Survei: Mayoritas Warga Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris Tolak Serangan AS-Israel ke Iran

Survei: Mayoritas Warga Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris Tolak Serangan AS-Israel ke Iran
Sejumlah warga berunjuk rasa menentang serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari di London, Inggris, Sabtu (7/3/2026).
Ikhtisar
  • Survei di empat negara Eropa menunjukkan mayoritas warga menolak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
  • Tingkat penolakan tertinggi muncul di Spanyol, sementara publik di Jerman juga menunjukkan penurunan kepercayaan terhadap AS dan Israel.

INFORMASI.COM, Jakarta - Sejumlah survei opini publik di berbagai negara Eropa menunjukkan mayoritas warga menolak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Hasil jajak pendapat yang dirilis pada Jumat (6/3/2026) memperlihatkan publik di Spanyol, Italia, Jerman, dan Inggris cenderung menolak intervensi militer dan lebih mendukung sikap hati-hati atau netral dari pemerintah masing-masing.

Di Spanyol, survei cepat yang dilakukan lembaga riset 40dB untuk surat kabar El Pais dan stasiun radio Cadena SER menemukan sekitar 68 persen responden menolak serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Survei yang sama juga menunjukkan 57 persen responden mendukung keputusan pemerintah Spanyol untuk tidak memberikan dukungan militer kepada kedua negara tersebut. Selain itu, 53 persen responden menyatakan AS seharusnya tidak diizinkan menggunakan pangkalan militer di Spanyol dalam konflik tersebut.

Dari sisi penilaian terhadap pemerintah, sekitar 42 persen responden menyatakan setuju dengan cara Perdana Menteri Pedro Sanchez menangani krisis. Pada saat yang sama, hampir 80 persen warga mengaku mengikuti perkembangan konflik dengan cermat dan menyatakan kekhawatiran terhadap situasi yang terjadi.

Tren penolakan juga terlihat di Italia. Survei yang dilakukan perusahaan riset YouTrend untuk televisi Sky TG24 menunjukkan 56 persen responden menentang intervensi militer AS dan Israel terhadap Iran.

Namun, hasil survei memperlihatkan perbedaan tajam berdasarkan preferensi politik. Mayoritas pemilih sayap kanan-tengah justru mendukung langkah militer dengan angka sekitar 57 persen. Sebaliknya, penolakan kuat datang dari pemilih sayap kiri-tengah yang mencapai hampir 80 persen.

Dalam hal sikap pemerintah, sekitar 48 persen responden menilai pemerintah Italia seharusnya tetap bersikap netral dan berperan sebagai mediator antara pihak-pihak yang bertikai. Sementara itu, 29 persen responden berpendapat pemerintah perlu mengecam serangan tersebut dan segera menyerukan gencatan senjata.

Di Jerman, survei terbaru yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik ARD menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap AS dan Israel terkait konflik tersebut.

Sebanyak 58 persen responden menilai perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran tidak dapat dibenarkan. Selain itu, sekitar 75 persen responden menyatakan khawatir konflik dapat meluas ke negara lain.

Survei tersebut juga menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat turun menjadi 15 persen, yang merupakan level terendah dalam 20 tahun terakhir. Hanya 17 persen responden yang menganggap Israel sebagai mitra yang dapat diandalkan.

Sebagian besar responden bahkan menilai sistem politik global semakin bergerak menuju situasi di mana “kekuatan menentukan kebenaran.”

Sementara itu di Inggris, jajak pendapat yang dilakukan perusahaan riset dan analisis data YouGov menunjukkan dukungan publik yang terbatas terhadap serangan AS terhadap Iran.

Survei yang dilakukan pada 2 Maret, setelah serangan militer dimulai, menunjukkan 49 persen warga Inggris menentang serangan tersebut, sedangkan 28 persen menyatakan mendukung.

Penolakan juga muncul terkait penggunaan fasilitas militer Inggris. Survei pada akhir Februari menunjukkan 58 persen responden menolak penggunaan pangkalan Angkatan Udara Inggris untuk mendukung serangan AS terhadap Iran.

Bahkan ketika dalam survei lanjutan pada 2 Maret ditambahkan syarat bahwa operasi hanya ditujukan pada sasaran rudal, tingkat penolakan tetap mencapai 50 persen.

Dalam penilaian terhadap sikap pemerintah, 45 persen responden menyatakan pemerintah Inggris seharusnya tidak memuji maupun mengecam serangan tersebut. Sementara itu, 47 persen responden menilai Perdana Menteri Keir Starmer menangani ketegangan AS-Iran dengan buruk, sedangkan 34 persen menyatakan ia menangani situasi tersebut dengan baik.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat militer senior.

Peristiwa itu memicu ketidakstabilan luas di kawasan Timur Tengah dan diikuti oleh serangan balasan dari Iran terhadap sejumlah lokasi yang terkait dengan Amerika Serikat di wilayah tersebut.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.