- • Iran secara terbuka menyatakan tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat meskipun ada pesan yang disampaikan melalui perantara.
- • Menteri Luar Negeri Iran menegaskan penolakan terhadap gencatan senjata tanpa jaminan keamanan karena dinilai hanya akan menciptakan lingkaran setan.
- • Presiden AS Donald Trump melontarkan klaim kontroversial bahwa Iran sedang meminta negosiasi kesepakatan dengan AS.
INFORMASI.COM, Jakarta Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya saat ini tidak terlibat dalam perundingan apa pun dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan langsung Araghchi dalam wawancara eksklusif bersama saluran televisi Iran Press TV di Teheran, Rabu (25/3/2026).
Di tengah memanasnya ketegangan regional pasca serangan militer yang terjadi pada akhir Februari lalu, Araghchi menjelaskan bahwa meskipun Washington telah mengirimkan sejumlah pesan melalui berbagai perantara, hal tersebut tidak lantas dimaknai sebagai proses negosiasi yang sedang berlangsung.
"Belum ada negosiasi yang dilakukan sejauh ini antara AS dengan Iran," ujar Araghchi dalam wawancara tersebut.
Ia pun menegaskan sikap Teheran yang menolak gencatan senjata tanpa disertai jaminan keamanan yang jelas. Menurutnya, jika tidak ada jaminan, maka hal itu hanya akan menjadi lingkaran setan yang pada akhirnya mengulangi kembali siklus peperangan.
"Musuh harus mendapat pelajaran agar tidak lagi ingin menyerang, dan mengganti kerugian rakyat Iran," tegasnya.
Klaim Kontroversial Donald Trump
Sikap diplomatik yang ditunjukkan Iran ini kontras dengan narasi yang terus dibangun oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Sehari sebelum pernyataan Araghchi, tepatnya pada Selasa (24/3), Trump mengumumkan susunan tim negosiasi Amerika untuk berhadapan dengan Iran. Tim tersebut disebutnya terdiri dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden J.D. Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantu sang presiden, Jared Kushner.
Trump bahkan mengklaim bahwa proses perundingan telah berlangsung pada hari Minggu sebelumnya. Ia menilai langkah itu sebagai indikasi keseriusan Teheran untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.
Namun, pernyataan yang benar-benar mencuatkan perhatian justru datang dari pidato Trump pada Rabu (25/3). Dalam kesempatan itu, ia melontarkan klaim yang tidak biasa.
Trump mengaku bahwa Iran meminta dirinya untuk menjadi Pemimpin Tertinggi. Ia menyebutkan bahwa dirinya menolak tawaran tersebut, namun Iran disebutnya terus memaksa.
Lebih lanjut, Trump menambahkan bahwa Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, hanya saja para pejabat di Teheran disebutnya merasa malu dan khawatir dengan rakyatnya sendiri.
Klaim kontroversial tersebut semakin panjang ketika Trump juga menyebut bahwa para petinggi Iran hidup dalam ketakutan akan dibunuh oleh Amerika Serikat. Ia bahkan menambahkan narasi bahwa pasukan AS disebutnya menang telak atas Iran.
Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Trump itu muncul di tengah situasi yang masih panas pasca serangan besar yang terjadi pada 28 Februari lalu.
Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Iran, termasuk wilayah Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil.
Iran sendiri tidak tinggal diam. Negeri Persia itu membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas-fasilitas milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Awalnya, Washington dan Tel Aviv mengklaim bahwa serangan yang dilancarkan merupakan langkah antisipatif untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran.
Namun, dalam perkembangan yang cukup signifikan, kedua negara tersebut kemudian memperjelas motif lain di balik aksi militer mereka, yaitu keinginan untuk melihat adanya perubahan kekuasaan di Iran.