- • Investigasi panjang kantor berita Reuters mengklaim telah mengungkap identitas asli seniman grafiti anonim Banksy.
- • Laporan tersebut menyebut Banksy adalah pria asal Bristol bernama Robin Gunningham, kemudian mengganti nama menjadi David Jones.
- • Kuasa hukum Banksy menolak sebagian temuan investigasi Reuters itu.
INFORMASI.COM, Jakarta - Misteri panjang mengenai identitas seniman grafiti anonim Banksy kembali menjadi sorotan setelah investigasi terbaru dari Reuters mengklaim telah menemukan identitas asli sosok di balik karya-karya mural politik yang terkenal di dunia tersebut.
Dalam laporan investigatif berjudul In Search of Banksy yang diterbitkan pada Jumat (13/3/2026), jurnalis Simon Gardner, James Pearson, dan Blake Morrison memaparkan rangkaian penelusuran panjang yang mereka lakukan untuk mengungkap identitas Banksy.
Penelusuran itu melibatkan berbagai sumber dan lokasi, termasuk perjalanan ke Ukraina, tempat Banksy pernah difoto dan bertemu dengan warga setempat. Investigasi juga menelusuri konflik dengan fotografer Jamaika, Peter Dean Rickards, yang disebut pernah mengunggah foto wajah Banksy.
Selain itu, tim Reuters menemukan dokumen dari penangkapan di New York City pada tahun 2000 yang berisi pengakuan tertulis dan ditandatangani tangan.
Bukan Vokalis Massive Attack
Selama bertahun-tahun, sejumlah rumor menyebut identitas Banksy adalah vokalis grup musik Massive Attack, Robert Del Naja. Dugaan tersebut muncul karena pandangan politik Del Naja serta latar belakangnya di dunia grafiti.
Namun laporan Reuters menyimpulkan bahwa dugaan tersebut tidak benar.
Menurut investigasi tersebut, sosok di balik Banksy adalah Robin Gunningham, pria kelahiran Bristol yang disebut kemudian mengganti namanya menjadi David Jones.
Kesimpulan itu juga memperkuat laporan sebelumnya dari media Inggris The Mail on Sunday pada tahun 2008 yang menyebut Gunningham sebagai Banksy.
Investigasi Reuters juga menyebut bahwa ketika Del Naja berada di Ukraina pada tahun 2022, ia tidak sendirian. Laporan tersebut menyebutkan seorang pria lain ikut bersama sang musisi, dan pria itu diyakini sebagai Banksy.
Bantahan dari Kuasa Hukum
Kuasa hukum Banksy, Mark Stephens, membantah sebagian temuan yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Dalam surat kepada Reuters, Stephens menulis bahwa kliennya “tidak menerima bahwa banyak rincian yang terkandung dalam penyelidikan tersebut benar.”
Stephens juga memperingatkan bahwa publikasi laporan tersebut dapat melanggar privasi kliennya.
Ia mengatakan bahwa mempublikasikan temuan tersebut “akan melanggar privasi seniman, mengganggu karyanya, dan menempatkannya dalam bahaya,” serta berpotensi merugikan kepentingan publik.
Dalam surat yang sama, Stephens menegaskan pentingnya anonimitas bagi seniman.
“Bekerja secara anonim atau dengan nama samaran melayani kepentingan sosial yang penting. Hal itu melindungi kebebasan berekspresi dengan memungkinkan para kreator menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan tanpa rasa takut terhadap pembalasan, sensor, atau penganiayaan,” tulis Stephens.
Alasan Reuters Mempublikasikan Investigasi
Meski mendapat keberatan dari pihak pengacara Banksy, Reuters tetap menerbitkan laporan tersebut.
Media tersebut menyatakan bahwa publik memiliki kepentingan besar untuk memahami sosok yang berada di balik pengaruh besar Banksy terhadap budaya populer, industri seni, dan diskursus politik internasional.
“Publik memiliki kepentingan yang mendalam untuk memahami identitas dan perjalanan karier seorang figur yang memiliki pengaruh mendalam dan berkelanjutan terhadap budaya, industri seni, dan wacana politik internasional,” ujar Reuters dalam laporannya.
Karya Ikonik Banksy
Selama dua dekade terakhir, Banksy dikenal melalui mural satir yang sering memuat kritik sosial dan politik.
Salah satu karya paling terkenal adalah Girl with Balloon. Lukisan tersebut menjadi viral setelah dihancurkan secara otomatis sesaat setelah terjual dalam lelang di Sotheby's di London.
Karya tersebut kemudian diberi judul baru Love Is in the Bin dan akhirnya terjual hingga sekitar 25 juta dolar AS.
Dalam laporan Reuters, disebutkan bahwa seorang pria yang mirip dengan Gunningham hadir di lokasi lelang saat peristiwa penghancuran lukisan tersebut dan terlihat mengamati reaksi para pengunjung.
Karya Banksy terbaru yang menarik perhatian muncul pada September tahun lalu.
Mural tersebut menggambarkan seorang hakim yang menyerang demonstran tak bersenjata menggunakan palu sidang. Banksy memberi judul karya itu Royal Courts of Justice.
Sejumlah pengamat menilai karya tersebut sebagai komentar terhadap tindakan hukum terhadap demonstrasi pro-Palestina di Inggris. Tidak lama setelah muncul, karya tersebut kemudian dihapus.
Kontroversi Hukum
Sebagian seniman grafiti yang diwawancarai Reuters dalam investigasi tersebut juga mengungkapkan pandangan kritis terhadap Banksy.
Mereka menilai Banksy kerap terhindar dari konsekuensi hukum yang biasanya dihadapi pelaku grafiti.
Di Inggris, grafiti dianggap ilegal jika dibuat di properti publik atau pribadi tanpa izin pemiliknya. Namun anonimitas Banksy selama bertahun-tahun membuat identitasnya sulit dilacak oleh otoritas.