Iran Buka Peluang Akhiri Perang dengan Israel dan AS, Tapi Minta Jaminan Agresi Tak Terulang

Iran Buka Peluang Akhiri Perang dengan Israel dan AS, Tapi Minta Jaminan Agresi Tak Terulang
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. Antara/Anadolu/py.
Ikhtisar
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran siap mengakhiri perang dengan Israel dan Amerika Serikat.
  • Tetapi, Iran meminta jaminan keamanan agar serangan tidak terulang.
  • Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan kampanye militer Washington terhadap Iran bisa berakhir dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya memiliki kemauan kuat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Israel dan Amerika Serikat. Namun, Teheran menegaskan bahwa penghentian konflik tidak bisa dilakukan tanpa jaminan yang jelas bahwa serangan serupa tidak akan kembali terjadi.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa pada Selasa (31/3/2026), ketika situasi perang di Timur Tengah masih sangat tegang dan diplomasi berjalan beriringan dengan operasi militer di lapangan. Menurut kantor kepresidenan Iran, Teheran membuka pintu untuk mengakhiri konflik, tetapi tetap menempatkan unsur keamanan sebagai syarat utama.

“Kami memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik ini, asalkan syarat-syarat penting terpenuhi—terutama jaminan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya agresi,” ujar Pezeshkian dalam pernyataan resmi kantor kepresidenan, sebagaimana dilaporkan media internasional.

Ia menegaskan, jalan menuju normalisasi hanya bisa dibuka jika serangan dari pihak lawan benar-benar dihentikan.

“Solusi untuk menormalisasi situasi adalah penghentian serangan agresif mereka,” tegasnya.

Pernyataan itu muncul ketika pembicaraan damai mulai bergerak, meski masih sangat rapuh. Berdasarkan laporan yang beredar, Amerika Serikat telah mengajukan 15 poin rencana perdamaian kepada Iran, sementara Teheran disebut menyiapkan lima poin usulan balasan. Salah satu inti dari posisi Iran adalah tuntutan penghentian agresi serta pembentukan mekanisme penjamin agar Israel dan AS tidak kembali memulai perang di kemudian hari.

Konflik ini sendiri meledak sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan terhadap Iran. Eskalasi itu kemudian berkembang menjadi perang terbuka yang melibatkan serangan udara, rudal, drone, dan tekanan militer lintas kawasan. Reuters juga mencatat konflik tersebut telah memasuki pekan kelima dan menimbulkan tekanan politik serta ekonomi yang makin besar.

Dalam bahan yang Anda berikan disebutkan bahwa serangan awal itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, lalu memicu serangan balasan Iran ke berbagai negara di kawasan. Bahan tersebut juga menyebut Teheran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga perang tidak hanya berdampak pada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengguncang pasar global serta jalur penerbangan internasional.

Di tengah memanasnya perang, Presiden AS Donald Trump justru memberi sinyal bahwa operasi militer Washington bisa berakhir dalam waktu yang relatif dekat. Dalam keterangannya kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Selasa, Trump mengatakan perang terhadap Iran dapat selesai dalam dua hingga tiga minggu. Reuters melaporkan bahwa itu menjadi salah satu sinyal paling jelas sejauh ini mengenai niat Trump untuk menyudahi konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan.

“Kami akan pergi sangat segera,” ujar Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Pernyataan itu penting karena menandai pergeseran nada dari Gedung Putih: dari kampanye militer yang agresif menuju kemungkinan penarikan pasukan, meski belum disertai kerangka damai yang benar-benar final. Trump bahkan menyatakan bahwa berakhirnya perang tidak harus bergantung pada tercapainya kesepakatan formal dengan Teheran.

“Iran tidak harus membuat kesepakatan, tidak,” kata Trump saat ditanya mengenai urgensi diplomasi.

“Tidak, mereka tidak harus membuat kesepakatan dengan saya,” lanjutnya.

Meski membuka kemungkinan perang berakhir tanpa dokumen damai resmi, Trump tetap menegaskan bahwa Washington memiliki satu syarat utama, yakni memastikan Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat. Dalam logika Gedung Putih, penghentian operasi militer baru akan dilakukan setelah target itu dinilai tercapai.

“Setelah itu (tercapai), baru kami akan pergi,” paparnya.

Dengan demikian, posisi kedua pihak mulai terlihat lebih jelas. Iran menyatakan siap mengakhiri perang, tetapi hanya jika ada jaminan bahwa agresi tidak akan terulang. Amerika Serikat, di sisi lain, membuka jalan keluar militer yang lebih cepat, tetapi tetap menempatkan kemampuan nuklir Iran sebagai batas akhir.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.