- • Serangan rudal Iran ke Doha, Dubai, Manama, hingga Riyadh merusak citra kawasan Teluk dan Jazirah Arab.
- • Kawasan yang sebelumnya disebut stabil dan tempat aman untuk berinvestasi, kini berubah.
- • Negara-negara Teluk pun menghadapi dilema usai diserang diserang Iran; membalas dan bertahan?
INFORMASI.COM, Jakarta - Rudal Iran yang menghantam Doha, Dubai, Kuwait, hingga Manama sejak akhir pekan lalu tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur. Rudal-rudal Iran telah mengguncang fondasi reputasi negara-negara Teluk sebagai “oase stabilitas” di kawasan yang sarat konflik.
Citra sebagai negara kaya yang terbuka terhadap berbagai investasi dan kehidupan mewah kini diuji. Tapi, itu bukan jadi misteri jika mengingat mereka adalah tangan dan kaki Amerika Serikat di Asia Barat.
Serangan Iran diluncurkan ke sejumlah wilayah tetangganya sebagai balasan dan upaya defensif atas serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026).
Terlebih, operasi AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah pemimpin militer senior, serta menghantam fasilitas militer dan pemerintahan di Iran. Bahkan, sebuah sekolah di Iran terkena bom dan sedikitnya 148 orang, sebagian besar anak-anak, tewas dalam serangan tersebut.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan itu menewaskan sedikitnya tiga orang di Uni Emirat Arab dan melukai sedikitnya 58 orang hingga Minggu malam. Proyektil atau puing hasil pencegatan menghantam bangunan ikonik dan bandara di Dubai, gedung-gedung tinggi di Manama, serta bandara Kuwait. Asap juga terlihat membubung dari sejumlah kawasan di Doha.
Arab Saudi menyatakan Iran turut menyerang Riyadh dan wilayah timurnya. Qatar melaporkan 16 orang terluka di wilayahnya. Oman mencatat lima korban luka, Kuwait 32 orang, dan Bahrain empat orang.
Dilema Negara Teluk: Membalas atau Menahan Diri
Para analis menilai negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) menghadapi pilihan yang sulit: membalas serangan dan berisiko dianggap berperang bersama Israel, atau tetap pasif saat kota-kota mereka menjadi sasaran.
“Bagi masyarakat dan para pemimpin politik di sini, melihat Manama, Doha, dan Dubai dibom sama aneh dan tak terbayangkannya seperti melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dibom bagi warga Amerika,” ucap Monica Marks, profesor politik Timur Tengah di New York University Abu Dhabi, menyatakan kepada Al Jazeera, dikutip Senin (2/3/2026).
Sebelum konflik meledak, Oman memediasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan perdamaian “sudah dalam jangkauan” setelah Iran sepakat untuk tidak pernah menimbun uranium yang diperkaya dan secara drastis mengencerkan cadangan yang ada.
Namun, beberapa jam kemudian, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan rudal.
“Negara-negara GCC telah melihat perang ini datang secara perlahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan telah mengerahkan upaya besar untuk menghentikannya,” kata Marks.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Iran yang terpojok akan memilih fratrikida ('membunuh saudara') dengan menyandera tetangga Teluknya, alih-alih menerima kekalahan sebagai langkah bunuh diri.
Rob Geist Pinfold, dosen di King's College London, menyampaikan pandangan serupa.
“Negara-negara GCC tidak menginginkan perang ini. Mereka mencoba melobi untuk menentangnya.”
Menurut Pinfold, kemungkinan besar negara teluk tidak akan melakukan serangan ofensif terhadap Iran. Jika negara-negara Teluk ikut berperang, justru akan dipersepsikan telah bekerja sama dengan Israel melawan Iran.
Namun, sikap pasif juga membawa risiko. Pinfold menyebut posisi negara Teluk sebagai sebuah teka-teki. Ia mengatakan bahwa tidak melakukan apa pun saat Iran terus menyerang sama merusaknya dengan terlibat langsung dalam perang.
“Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah ini responsif terhadap opini publik. Mereka ingin terlihat melindungi rakyat mereka, melindungi wilayah dan kedaulatan mereka,” Pinfold menerangkan.
Opsi Militer GCC dan Peran Peninsula Shield Force
Pinfold menilai negara Teluk lebih mungkin meluncurkan serangan sendiri, kemungkinan melalui upaya bersama GCC seperti Peninsula Shield Force (PSF), dibanding sekadar membuka wilayah udara bagi operasi Amerika Serikat dan Israel.
PSF merupakan pasukan gabungan yang dibentuk pada 1984 oleh GCC dan berkembang menjadi Komando Militer Terpadu pada 2013.
“Mereka tidak ingin terlihat bekerja untuk Israel atau bekerja dengan Israel,” kata Pinfold. “Mereka ingin terlihat memimpin, bukan sekadar mengikuti.”
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut memungkinkan negara Teluk mengambil kendali setelah berminggu-minggu tersisih dari dinamika konflik.
“Ia adalah Amerika Serikat dan Israel yang memulai perang ini. Iran yang meningkatkannya. Jadi sekarang negara-negara Teluk berada pada posisi untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya pasif, mereka bukan hanya pihak yang dibom,” ujar Pinfold.