Warga AS Salahkan Trump atas Lonjakan Harga BBM, Trump: Harganya Tidak Terlalu Tinggi

Warga AS Salahkan Trump atas Lonjakan Harga BBM, Trump: Harganya Tidak Terlalu Tinggi
Presiden AS, Donald Trump. (Foto: The White House)
Ikhtisar
  • Sebanyak 65 persen warga AS dalam survei menyalahkan Presiden Donald Trump atas kenaikan harga BBM.
  • Harga bensin di AS melonjak sekitar 49 persen sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026.
  • Trump menilai kenaikan harga masih terkendali dan menekankan fokus pada isu nuklir Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Mayoritas warga Amerika Serikat menyalahkan Presiden Donald Trump atas lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di tengah konflik dengan Iran. Penilaian tersebut muncul dalam jajak pendapat nasional yang dilakukan oleh Universitas Quinnipiac.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 65 persen responden terdaftar menganggap Trump sebagai penyebab utama atau turut berkontribusi terhadap kenaikan harga BBM saat ini. Dalam survei yang sama, hanya 38 persen responden yang menyatakan setuju dengan cara Trump menangani perekonomian AS.

Kenaikan harga energi ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, harga bensin di AS tercatat melonjak sekitar 49 persen dibandingkan rata-rata awal tahun.

Pada awal 2026, harga rata-rata bensin reguler berada sedikit di atas 2,75 dolar AS per galon. Namun per 16 April 2026, harga tersebut meningkat menjadi sekitar 4,093 dolar AS per galon. Sementara itu, harga diesel juga naik dari kisaran 3,50 dolar AS per galon pada Januari menjadi sekitar 5,65 dolar AS per galon.

Menanggapi situasi tersebut, Trump menyatakan kenaikan harga masih dalam batas wajar. Ia menyampaikan hal itu saat menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih.

“Yah, harganya tidak terlalu tinggi,” kata Trump.

Trump juga menilai dampak konflik terhadap ekonomi belum terlalu besar. Ia menyoroti kinerja pasar saham yang tetap menunjukkan tren positif.

“Faktanya, jika Anda perhatikan, pasar saham sedang naik, semuanya berjalan sangat baik, dan hal terpenting yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah AS tetap memprioritaskan isu keamanan dan pengendalian program nuklir Iran, meskipun tekanan domestik akibat kenaikan harga energi terus meningkat.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.