanggung jawab hingga pemilihan pemimpin berikutnya. Dewan ini akan dibentuk sesegera mungkin. Kami sedang bekerja untuk membentuknya sedini mungkin hari ini," kata Larjani.

Pembentukan cepat dewan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme keberlanjutan sistem telah diaktifkan. Analis politik yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, menyebut sistem Iran dirancang bersifat “institusional, bukan personal”, sehingga dapat berjalan secara “autopilot” meski kepemimpinan politik terputus.

Namun, serangan tersebut mengeliminasi lapisan teratas keamanan Iran, termasuk penasihat Khamenei sekaligus sekretaris Dewan Pertahanan Tertinggi yang baru dibentuk, Ali Shamkhani.

Batas Strategi “Decapitation”

Operasi militer Amerika Serikat bertumpu pada asumsi bahwa Iran tidak cukup kuat bertahan tanpa pemimpin tertinggi. Dalam wawancara telepon dengan CBS News, Trump mengklaim dirinya “tahu persis” siapa yang mengendalikan situasi di Teheran dan menyebut “ada beberapa kandidat yang baik” untuk menggantikan pemimpin tertinggi, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Namun, analis militer memperingatkan bahwa serangan udara tidak otomatis menghasilkan perubahan rezim.

“Anda tidak dapat memfasilitasi perubahan rezim hanya melalui serangan udara. Jika masih ada seseorang yang hidup untuk berbicara, rezim itu masih ada," ujar Michael Mulroy, mantan deputi asisten menteri pertahanan Amerika Serikat.

Ketahanan ini bersumber dari struktur militer ganda Iran. Pemerintah tidak hanya dilindungi oleh tentara reguler (Artesh), tetapi juga oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer paralel yang secara konstitusional bertugas melindungi sistem velayat-e faqih.

Pasukan tersebut didukung oleh Basij, milisi paramiliter sukarela yang tersebar di berbagai lingkungan dan dilatih untuk menekan perbedaan pendapat di dalam negeri.Meski demikian, stabilitas itu kini diuji.

Abas Aslani, peneliti senior di Center for Middle East Strategic Studies, mengatakan bahwa para pejabat di Teheran sedang berupaya menampilkan kesan stabil dengan menekankan situasi tetap berada di bawah kendali dan institusi negara masih berfungsi secara efektif, seperti dikutip Al Jazeera.

Ia menjelaskan bahwa pada hari tersebut serangan udara Amerika Serikat dan Israel menyasar infrastruktur keamanan serta militer di ibu kota Teheran dan sejumlah kota lain. Ia menambahkan terdapat ekspektasi bahwa serangan serupa dapat terus berlanjut dan bahkan meningkat dalam beberapa jam atau hari mendatang.

Aslani juga menyampaikan bahwa prospek eskalasi tidak disambut baik oleh banyak warga Iran. Namun, pada saat yang sama, para pejabat Iran mengeluarkan peringatan keras yang menyiratkan kemungkinan respons dengan kemampuan militer yang sebelumnya belum pernah digunakan terhadap Israel maupun Amerika Serikat.

Bangun Solidaritas Nasional

Pasca-kematian Khamenei, pemerintah Iran mengubah narasi perang. Otoritas tidak lagi menekankan pembelaan terhadap ulama, tetapi menggarisbawahi perlindungan integritas wilayah negara.

Larijani memperingatkan bahwa tujuan akhir Israel adalah “pembagian” Iran. Pernyataan tersebut berupaya membangun solidaritas nasional, termasuk di kalangan sekuler dan oposisi, dengan menonjolkan ancaman eksternal.

Sosiolog politik Saleh al-Mutairi menilai deklarasi 40 hari berkabung nasional menciptakan “jebakan pemakaman” bagi oposisi. Ia memperkirakan jutaan pelayat akan memenuhi jalanan, sehingga menyulitkan protes antarpemerintah berkembang dalam waktu dekat.

Akhir Doktrin “Kesabaran Strategis”

Selama bertahun-tahun, Khamenei mendorong doktrin “kesabaran strategis” dengan menyerap tekanan untuk menghindari perang terbuka. Namun, sejumlah pengamat menilai doktrin itu berakhir bersamaan dengan kematiannya.

 “Iran belajar pelajaran keras dari perang Juni 2025: Penahanan diri ditafsirkan sebagai kelemahan. Keputusan telah dibuat. Jika diserang, Iran akan membakar segalanya,” ujar Hassan Ahmadian, profesor di Universitas Teheran.

Pernyataan tersebut mengindikasikan kemungkinan kebijakan yang lebih konfrontatif. Liqaa Maki, peneliti senior di Al Jazeera Centre for Studies, menyebut pembunuhan itu sebagai kegagalan intelijen yang katastrofik.

“Orang beriman tidak digigit dari lubang yang sama dua kali, namun Iran telah digigit dua kali,” kata Maki.

Ia menyatakan kondisi “paparan total” itu dapat mendorong kepemimpinan yang tersisa bergerak ke bawah tanah dan mengubah Iran menjadi negara hiper-keamanan yang memandang perbedaan pendapat internal sebagai kolaborasi dengan pihak asing.

Meski “kepala” telah dihilangkan, Maki menekankan “tubuh” Iran tetap berdiri dengan salah satu arsenal rudal terbesar di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat skenario runtuhnya rezim dalam waktu singkat menjadi jauh dari pasti, sekaligus membuka kemungkinan babak baru yang lebih keras dalam politik dan militer Iran.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.