- • Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan hingga hari kedua.
- • Perbedaan utama mencuat pada status dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
- • Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyebut kegagalan ini lebih merugikan Iran.
INFORMASI.COM, Jakarta - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah pembicaraan tatap muka yang berlangsung di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, sementara pihak Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Vance menyampaikan bahwa dirinya kembali ke Washington tanpa membawa hasil konkret dari perundingan tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga akhir pembicaraan, kedua pihak belum mencapai titik temu.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan usai perundingan pada Sabtu (11/4/2026).
Negosiasi berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4) di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati kedua negara. Namun, situasi tersebut dinilai semakin rapuh seiring belum adanya kemajuan signifikan dalam pembahasan isu-isu utama.
Salah satu titik krusial yang menghambat jalannya perundingan adalah perbedaan pandangan terkait status Selat Hormuz. Media Iran melaporkan bahwa pembukaan kembali jalur strategis tersebut masih menjadi perdebatan utama antara kedua pihak.
Laporan CNN mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah tanpa adanya “kerangka bersama” antara Iran dan AS untuk melanjutkan negosiasi. Pejabat tersebut juga menilai tuntutan dari pihak AS terlalu berlebihan sehingga memperlambat proses dialog.
Di sisi lain, Vance menyebut bahwa Washington telah menunjukkan fleksibilitas selama proses perundingan. Ia menegaskan bahwa posisi AS telah disampaikan secara terbuka, termasuk batas kompromi yang bisa diterima.
“Mereka telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” ujarnya kepada wartawan setelah pembicaraan.
Vance juga menyoroti isu pengembangan senjata nuklir sebagai bagian penting dalam negosiasi. Ia menyatakan bahwa AS masih menunggu komitmen jangka panjang dari Iran terkait hal tersebut.
“Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang atau dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya,” kata Vance.
Ia menambahkan bahwa proposal yang diajukan oleh AS merupakan tawaran final dalam perundingan tersebut.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami,” ujarnya di Islamabad usai perundingan.
Menutup pernyataannya, Vance kembali menekankan bahwa garis merah AS telah dijelaskan secara rinci kepada pihak Iran.
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami, hal-hal yang dapat kami akomodasi dan yang tidak dapat kami akomodasi, dan kami telah menyampaikannya sejelas mungkin, namun mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” kata Vance.