- • Presiden AS, Donald Trump, menyebut pembukaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama Washington di tengah negosiasi dengan Iran.
- • Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari memicu balasan Teheran terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
- • Blokade Selat Hormuz mengganggu ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dunia.
INFORMASI.COM, Jakarta – Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas pasca serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Kini, Presiden AS Donald Trump angkat bicara mengenai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia: Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya pada Senin (6/4/2026), Trump menegaskan bahwa upaya membuka kembali Selat Hormuz menjadi prioritas utama pemerintahannya. Hal itu ia sampaikan saat ditanya oleh awak media apakah pembukaan jalur tersebut masuk dalam daftar konsesi yang diharapkan Washington dari Teheran dalam negosiasi kesepakatan yang sedang berlangsung.
"Saya akan katakan itu adalah prioritas yang sangat besar," ujar Trump.
Baca Juga
Negara Teluk Mulai Cari Jalur Baru, Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia
Internasional
Kronologi ketegangan ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan material dan menelan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Iran tidak tinggal diam. Negara itu membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah. Eskalasi yang saling membalas ini kemudian memicu blokade de facto terhadap Selat Hormuz.
Apa dampaknya? Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke seluruh pasar global. Dengan adanya blokade, rantai pasok energi internasional terganggu. Akibatnya, tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut ikut terhambat.
Baca Juga
Trump Jualan Jasa Asuransi dan Militer Kawal Kapal Minyak di Selat Hormuz Imbas Perang
Ekonomi
Situasi itu pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak dunia. Meskipun Trump belum merinci langkah konkret yang akan diambil AS untuk membuka kembali jalur tersebut, pernyataannya mengindikasikan bahwa masalah Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian dalam diplomasi AS terhadap Iran.
Para analis memperkirakan, jika blokade berlanjut, tekanan pada harga minyak global akan semakin tinggi. Hal itu berpotensi memperburuk inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergulat dengan kenaikan harga bahan pokok. Masyarakat pun kini menanti langkah nyata Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan sebelum krisis energi semakin melebar.