Jejak Berliku Wabah Hantavirus: Dari TPA Ushuaia hingga Hutan Patagonia

Jejak Berliku Wabah Hantavirus: Dari TPA Ushuaia hingga Hutan Patagonia
Ilustrasi penularan Hantavirus

INFORMASI.COM, Jakarta - Setidaknya tiga nyawa melayang dan satu orang masih kritis akibat wabah hantavirus yang menerjang kapal pesiar MV Hondius. Di tengah evakuasi massal penumpang ke berbagai negara, para ilmuwan dan petugas kesehatan kini tengah berlomba melawan waktu untuk menjawab satu pertanyaan kunci: dari mana virus mematikan ini bermula?

Perjalanan pelacakan ini penuh liku. Jejak awalnya mengarah ke sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di pinggiran Ushuaia, kota paling selatan Argentina yang dijuluki "Ujung Dunia". Namun, teori itu kini dihadapkan pada fakta ilmiah dan bantahan tegas dari otoritas setempat. Publik pun dihadapkan pada sebuah misteri epidemiologi yang melibatkan pasangan pecinta burung asal Belanda dan perubahan iklim yang ekstrem.

Teori Awal: TPA "Ujung Dunia" sebagai Titik Nol

Media massa, termasuk New York Post, melaporkan bahwa pasangan suami istri asal Belanda, Leo Schilperoord (70) dan Mirjam Schilperoord (69), diduga menjadi "pasien nol" dalam wabah ini.

Menurut laporan awal yang dikutip dari pernyataan pejabat Argentina secara anonim, pasangan tersebut diduga terpapar virus di TPA setempat. Lokasi ini, meskipun menjijikkan, adalah destinasi wisata yang populer di kalangan pengamat burung karena menjadi habitat langka bagi burung caracara (sejenis elang pemakan bangkai).

Hantavirus tipe Andes yang menjadi biang kerok menyebar melalui udara yang terkontaminasi partikel virus dari urine, kotoran, atau liur hewan pengerat yang terinfeksi. Para pejabat menduga bahwa Leo dan Mirjam tanpa sengaja menghirup aerosol (partikel melayang di udara) yang mengandung virus dari kotoran tikus colilargo (Oligoryzomys longicaudatus) yang terinfeksi saat mereka sedang asyik mengamati burung di atas tumpukan sampah setinggi gunung.

Pasangan itu sendiri adalah seorang ahli burung (ornitologis) yang sedang dalam tur keliling Amerika Selatan selama lima bulan. Mereka tiba di Ushuaia pada 29 Maret 2026, dan hanya dua hari setelahnya, tepatnya 1 April, mereka naik ke kapal MV Hondius.

Bantahan Ilmiah: "Virus Tak Pernah Ada di Sini"

Teori "sampah mematikan" itu langsung menuai bantahan keras dari otoritas kesehatan Tierra del Fuego, provinsi tempat Ushuaia berada. Juan Facundo Petrina, Direktur Jenderal Epidemiologi dan Kesehatan Lingkungan provinsi tersebut, dengan tegas membantah klaim tersebut.

"Di Tierra del Fuego, tidak ada catatan kasus hantavirus dalam sejarah kami," ujar Petrina dalam wawancara dengan berbagai media, termasuk BBC.

Ia memaparkan bantahannya dalam beberapa poin ilmiah:

1. Riwayat Nihil Kasus: Sejak sistem surveilans nasional mewajibkan pelaporan hantavirus pada 1996, provinsinya tidak pernah mencatat satu kasus pun.

2. Tikusnya Tak Ada: Tikus colilargo, yang merupakan reservoir (inang) utama virus Andes, tidak ditemukan di Tierra del Fuego. "Pertama-tama, kami tidak memiliki subspesies tikus berekor panjang ini," tegas Petrina.

3. Iklim Tak Mendukung: Kondisi suhu dan kelembapan di Tierra del Fuego sangat berbeda dengan habitat alami tikus ini di Patagonia utara, sehingga tidak cocok untuk perkembangbiakannya. "Kami tidak memiliki kondisi iklim yang sama seperti Patagonia utara, baik dalam kelembapan maupun suhu, untuk perkembangannya," jelas Petrina.

4. Terisolasi Secara Geografis: Karena wilayahnya adalah sebuah pulau, tikus-tikus pembawa virus harus menyeberangi Selat Magellan yang dingin dan luas untuk sampai ke sana.

5. Periode Inkubasi Tak Sesuai: Petrina menyoroti kronologi yang tidak masuk akal. Mengingat masa inkubasi virus adalah setidaknya satu pekan, infeksi dalam dua hari setelah kedatangan pasangan itu di Ushuaia hampir mustahil terjadi.

Teori Baru: Bukan "Ujung Dunia", Tapi Patagonia Utara

Jika tidak di TPA Ushuaia, lalu di mana pasangan Belanda itu terpapar? Jawabannya, menurut investigasi yang dipublikasikan oleh The Mail on Sunday, menggeser fokus lebih dari 2.400 kilometer ke arah utara, tepatnya di provinsi Neuquen, Rio Negro, dan Chubut di Patagonia utara.

Wilayah di Patagonia utara ini dikenal sebagai zona endemik virus hantavirus strain Andes. Data menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir saja, tercatat 101 kasus konfirmasi hantavirus di Argentina dengan 32 kematian.

Logika yang mendasari teori baru ini adalah sebagai berikut:

Pasangan Belanda itu menghabiskan waktu 25 hingga 30 hari, jauh lebih lama, di wilayah utara Patagonia sebelum turun ke Ushuaia.

Waktu yang panjang ini sangat memungkinkan bagi mereka untuk terpapar di zona endemik, bukan dalam dua hari singkat di Tierra del Fuego.

Periode inkubasi yang panjang (satu hingga enam pekan) semakin memperkuat kemungkinan bahwa infeksi sudah terjadi saat mereka masih berada di wilayah utara, sebelum tiba di Ushuaia.

Manipulasi Ekosistem dan Perubahan Iklim

Meskipun Petrina dan para ahli setuju bahwa Tierra del Fuego bukanlah sumber wabah, mereka tetap mendukung investigasi lebih lanjut di wilayahnya. Hal ini karena sains mengakui bahwa ekosistem dapat berubah.

"Dari sudut pandang ilmiah dan teknis, kami setuju untuk melakukan investigasi di wilayah ini karena ekosistem sedang berubah," kata Petrina, mengantisipasi kemungkinan adanya perubahan sebaran vektor penyakit akibat perubahan iklim.

Sekalipun sangat kecil, ada kemungkinan bahwa subspesies tikus pembawa virus atau virus itu sendiri telah menemukan jalannya ke selatan. Kekhawatiran inilah yang mendorong pemerintah Argentina untuk mengirim tim ahli ke TPA Ushuaia untuk menjebak tikus-tikus di sana dan mengujinya guna memastikan tidak ada potensi ancaman baru di "Ujung Dunia".

Wabah Pesta Ulang Tahun 2018

Kisah wabah pada kapal pesiar ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Virus yang sama, strain Andes, telah memicu tragedi di Argentina pada tahun 2018 silam.

Wabah itu terjadi di kota kecil Epuyén, di provinsi Chubut yang terletak di wilayah Patagonia utara. Pusat penyebarannya adalah sebuah pesta ulang tahun seorang gadis remaja.

Seorang "pasien nol" bernama Víctor Díaz, seorang pekerja lapangan yang terinfeksi saat bekerja, kemudian menghadiri pesta tersebut. Akibatnya, lebih dari 30 orang terinfeksi dan 11 orang di antaranya meninggal dunia.

Peristiwa Epuyén menjadi bukti ilmiah pertama yang mengonfirmasi bahwa virus ini, yang biasanya ditularkan dari hewan pengerat, dapat menyebar langsung dari manusia ke manusia.

Virus Andes terbukti bisa menular melalui kontak dekat dan intens, menjadikannya pengecualian langka di antara jenis hantavirus lainnya. Penemuan fenomena "super-spreader" (penyebar super) di pesta ulang tahun itu kini menjadi rujukan penting dalam memahami bagaimana wabah di ruang tertutup seperti kapal pesiar MV Hondius bisa terjadi dengan cepat.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.