- • Presiden AS Donald Trump menolak proposal baru Iran untuk meredakan konflik dengan Amerika Serikat.
- • Iran sebelumnya mengajukan rencana tiga tahap, termasuk gencatan senjata dan pembatasan nuklir.
- • Rencana tersebut mencakup pembekuan pengayaan uranium hingga 15 tahun dan dialog keamanan kawasan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan menolak usulan terbaru dari Iran yang bertujuan meredakan konflik antara kedua negara, dengan menegaskan bahwa proposal tersebut tidak dapat diterima.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Minggu (3/5/2026) dalam wawancara dengan penyiar Israel Kan. Ia mengatakan telah menelaah secara menyeluruh isi proposal yang diajukan.
“(Proposal) itu tidak dapat saya terima. Saya telah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya, itu tidak dapat diterima,” kata Trump kepada penyiar Israel Kan.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Israel berjalan dengan sangat baik, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai konteks operasi tersebut.
Sebelumnya pada hari yang sama, Al Jazeera melaporkan berdasarkan sumber yang mengetahui persoalan tersebut bahwa Iran mengajukan rencana perdamaian tiga tahap kepada Amerika Serikat. Rencana itu mencakup penghentian pengayaan uranium hingga 15 tahun sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan jangka panjang.
Tahap pertama dalam proposal tersebut mencakup penghentian total permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu 30 hari. Selain itu, rencana tersebut juga mengatur penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan serta kesepakatan non-agresi yang melibatkan sekutu Iran di kawasan dan Israel. Proposal itu juga mencantumkan pembentukan mekanisme pemantauan internasional untuk mengawasi pelanggaran gencatan senjata.
Tahap kedua mengatur pembekuan kegiatan pengayaan uranium selama 15 tahun, yang kemudian diikuti pembatasan tingkat pengayaan hingga 3,6 persen dengan prinsip penyimpanan nol.
Pada tahap ketiga, Iran mengusulkan pembukaan dialog strategis dengan negara-negara Arab dan negara tetangga di kawasan. Dialog tersebut diarahkan untuk membentuk sistem keamanan bersama di Timur Tengah dalam jangka panjang.