China Diduga Mulai Bantu Iran di Tengah Konflik Melawan AS-Israel

China Diduga Mulai Bantu Iran di Tengah Konflik Melawan AS-Israel
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Presiden China, Xi Jinping. Foto: CGTN
Ikhtisar
  • Laporan CNN International menyebut China diduga mulai memberi dukungan kepada Iran berupa bantuan finansial dan komponen terkait rudal.
  • Pejabat AS memantau perubahan sikap Beijing, yang selama ini menghindari keterlibatan langsung dalam konflik Iran dengan AS dan Israel.
  • Terlebih, China dikenal sebagai pembeli utama minyak mentah Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Laporan terbaru menyebut China kemungkinan mulai bergeser mendukung Iran dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Dukungan tersebut diduga berupa bantuan finansial, pengiriman suku cadang pengganti, serta komponen yang berkaitan dengan sistem rudal.

Media internasional CNN melaporkan pada Jumat (6/3/2026) bahwa informasi tersebut berasal dari tiga sumber yang mengetahui perkembangan situasi tersebut.

Menurut laporan itu, Beijing sejauh ini berupaya menghindari keterlibatan langsung dalam konflik militer antara Iran dan AS-Israel. Namun, para pejabat Amerika Serikat mulai memantau tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan perubahan sikap China.

China memiliki kepentingan strategis dalam hubungan dengan Iran, terutama di sektor energi. Negara tersebut dikenal sebagai pembeli utama minyak mentah Iran.

Selain itu, Beijing secara terpisah juga meminta pemerintah Iran untuk memastikan keamanan jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Seorang sumber intelijen yang mengetahui perkembangan tersebut mengatakan kepada CNN bahwa China sangat berhati-hati dalam memberikan dukungan kepada Iran. Menurut sumber tersebut, konflik yang semakin meluas berpotensi mengancam ketahanan energi China.

Dalam laporan yang sama, CNN juga menyebut Rusia diduga memberikan bantuan intelijen kepada Iran. Dukungan tersebut mencakup pembagian citra satelit dan data penargetan militer, termasuk informasi mengenai posisi dan pergerakan pasukan Amerika Serikat.

Namun, lembaga intelijen Amerika, Central Intelligence Agency (CIA), menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah serangan drone Iran di Kuwait pekan lalu menewaskan enam tentara Amerika Serikat dan melukai sejumlah lainnya.

Sejak konflik meningkat, Iran meluncurkan ribuan drone serang serta ratusan rudal yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat, kedutaan besar, dan sejumlah sasaran sipil.

Di sisi lain, serangan balasan yang dilakukan AS dan Israel dilaporkan telah menghantam lebih dari 2.000 lokasi di wilayah Iran.

Situasi kawasan mulai memanas sejak serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.

Setelah serangan itu, Iran meluncurkan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, dan personel militer di berbagai negara di Timur Tengah.

Serangan tersebut juga menyasar beberapa kota di Israel, dan eskalasi militer di kawasan dilaporkan terus meningkat.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.