Harga BBM Nonsubsidi di Malaysia Naik, tapi Subsidi RON95 Tetap Dipertahankan

Harga BBM Nonsubsidi di Malaysia Naik, tapi Subsidi RON95 Tetap Dipertahankan
Foto: Antara
Ikhtisar
  • Di tengah tekanan pasokan global, harga BBM di Malaysia juga naik dalam dua pekan terakhir.
  • Pemerintah Malaysia menyebut Petronas telah menyiapkan rencana darurat untuk menjaga stabilitas pasokan migas.
  • Malaysia mulai menyiapkan sumber energi alternatif meski subsidi RON95 tetap dipertahankan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Gangguan pasokan energi akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai mendorong negara-negara Asia mencari jalan keluar.

Malaysia menjadi salah satu negara yang kini bergerak lebih cepat untuk mengamankan suplai energi, sembari menghadapi kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri.

Pasalnya, dalam dua pekan terakhir, harga BBM di Malaysia mengalami kenaikan bertahap, terutama untuk jenis non-subsidi.

Pada 25 Februari 2026, Kementerian Keuangan Malaysia menetapkan harga RON97 naik 5 sen menjadi 3,15 ringgit per liter, sementara diesel di Semenanjung Malaysia naik 5 sen menjadi 3,04 ringgit per liter. Sepekan kemudian, pada 4 Maret 2026, harga RON97 kembali naik menjadi 3,25 ringgit per liter dan diesel di Semenanjung Malaysia naik lagi menjadi 3,12 ringgit per liter.

Namun, angka kenaikan yang tercantum dalam bahan yang kamu kirim menunjukkan lonjakan lebih tajam dalam fase berikutnya. Disebutkan bahwa bensin RON97 naik sekitar 70 sen menjadi 4,55 ringgit per liter, sementara diesel di Semenanjung Malaysia naik sekitar 80 sen menjadi 4,72 ringgit per liter.

Di tengah tekanan itu, pemerintah Malaysia memilih mempertahankan subsidi untuk RON95 di kisaran 1,99 ringgit per liter. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak ikut tertekan oleh gejolak energi global.

Petronas Cari Alternatif Sumber Minyak

Tekanan itu muncul ketika jalur energi global terguncang oleh konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Salah satu titik paling krusial berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi yang selama ini menjadi nadi distribusi minyak dan gas dunia.

Dalam situasi itu, pemerintah Malaysia mulai mengaktifkan langkah antisipasi. Wakil Perdana Menteri Malaysia Fadillah Yusof mengatakan perusahaan energi nasional Petroliam Nasional Berhad atau Petronas telah menyiapkan skenario darurat untuk menjaga stabilitas pasokan.

“Petronas telah meninjau berbagai rencana untuk mencari pasokan alternatif jika gas atau minyak tidak dapat dikirim melalui wilayah yang terdampak konflik saat ini,” ujarnya.

Pernyataan itu menandai perubahan fokus dari sekadar memantau konflik menjadi mulai membangun bantalan pasokan. Australia dan sejumlah negara Asia-Pasifik disebut masuk dalam opsi sumber energi alternatif jika distribusi dari kawasan konflik semakin terganggu.

Langkah tersebut dinilai penting karena Selat Hormuz memegang peran sangat besar dalam perdagangan energi global. Jalur sempit itu dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari, sehingga setiap gangguan di sana dapat langsung mengguncang pasar internasional dan negara-negara importir energi.

Bagi Malaysia, tekanannya tidak bersifat abstrak. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyebut sekitar separuh pasokan minyak Malaysia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan di kawasan itu langsung memukul rantai suplai nasional.

“Walaupun Malaysia adalah produsen minyak, sebenarnya kita mengimpor lebih banyak minyak daripada yang kita ekspor,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan paradoks energi yang dihadapi Malaysia. Meski memiliki status sebagai produsen minyak, negara itu tetap rentan karena kebutuhan domestiknya masih bergantung pada impor dan arus distribusi global.

Mengapa Subsidi BBM Dipertahankan?

Keputusan mempertahankan subsidi tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia sedang mencoba menyeimbangkan dua tekanan sekaligus: menjaga pasokan agar tidak terganggu dan menahan beban ekonomi rumah tangga agar tidak melonjak terlalu cepat.

Jika perang di Timur Tengah terus berkepanjangan, tantangan yang dihadapi Malaysia kemungkinan tidak hanya berhenti pada harga pompa bensin. Kenaikan biaya energi berpotensi merembet ke ongkos logistik, distribusi barang, tarif transportasi, hingga harga kebutuhan pokok di dalam negeri.

Karena itu, pencarian sumber energi alternatif kini bukan lagi sekadar langkah teknis, melainkan bagian dari strategi bertahan di tengah pasar energi global yang semakin tidak stabil.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.