Iran Ajukan Proposal Perdamaian Baru ke AS, Trump Sebut “Tidak Dapat Diterima”

Iran Ajukan Proposal Perdamaian Baru ke AS, Trump Sebut “Tidak Dapat Diterima”
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. Antara/Anadolu/py.
Ikhtisar
  • Iran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat.
  • Dalam proposal baru itu, Iran memuat syarat penghentian perang, pencabutan sanksi, dan penghapusan blokade laut di Selat Hormuz.
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons Iran dan menyebut proposal tersebut “sama sekali tidak dapat diterima.”

INFORMASI.COM, Jakarta - Iran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat yang berisi syarat penghentian konflik, pencabutan sanksi, serta penghapusan blokade laut di Selat Hormuz.

Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, melaporkan proposal tersebut merupakan tanggapan Teheran atas draf rencana yang sebelumnya diajukan Washington. Iran juga menolak proposal terbaru dari pihak AS karena dinilai setara dengan tuntutan agar Teheran menyerah.

“Proposal tersebut menyoroti perlunya segera mengakhiri perang, memberikan jaminan agar agresi terhadap Iran tidak terulang, dan beberapa isu lainnya dalam sebuah kesepakatan politik,” tulis Tasnim dengan mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Menurut laporan itu, Iran meminta Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap penjualan minyak Iran dalam jangka waktu 30 hari setelah kesepakatan awal tercapai. Proposal tersebut juga memuat tuntutan pelepasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.

Beberapa jam setelah laporan itu terbit, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap respons Iran melalui media sosial.

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya. SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump pada Minggu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan Iran harus memperjelas bahwa negara tersebut tidak berupaya memiliki senjata nuklir. Washington menilai isu itu menjadi syarat penting untuk mencapai kesepakatan damai.

Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan saling bertukar proposal terkait syarat penghentian konflik dengan mediasi Pakistan.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April. Setelah itu, delegasi Iran dan Amerika Serikat menggelar perundingan di Islamabad pada 11 dan 12 April. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Setelah perundingan gagal mencapai hasil, Amerika Serikat memberlakukan blokade di Selat Hormuz.

Konflik meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat senior dan warga sipil.

Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Teheran juga memperketat pengawasan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.