- • Delegasi Iran dan AS bernegosiasi 21 jam tanpa hasil di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).
- • Iran mengklaim tuntutan AS tidak masuk akal sehingga menghalangi tercapainya kesepakatan.
- • Kebuntuhan dipicu perbedaan posisi terkait program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.
INFORMASI.COM, Jakarta – Perundingan damai Iran dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), buntu. Teheran secara tegas menyatakan kegagalan mencapai kesepakatan dengan AS terjadi lantaran tuntutan Washington dinilai tidak masuk akal.
Pernyataan resmi dari pihak Iran disampaikan pada Minggu (12/4). Pengumuman itu sekaligus menegaskan bahwa konflik antara kedua negara masih berada di jalan buntu, di tengah eskalasi perang yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa delegasi Teheran telah bekerja maksimal selama proses perundingan yang berlangsung maraton. Para negosiator Iran disebut tidak berhenti berunding.
"Delegasi Iran bernegosiasi secara terus-menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran, namun tuntutan tidak masuk akal dari pihak Amerika menghalangi kemajuan negosiasi," tulis IRIB melalui kanal Telegram mereka.
Menurut keterangan dari pihak Iran, berbagai inisiatif telah diajukan sepanjang perundingan berlangsung. Namun, Amerika Serikat dinilai tidak memberikan respons yang konstruktif terhadap usulan-usulan tersebut. Akibatnya, pembicaraan pun berakhir tanpa hasil.
Dua isu utama menjadi sumber kebuntuan dalam negosiasi ini. Pertama, program pengembangan nuklir Iran yang selama ini menjadi kekhawatiran Washington. Kedua, kontrol atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Di kubu seberang, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan klaim yang berbeda. Menurutnya, Washington sudah datang dengan membawa tawaran terbaik yang bisa diberikan kepada Iran. Namun, Vance mengakui bahwa pihaknya belum melihat komitmen tegas dari Teheran terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, tawaran terbaik dan terakhir kami. Kita lihat apakah Iran akan menerimanya," ujar Vance.
Meskipun ada klaim tawaran terbaik dari AS, sikap curiga Iran terhadap Amerika Serikat justru semakin menguat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik tajam berdasarkan pengalaman pahit negosiasi di masa lalu.
"Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berujung pada kegagalan dan janji yang dilanggar," kata Ghalibaf.
Laporan dari AFP menyebutkan bahwa perundingan di Islamabad ini merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama antara Iran dan AS dalam beberapa dekade terakhir. Sayangnya, pertemuan bersejarah itu harus berakhir tanpa kesepakatan karena perbedaan posisi yang terlalu jauh untuk dijembatani.
Proses negosiasi sebenarnya berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4). Perundingan digelar di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang disepakati kedua pihak pada pekan sebelumnya. Namun, kesepakatan gencatan senjata itu kini dinilai semakin rapuh pasca-pengumuman kegagalan perundingan damai tersebut.