Trump Perpanjang Tenggat Negosiasi Nuklir untuk Iran Selama 10 Hari

Trump Perpanjang Tenggat Negosiasi Nuklir untuk Iran Selama 10 Hari
Presiden AS Donald Trump menandatangani Perintah Eksekutif. Pada Rabu (30/7/2025), Trump menandatangani Perintah Eksekutif pencabutan fasilitas bebas tarif untuk paket bernilai di bawah US$800.
Ikhtisar
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperpanjang tenggat negosiasi program nuklir Iran menjadi 10 hari.
  • Trump menyebut keputusan itu dipengaruhi oleh langkah Iran yang mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintas.
  • Di tengah perpanjangan waktu itu, Trump tetap melontarkan ancaman keras bila Iran tidak memenuhi tuntutan AS.

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis (27/3/2026) menyatakan bahwa ia telah memperpanjang tenggat waktu negosiasi terkait program nuklir Iran menjadi 10 hari. Pernyataan itu disampaikan di tengah ketegangan kawasan yang terus meningkat sejak pecahnya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Trump mengatakan keputusan tersebut tidak muncul tanpa pertimbangan politik dan militer. Ia mengaitkan tambahan waktu itu dengan langkah Iran yang mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintas di perairan strategis kawasan, yang menurutnya dipandang sebagai sinyal itikad baik dalam proses perundingan.

Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa permintaan perpanjangan awalnya datang dari pihak Iran. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak sepenuhnya puas dengan sikap Teheran meskipun proses negosiasi disebut masih berjalan.

“Iran meminta saya melakukan itu dan saya tidak senang dengan mereka. Karena kami sudah menyatakan bahwa negosiasi berjalan produktif. Saya tidak tahu apakah mereka akan sampai ke sana. Mungkin iya, mungkin tidak,” ujar Trump seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.

Trump menjelaskan, Iran sebelumnya meminta tambahan waktu selama tujuh hari. Akan tetapi, ia memutuskan memberikan tenggat yang lebih panjang setelah mempertimbangkan langkah pengiriman kapal tanker yang disebutnya sebagai bentuk niat baik.

“Saya memberi mereka waktu tambahan karena mereka menunjukkan niat baik (terkait kapal),” katanya.

Meski memberi ruang negosiasi tambahan, Trump tetap menyampaikan ancaman terbuka kepada Iran. Ia memperingatkan bahwa konsekuensi yang jauh lebih berat akan dijatuhkan bila Teheran gagal memenuhi apa yang diminta Washington dalam batas waktu yang telah ditentukan.

“Jika mereka tidak melakukan apa yang harus mereka lakukan, saya akan menghancurkan pembangkit listrik mereka,” tegasnya.

Pernyataan itu menambah tekanan dalam konflik yang sudah memanas sejak 28 Februari 2026. Pada tanggal itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Dalam bahan disebutkan, serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang sejak dimulai.

Sebagai respons, Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal. Sasaran serangan itu tidak hanya diarahkan ke Israel, tetapi juga ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Di tengah eskalasi tersebut, Trump kembali mengklaim bahwa operasi militer Washington telah merusak kemampuan tempur Iran secara signifikan. Ia menyebut kekuatan laut dan udara Iran kini hampir tidak lagi memiliki kapasitas penuh untuk beroperasi.

“Kami telah menghancurkan angkatan laut mereka. Kami telah menghancurkan angkatan udara mereka, hampir sepenuhnya. Kami menghancurkan 154 kapal,” sebut Trump, seraya menambahkan bahwa peluncur rudal juga telah dihancurkan.

Trump juga kembali menegaskan posisi lama pemerintahannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun. Menurut dia, risiko yang ditimbulkan terlalu besar, bukan hanya bagi Israel dan Timur Tengah, tetapi juga bagi Amerika Serikat.

“Anda tidak bisa membiarkan orang gila atau ideologi berbahaya memiliki senjata nuklir,” katanya.

Ia menilai Iran berpotensi menjadi ancaman yang lebih luas apabila kemampuan nuklirnya tidak dibatasi. Karena itu, perpanjangan tenggat yang ia berikan bukan berarti pelonggaran sikap, melainkan bagian dari tekanan agar Iran mengambil keputusan sesuai kehendak Washington.

Di akhir pernyataannya, Trump juga menyinggung kondisi elite kekuasaan di Iran yang menurutnya sedang berada dalam situasi tidak menentu. Ia menyatakan bahwa posisi kepemimpinan di negara itu kini semakin rapuh di tengah kerusakan besar akibat konflik yang berlangsung.

“Kami tahu di mana mereka semua berada,” katanya, seraya menambahkan, “Saat ini tidak banyak orang yang bersedia mengambil posisi sebagai pemimpin Iran.”

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.