- • Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Rabu atas perintah Presiden Donald Trump.
- • Iran melaporkan satu petugas pemadam kebakaran tewas setelah serangan di Bandara Iranshahr dan delapan personel militer gugur dalam serangan sehari sebelumnya.
- • Ketegangan meningkat setelah kedua negara saling menuduh melanggar nota kesepahaman yang membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
INFORMASI.COM, Jakarta - Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu, sehari setelah Washington melakukan rangkaian serangan lain ke sejumlah target di negara tersebut. Eskalasi terbaru ini menjadi yang paling serius sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada pertengahan Juni untuk mengakhiri pertempuran.
Menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, satu petugas pemadam kebakaran tewas setelah serangan menghantam Bandara Iranshahr di Iran tenggara. Serangan terbaru juga dilaporkan menyasar Iranshahr, Bandar Abbas, Konarak, Chabahar, Bushehr, serta Aq Qala di Iran timur laut.
CENTCOM Sebut Serangan untuk Lindungi Kebebasan Navigasi
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump.
“Atas arahan Presiden Donald Trump, pasukan kami telah mulai melakukan serangan tambahan terhadap Iran untuk semakin mengurangi kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.”
CENTCOM juga menuduh Iran bertanggung jawab atas tindakan agresif terhadap kapal dagang dan awak sipil yang melintas di jalur pelayaran internasional tersebut.
“Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi baru-baru ini yang tidak dapat dibenarkan terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang berlayar bebas di jalur perairan internasional yang vital.”
Pernyataan itu muncul tidak lama setelah kantor berita Mehr melaporkan sistem pertahanan udara Iran menembak sasaran yang disebut sebagai “target bermusuhan” di sekitar Bandar Abbas.
Iran Laporkan Serangan ke Menara Kontrol dan Jembatan Kereta
Pejabat Iran kemudian mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa serangan di Chabahar mengenai menara kontrol maritim dan sebuah depo logistik. Media pemerintah Iran juga melaporkan sebuah jembatan kereta api di Aq Qala menjadi sasaran serangan.
Beberapa jam setelah serangan AS, sirene peringatan serangan udara berbunyi di Bahrain. Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan pertahanan udaranya menghadapi serangan roket dan drone.
Juru bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, memperingatkan akan ada balasan dari Teheran.
“Tunggu tamparan keras dari rakyat Iran.”
Serangan Selasa Tewaskan Delapan Personel Iran
Sehari sebelumnya, AS juga menyerang Iran dengan alasan membalas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
CENTCOM menyebut pasukannya menghantam “lebih dari 80 target dengan amunisi presisi” dalam operasi yang berlangsung sekitar empat jam.
Tentara Iran menyatakan delapan personel angkatan udara dan angkatan laut tewas dalam serangan Selasa di wilayah Bandar Abbas dan Bushehr.
Sengketa Isi Nota Kesepahaman
Washington dan Teheran kini saling menuduh melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya mengakhiri pertempuran, mencabut blokade laut AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz.
Poin yang diperdebatkan terutama berkaitan dengan klausul kelima MoU, yang mengatur pengaturan pelayaran aman kapal komersial selama 60 hari.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Iran menafsirkan klausul tersebut sebagai pemberian kewenangan penuh kepada Teheran untuk menentukan pengaturan pelayaran aman di Selat Hormuz. Posisi itu digunakan Iran untuk membenarkan tindakan terhadap kapal yang melintas tanpa persetujuan mereka.
Mantan Direktur Operasi NATO Pentagon, David Des Roches, menilai MoU sebenarnya mewajibkan AS mencabut blokade dan sanksi tertentu, sementara Iran tidak mengganggu pelayaran sipil di selat tersebut.
“Ketika Iran menyerang kapal-kapal itu, Teheran mencoba menciptakan norma baru di luar ketentuan MoU, yaitu kapal harus melewati perairan Iran dan Iran akan menyerang jika mereka tidak melakukannya.”
“Itu tidak dapat diterima oleh Presiden Trump. Jadi serangan ini adalah pembalasan atas tindakan tersebut.”
Trump: Kami Menghantam Mereka Sangat Keras
Dari Washington, pemerintahan Trump bersikeras bahwa MoU menjamin kebebasan pelayaran tanpa hambatan bagi semua kapal di Selat Hormuz.
Berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One, Trump mengatakan AS telah menyerang Iran dengan keras dan tidak menutup kemungkinan perang besar kembali pecah.
“Dan saya katakan kami menghantam mereka 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan menghantam mereka 20 kali. Ketika mereka menyerang, kami membalas jauh lebih keras.”
Namun, beberapa jam sebelumnya Trump menyampaikan pandangan yang berbeda dalam konferensi pers.
“Apa pun yang terjadi akan berakhir sangat cepat.”
Pernyataan itu menunjukkan Washington masih melihat peluang agar eskalasi terbaru tidak berkembang menjadi perang penuh, meski situasi di Selat Hormuz terus memanas.