Iran Pilih Pemimpin Tertinggi Baru dalam 1-2 Hari Usai Khamenei Wafat, Ini Mekanismenya!

Iran Pilih Pemimpin Tertinggi Baru dalam 1-2 Hari Usai Khamenei Wafat, Ini Mekanismenya!
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang tewas dalam serangan Israel dan AS, Sabtu (28/2/2026).
Ikhtisar
  • Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pemimpin tertinggi baru bisa terpilih dalam satu hingga dua hari.
  • Dewan transisi tiga anggota telah dibentuk dan mulai bekerja selama masa berkabung 40 hari.
  • Iran menegaskan pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional dan menolak klaim kemenangan AS-Israel.

INFORMASI.COM, Jakarta - Iran bergerak cepat mengaktifkan mekanisme suksesi nasional setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah menyatakan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru dapat berlangsung dalam waktu sangat singkat, bahkan satu hingga dua hari.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan mesin konstitusional negara sudah berjalan. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera saat Iran masih terlibat baku tembak dengan Israel dan Amerika Serikat, ia memastikan transisi kepemimpinan telah dimulai.

“Dewan transisi telah dibentuk,” kata Araghchi kepada  Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan badan tersebut terdiri dari presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ahli hukum dari Dewan Garda.

“Kelompok yang terdiri dari tiga orang ini akan bertindak sebagai penanggung jawab kepemimpinan sebelum pemimpin baru terpilih. Saya berasumsi bahwa ini akan memakan waktu singkat. Mungkin dalam satu atau dua hari, mereka akan memilih pemimpin baru bagi negara,” kata Menlu Iran merujuk pada badan terpisah yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi.

Konstitusi Iran mengatur proses pemilihan pengganti pemimpin tertinggi. Majelis ulama yang beranggotakan 88 orang dan dipilih langsung oleh rakyat memiliki kewenangan menunjuk pemimpin baru melalui suara mayoritas sederhana.

Proses serupa terakhir terjadi pada 1989 ketika Khamenei, yang saat itu relatif junior, diangkat menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini setelah wafatnya pendiri Revolusi Islam tersebut.

Presiden Konfirmasi Dewan Mulai Bekerja

Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Minggu, mengonfirmasi bahwa dewan tersebut telah mulai bekerja. Dalam pidato rekaman yang ditayangkan televisi pemerintah, ia menyatakan dewan “telah memulai pekerjaannya.”

Pezeshkian juga mengecam pembunuhan Khamenei sebagai “kejahatan besar” dan menetapkan tujuh hari hari libur nasional di samping masa berkabung 40 hari.

Khamenei, 86 tahun, tewas pada Sabtu dalam gelombang serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sedikitnya 201 orang di seluruh Iran, menurut layanan darurat Iran. Korban tewas termasuk pejabat senior keamanan serta anggota keluarga Khamenei, yaitu putrinya, menantu laki-lakinya, dan cucunya.

Araghchi menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan yang “benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dan pelanggaran besar terhadap hukum internasional”. Ia memperingatkan bahwa peristiwa itu membuat konflik “menjadi lebih berbahaya dan lebih rumit”.

Ia menegaskan Khamenei bukan hanya pemimpin politik Iran, tetapi seorang pemimpin agama tingkat tinggi bagi jutaan Muslim Syiah, bahkan di luar Iran, di seluruh kawasan.

Menlu Iran pun memberi gambaran protes yang muncul di Irak, Pakistan, dan negara lain tempat Khamenei memiliki pengikut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidato televisi menyampaikan kemarahan serupa.

“Anda telah melintasi garis merah kami dan harus membayar harganya. Iran akan melancarkan pukulan yang begitu menghancurkan sehingga kalian sendiri akan terdorong untuk memohon,” kata Mohammad Bagher Ghalibaf.

Iran Tolak Klaim Keberhasilan Serangan AS-Israel

Araghchi menolak anggapan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel telah mencapai tujuan strategisnya.

“Tidak ada kemenangan dalam perang ini. Mereka belum mampu mencapai target mereka, dan mereka tidak akan mampu mencapai target mereka dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Ia membandingkan situasi saat ini dengan perang 12 hari pada Juni lalu antara Israel dan Iran yang sempat melibatkan Amerika Serikat.

“Mereka mengharapkan bahwa dalam dua atau tiga hari Iran akan menyerah dan tunduk. Tetapi dibutuhkan 12 hari bagi mereka untuk memahami bahwa Iran tidak menyerah, dan bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain meminta gencatan senjata tanpa syarat. Saya tidak melihat perbedaan antara kali ini dan waktu sebelumnya,” ujar Araghchi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa setiap pembalasan hanya akan memicu eskalasi lebih lanjut.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.