INFORMASI.COM, Jakarta - Sebuah resolusi yang dirancang untuk mengekang wewenang perang Presiden Donald Trump terhadap Iran resmi kandas di Senat Amerika Serikat, Rabu (4/3/2026) waktu setempat.
Dalam pemungutan suara yang ketat, resolusi pimpinan Senator Tim Kaine dari Partai Demokrat itu hanya meraih 47 suara dukungan, kalah dari 53 suara yang menolaknya, sehingga gagal untuk dibahas lebih lanjut di lantai Senat.
Meski gagal, proses voting ini mencatatkan dinamika politik yang menarik. Senator John Fetterman dari Pennsylvania menjadi satu-satunya kubu Demokrat yang memisahkan diri dan memilih bersama mayoritas Republik untuk menolak resolusi.
Sebaliknya, Senator Rand Paul dari Kentucky menjadi satu-satunya suara dari kubu Republik yang bergabung dengan Demokrat dalam mendukung upaya pembatasan kewenangan presiden tersebut.
Resolusi yang diajukan Kaine ini secara eksplisit menyerukan penghentian keterlibatan militer Amerika Serikat di dalam atau terhadap Iran.
"Angkatan Bersenjata Amerika Serikat harus ditarik dari permusuhan di dalam atau terhadap Iran, kecuali secara eksplisit diotorisasi oleh deklarasi perang atau otorisasi khusus untuk penggunaan kekuatan militer," demikian bunyi poin utama resolusi tersebut, seperti dikutip dari pernyataan resminya.
Kegagalan di Senat ini diperkirakan akan berlanjut. Kongres atau DPR AS, yang juga tengah membahas resolusi serupa, dijadwalkan untuk memberikan suara pada Kamis (5/3/2026) dan diperkirakan hasilnya akan sama, mayoritas menolaknya.
Serangkaian voting ini merupakan respons langsung atas perintah Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran akhir pekan lalu.
Dalam pidatonya di lantai Senat sebelum pemungutan suara, Kaine dengan lantang menegaskan bahwa apa yang sedang terjadi saat ini sudah memenuhi kriteria sebagai sebuah perang. Ia merujuk pada pernyataan para pejabat tinggi AS sendiri.
"Anda tidak bisa berdiri dan mengatakan ini adalah tusukan jarum yang tidak mencapai level yang bisa dikategorikan sebagai perang. Anda tidak bisa berdiri dan mengatakan ini adalah sekali serang dan selesai, dan tidak ada pasukan yang terlibat dalam permusuhan terhadap Iran," tegas Kaine.
Lebih lanjut, ia mengutip pernyataan langsung dari pucuk pimpinan negara untuk menguatkan argumennya.
"Presiden Amerika Serikat menyebutnya sebagai perang melawan Iran. Kepala Staf Gabungan, Jenderal Caine, menyebutnya sebagai perang melawan Iran. Sekretaris Marco Rubio, Menteri Luar Negeri kita, menyebutnya sebagai perang melawan Iran. Ini adalah perang," ujarnya.
Serangan awal yang dilakukan AS bersama Israel dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah letnan seniornya, serta melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer negara tersebut pada 28 Februari 2026. Meski operasi besar telah dilakukan, Trump tidak memberikan garis waktu yang jelas kapan perang ini akan berakhir.
"Apa pun yang diperlukan," kata Trump pada Senin, merespons pertanyaan mengenai durasi konflik.
Sikap tegas juga datang dari kubu oposisi di Senat. Senator Lindsey Graham dari South Carolina, mantan ketua Komite Angkatan Bersenjata yang diketahui secara pribadi mendesak Trump untuk menyerang Iran, memperingatkan konsekuensi berbahaya jika resolusi Kaine disahkan. Ia berargumen bahwa hal itu akan melumpuhkan kemampuan negara untuk mempertahankan diri di tengah perang.
"Kamu akan memicu sebuah sistem di mana 535 orang, setelah 60 hari, menjadi panglima tertinggi, menghentikan kemampuan bangsa ini untuk mempertahankan dirinya," ujar Graham, merujuk pada jumlah anggota Kongres.
Ia juga menyinggung Undang-Undang Resolusi Kekuasaan Perang tahun 1973 yang mengizinkan presiden untuk terlibat dalam konflik bersenjata selama 60 hari asalkan memberi tahu Kongres dalam waktu 48 jam.
Graham mengingatkan bahwa Kongres tetap memiliki kendali konstitusional melalui anggaran.
"Jika Anda ingin menghentikan perang ini, katakan, 'Kami tidak akan membayarnya.' Saya tidak akan setuju dengan Anda, tapi setidaknya itu akan konstitusional," tandasnya.
Di tengah perdebatan politik di dalam negeri, dampak di lapangan sudah mulai terasa. Sebagai balasan atas serangan tersebut, Iran melancarkan aksi terhadap sekutu Arab Amerika Serikat di kawasan, yang menewaskan enam personel militer AS.
Empat di antaranya telah diidentifikasi sebagai tentara cadangan Angkatan Darat, sementara identitas dua lainnya masih dirahasiakan dan belum dirilis ke publik.