Profil Ali Larijani: Arsitek Strategi Keamanan Iran yang Tewas dalam Serangan Zionis Israel

Profil Ali Larijani: Arsitek Strategi Keamanan Iran yang Tewas dalam Serangan Zionis Israel
Ali Larijani, pejabat keamanan tertinggi Iran yang tewas dalam serangan Zionis.
Ikhtisar
  • Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani setelah sebelumnya Israel mengklaim serangan udara menewaskannya.
  • Larijani menjadi figur paling berpengaruh di Iran pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada awal perang 28 Februari.
  • Kariernya mencakup militer, pemerintahan, parlemen, hingga negosiator nuklir, dengan peran sentral dalam kebijakan strategis Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Ali Larijani, pejabat keamanan tertinggi Iran yang muncul sebagai figur paling berpengaruh setelah kematian pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara di tengah konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Informasi ini disampaikan media pemerintah Iran beberapa jam setelah klaim dari pihak Israel.

Pengumuman resmi dari Teheran muncul pada Selasa (17/3/2026) malam waktu setempat, tidak lama setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Ali Larijani, 67 tahun, tewas dalam serangan semalam.

Secara terpisah, media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Gholamreza Soleimani, yang menjabat sebagai kepala pasukan paramiliter Basij, turut tewas dalam serangan lain.

Larijani terakhir kali terlihat di publik pada Jumat sebelumnya saat menghadiri parade Hari Quds di Teheran. Ia kemudian menjadi pejabat Iran dengan posisi tertinggi yang tewas sejak Khamenei dilaporkan terbunuh pada hari pertama perang, 28 Februari.

Wajah Tegas Pemerintah Iran

Selama beberapa dekade, Larijani dikenal sebagai wajah tegas dalam struktur kekuasaan Iran. Ia tidak hanya aktif di politik, tetapi juga memiliki latar akademik yang kuat, termasuk menulis buku tentang filsuf Jerman abad ke-18, Immanuel Kant, serta terlibat dalam negosiasi nuklir dengan negara-negara Barat.

Namun, sikapnya berubah drastis setelah serangan besar pada akhir Februari. Pada 1 Maret, sehari setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Khamenei dan komandan Garda Revolusi, Mohammad Pakpour, Larijani menyampaikan pernyataan keras melalui televisi pemerintah dan media sosial.

“Amerika dan rezim Zionis telah membakar hati bangsa Iran,” tulisnya. “Kami akan membakar hati mereka. Kami akan membuat para penjahat Zionis dan orang-orang Amerika yang tidak tahu malu menyesali tindakan mereka."

“Para prajurit pemberani dan bangsa besar Iran akan memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada para penindas internasional yang kejam,” lanjutnya.

Dalam dinamika politik, Larijani juga sempat menuduh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah terjebak dalam “perangkap Israel”. Ia kemudian berada di pusat respons pemerintah Iran terhadap krisis terbesar sejak Revolusi 1979.

Ia bekerja bersama dewan transisi yang beranggotakan tiga orang untuk menjalankan pemerintahan setelah kematian Khamenei, sekaligus memimpin strategi keamanan nasional Iran.

Matematikawan dan Ahli Ilmu Komputer

Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga berpengaruh asal Amol, Iran. Keluarganya memiliki posisi kuat dalam struktur keagamaan dan politik, hingga majalah Time pernah menyebut mereka sebagai “Kennedys-nya Iran”.

Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, merupakan ulama terkemuka. Hubungan politiknya juga diperkuat melalui pernikahan dengan Farideh Motahari, putri dari Morteza Motahhari, tokoh dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Dalam pendidikan, Larijani menempuh jalur yang tidak umum bagi elite Iran. Ia meraih gelar sarjana Matematika dan Ilmu Komputer dari Sharif University of Technology pada 1979, kemudian melanjutkan studi hingga doktoral filsafat Barat di Universitas Teheran dengan fokus pada pemikiran Kant.

Karier politiknya dimulai setelah Revolusi 1979, saat ia bergabung dengan Garda Revolusi. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Kebudayaan pada era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, serta memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade.

Pada periode 2008 hingga 2020, Larijani menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode berturut-turut. Dalam posisi tersebut, ia memainkan peran penting dalam kebijakan domestik dan luar negeri, termasuk mengamankan persetujuan parlemen untuk kesepakatan nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Ikut Pilpres Iran

Setelah tidak lagi menjabat pada 2020, ia mencoba kembali ke panggung politik melalui pemilihan presiden 2021 dan 2024. Namun, Dewan Penjaga mendiskualifikasinya tanpa penjelasan resmi. Pengamat menilai langkah tersebut membuka jalan bagi kandidat garis keras, Ebrahim Raisi.

Larijani kembali ke posisi strategis pada Agustus 2025 ketika Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Sejak saat itu, sikapnya semakin tegas. Pada Oktober 2025, ia dilaporkan membatalkan perjanjian kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional, International Atomic Energy Agency, dengan menyatakan bahwa laporan lembaga tersebut “tidak lagi efektif”.

Kematian Larijani kini meninggalkan pertanyaan besar terkait arah kebijakan keamanan Iran ke depan, sekaligus membuka babak baru dalam dinamika kepemimpinan di tengah konflik yang masih berlangsung.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.