Benarkah Iran Pakai Satelit China? Mengurai Dugaan Peran BeiDou dalam Perang Iran vs AS-Israel

Benarkah Iran Pakai Satelit China? Mengurai Dugaan Peran BeiDou dalam Perang Iran vs AS-Israel
Ilustrasi satelit
Ikhtisar
  • Sejumlah pakar intelijen menduga Iran menggunakan sistem navigasi satelit China, BeiDou.
  • Tak ayal, akurasi misil dan drone Iran lumayan akurat saat menyerang aset AS dan wilayah Israel.
  • Pengamat juga menduga Iran mulai meninggalkan ketergantungan pada sistem GPS milik Amerika Serikat.

INFORMASI.COM, Jakarta - Peningkatan akurasi serangan misil Iran dalam konflik terbaru di Timur Tengah memunculkan spekulasi baru di kalangan analis intelijen. Sejumlah pakar menilai Teheran kemungkinan mulai memanfaatkan sistem navigasi satelit milik China, BeiDou Navigation Satellite System, untuk meningkatkan presisi serangan terhadap target di Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Dugaan ini muncul setelah beberapa serangan terbaru Iran dinilai lebih presisi dibandingkan operasi militer sebelumnya. Mantan direktur intelijen luar negeri Prancis, Alain Juillet, menyebut peningkatan akurasi itu sebagai salah satu kejutan dalam konflik terbaru.

“Salah satu kejutan dalam perang ini adalah bahwa misil Iran lebih akurat dibandingkan dengan perang yang terjadi delapan bulan lalu, sehingga memunculkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu dari misil-misil tersebut,” kata Juillet dalam wawancara dengan podcast independen Prancis, Tocsin, beberapa waktu lalu.

Dugaan Peralihan dari GPS AS ke BeiDou

Selama bertahun-tahun, militer Iran diyakini memanfaatkan sistem navigasi satelit Amerika Serikat, Global Positioning System (GPS), untuk membantu sistem panduan senjata. Namun sistem tersebut berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat, yang secara teknis dapat membatasi atau mengganggu akses pihak tertentu.

Dalam kondisi konflik, kemampuan tersebut membuat GPS menjadi sistem yang rentan bagi negara yang berhadapan dengan Washington. Jika Iran beralih ke sistem navigasi lain, kemampuan Amerika Serikat untuk mengganggu sinyal tersebut menjadi jauh lebih terbatas.

Menurut Juillet, salah satu kemungkinan yang menjelaskan peningkatan akurasi misil Iran adalah penggunaan sistem navigasi satelit China.

“Ada pembicaraan tentang mengganti sistem GPS dengan sistem China, yang menjelaskan presisi misil Iran. … Target-target penting telah berhasil dihantam,” ujarnya.

Hingga kini pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai dugaan tersebut.

Apa Itu Sistem Satelit BeiDou?

BeiDou Navigation Satellite System merupakan sistem navigasi satelit global yang dikembangkan China sebagai pesaing GPS. China secara resmi meluncurkan generasi terbaru sistem tersebut pada 2020.

Presiden China Xi Jinping meresmikan sistem tersebut dalam sebuah upacara di Great Hall of the People pada Juli 2020.

China mulai mengembangkan sistem navigasi satelitnya sendiri setelah krisis Taiwan pada 1996. Saat itu Beijing khawatir Washington dapat membatasi akses China terhadap GPS pada masa depan.

Secara teknis, sistem navigasi satelit bekerja dengan mengirimkan sinyal waktu dari satelit ke penerima di darat atau pada kendaraan. Dengan menghitung waktu tempuh sinyal dari beberapa satelit, perangkat penerima dapat menentukan posisi geografis secara presisi.

Salah satu keunggulan BeiDou adalah jumlah satelitnya yang lebih banyak dibandingkan beberapa sistem navigasi global lainnya. Sistem ini menggunakan sekitar 45 satelit, sementara GPS menggunakan sekitar 24 satelit. Sistem navigasi global lainnya meliputi GLONASS milik Rusia dan Galileo milik Uni Eropa.

Mengapa Sistem Ini Penting dalam Perang Modern?

Analis militer yang berbasis di Brussel, Elijah Magnier, menjelaskan bahwa akurasi navigasi satelit sangat menentukan presisi senjata modern.

“Akurasi bervariasi tergantung pada tingkat layanan. Sinyal sipil terbuka biasanya memberikan akurasi posisi sekitar lima hingga sepuluh meter, sementara layanan terbatas yang tersedia bagi pengguna yang diotorisasi dapat memberikan presisi yang jauh lebih tinggi,” kata Magnier, seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (16/3/2026).

Dalam sistem senjata modern, navigasi satelit biasanya bekerja bersama navigasi inersia yang terdapat di dalam misil atau drone. Sistem inersia menggunakan sensor seperti giroskop dan akselerometer untuk menghitung posisi berdasarkan gerakan.

“Biasanya, sebuah misil menggunakan navigasi inersia untuk mempertahankan lintasan umum, sementara sinyal satelit memperbaiki jalur dan meningkatkan presisi penargetan. Pendekatan ini menghasilkan peningkatan akurasi yang signifikan,” ujar Magnier.

Kerja Sama Teknologi Iran dan China

Sejumlah peneliti menilai kerja sama navigasi satelit antara Iran dan China telah berlangsung selama bertahun-tahun. Peneliti hubungan China–Iran dari ChinaMed Project, Theo Nencini, menyebut Iran dilaporkan menandatangani nota kesepahaman pada 2015 untuk mengintegrasikan sistem BeiDou ke dalam infrastruktur militernya.

“Pada 2015, Iran dilaporkan menandatangani nota kesepahaman untuk mengintegrasikan BeiDou-2 ke dalam infrastruktur militernya – khususnya untuk meningkatkan panduan misil dengan sinyal yang jauh lebih akurat dibandingkan yang disediakan oleh sistem GPS sipil yang sebelumnya digunakan oleh angkatan bersenjatanya,” kata Nencini.

Menurutnya, proses integrasi tersebut berlangsung bertahap namun dipercepat setelah China dan Iran menandatangani kemitraan strategis komprehensif pada Maret 2021.

“Sejak saat itu, militer Iran mulai memasukkan BeiDou ke dalam panduan misil dan drone, serta ke dalam beberapa jaringan komunikasi yang aman,” ujarnya.

Dampak bagi Keseimbangan Teknologi Militer

Jika dugaan penggunaan BeiDou oleh Iran terbukti benar, para analis menilai perkembangan tersebut dapat memengaruhi dinamika teknologi militer global.

Magnier mengatakan perkembangan navigasi satelit telah mengubah cara perang modern dilakukan.

“Evolusi navigasi satelit telah mengubah lanskap peperangan modern,” kata Magnier.

“Kemampuan serangan presisi, yang sebelumnya hanya dimiliki oleh segelintir kekuatan militer maju, kini semakin dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur navigasi global. Ketika senjata jarak jauh menjadi lebih akurat dan lebih tahan terhadap gangguan, sistem seperti BeiDou akan terus memainkan peran penting dalam fondasi teknologi konflik kontemporer.”

Perkembangan ini juga dapat mendorong negara-negara lain di kawasan untuk mempertimbangkan penggunaan sistem navigasi selain GPS. Jika tren tersebut berlanjut, dominasi Amerika Serikat dalam infrastruktur navigasi satelit global berpotensi menghadapi tantangan baru.


BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.