Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan ke Negara Teluk, Rusia dan China Abstain

Resolusi DK PBB Desak Iran Hentikan Serangan ke Negara Teluk, Rusia dan China Abstain
Ilustrasi Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Ikhtisar
  • Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan terhadap sejumlah negara Teluk, dengan dukungan 13 negara.
  • Rusia dan China memilih abstain, sementara resolusi tersebut tidak menyinggung serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
  • Iran menilai dokumen itu berupaya membalikkan posisi korban dan agresor dalam konflik yang memanas di Asia Barat.

INFORMASI.COM, Jakarta - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Security Council mengadopsi resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk. Resolusi yang dirancang oleh Bahrain tersebut disetujui dalam pemungutan suara pada Rabu (11/3/2026).

Sebanyak 13 negara anggota Dewan memberikan suara mendukung dokumen itu, sementara Rusia dan China memilih abstain.

Resolusi tersebut mengecam serangan Iran terhadap sejumlah negara, yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Yordania. Dokumen itu juga menuntut agar serangan tersebut segera dihentikan.

Namun, laporan koresponden RIA Novosti menyebutkan bahwa resolusi tersebut tidak menyinggung serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dokumen itu juga tidak memuat seruan kepada kedua negara tersebut untuk menghentikan operasi militer mereka.

Sehari sebelum pemungutan suara, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengkritik rancangan resolusi tersebut.

Ia menyatakan bahwa beberapa anggota Dewan Keamanan berupaya mengubah narasi konflik dengan menempatkan pihak yang diserang sebagai agresor.

“Beberapa anggota Dewan berusaha membalikkan peran dan posisi korban dan agresor,” kata Iravani, Selasa (10/3/2026).

Pada Rabu sore, Dewan Keamanan juga dijadwalkan melakukan pemungutan suara terhadap rancangan resolusi lain yang diajukan oleh Rusia. Dokumen tersebut menyerukan gencatan senjata di kawasan Asia Barat.

Deputi Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Anna Evstigneeva mengatakan rancangan resolusi negaranya disusun dengan pendekatan berbeda.

Menurut Evstigneeva, dokumen tersebut bersifat tidak konfrontatif, berbeda dengan rancangan resolusi yang diajukan oleh Bahrain.

Konflik di kawasan itu memanas sejak 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Selain itu, kedua negara juga diduga meledakkan sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan Iran.

Sebagai balasan atas operasi militer tersebut, Iran kemudian meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan Asia Barat.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.