- • Presiden AS Donald Trump mengklaim AS akan berunding dengan Iran yang dimulai pada 3 Agustus melalui jalur negosiasi yang kemungkinan melibatkan mediator.
- • Pembicaraan tersebut akan membahas peluang kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pengelolaan Selat Hormuz.
- • Langkah diplomasi ini muncul setelah meningkatnya ketegangan AS-Iran dalam beberapa pekan terakhir yang sempat diwarnai ancaman serangan besar.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan memulai negosiasi dengan Iran pada 3 Agustus untuk mencari kemungkinan kesepakatan terkait sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Teheran dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Trump menyampaikan bahwa pembicaraan tersebut akan berlangsung melalui jalur negosiasi. Proses komunikasi antara Washington dan Teheran disebut kemungkinan tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui perantara atau mediator.
Pernyataan tersebut menjadi perkembangan terbaru setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump tetap menyatakan bahwa jalur komunikasi antara kedua pihak masih berjalan.
Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Dimulai 3 Agustus
Trump mengatakan proses perundingan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore, 3 Agustus. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (2/8/2026).
Ia mengatakan Amerika Serikat tetap memiliki kesiapan untuk mengambil tindakan kapan saja, tetapi dirinya lebih memilih penyelesaian melalui kesepakatan karena konflik bersenjata akan menimbulkan banyak korban.
“Kami berbicara dengan mereka (Iran) dalam bentuk negosiasi; itu dimulai besok sore, dan kita lihat bagaimana hasilnya. Saya ingin melakukan itu. Itu akan menyelamatkan banyak nyawa; banyak kekuatan yang tidak perlu, sejujurnya. Kami siap bertindak kapan pun kami mau. Apakah saya lebih memilih membuat kesepakatan? Saya tidak ingin membunuh orang, karena banyak orang yang mati; kami tidak menginginkan itu. Jadi mereka meminta kami, Iran secara khusus, tetapi tiga pihak lainnya juga meminta kami,” kata Trump.
Trump tidak menjelaskan secara rinci mengenai format perundingan tersebut. Namun, sebelumnya ia menyatakan bahwa kontak antara negosiator Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung meski tidak melalui pertemuan langsung.
Dialog AS-Iran Berlangsung di Tengah Ketegangan
Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan Washington dan Teheran mengalami peningkatan ketegangan. Trump berulang kali menyampaikan bahwa komunikasi diplomatik dengan Iran tetap berlangsung meski ancaman konflik meningkat.
Sejumlah pengamat menilai tekanan militer yang disampaikan Amerika Serikat menjadi bagian dari strategi untuk mendorong Iran menerima tuntutan Washington.
Ancaman tersebut disebut sebagai bentuk permainan tekanan politik (brinkmanship), yaitu strategi membawa situasi mendekati konflik untuk mendapatkan keuntungan dalam perundingan.
Namun, apabila strategi itu bertujuan membuat Iran menyerah terhadap tuntutan Amerika Serikat sebelum serangan dilakukan, langkah tersebut dinilai tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan. Trump kemudian memilih memberikan ruang tambahan bagi proses diplomasi.
Trump Klaim Batalkan Serangan Besar ke Iran
Trump sebelumnya mengatakan dirinya membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran setelah melakukan komunikasi dengan sejumlah negara di kawasan.
Ia menyebut pembicaraan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran menjadi alasan keputusan tersebut.
Selain membuka peluang negosiasi, Trump mengatakan kemungkinan kesepakatan juga dapat mencakup pengaturan terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Trump juga menyatakan akan ada kesepakatan mengenai isu denuklirisasi Iran, meski belum menjelaskan rincian mekanisme maupun bentuk perjanjian yang dimaksud.
Isu Nuklir Iran Jadi Agenda Utama
Program nuklir Iran menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan antara Washington dan Teheran.
Amerika Serikat selama ini menuntut adanya pembatasan terhadap aktivitas nuklir Iran untuk memastikan program tersebut tidak berkembang menjadi kemampuan pembuatan senjata nuklir.
Sementara itu, Iran secara konsisten menyatakan program nuklirnya digunakan untuk tujuan damai.
Negosiasi yang dimulai pada 3 Agustus akan menjadi ujian baru bagi kedua negara untuk mencari titik temu setelah hubungan keduanya mengalami ketegangan panjang.
Trump Bungkam soal Pemindahan Pasukan AS
Selain isu diplomasi dengan Iran, Trump juga ditanya mengenai laporan kemungkinan pemindahan pasukan Amerika Serikat dari pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain.
Ketika seorang wartawan menanyakan apakah pemerintahannya sedang melakukan proses relokasi pasukan AS, Trump memilih tidak memberikan penjelasan.
“Saya tidak ingin mengomentari hal itu.”
Pernyataan tersebut membuat spekulasi mengenai perubahan posisi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah masih belum terjawab.
Dengan dimulainya negosiasi pada 3 Agustus, perhatian kini tertuju pada hasil pembicaraan antara Washington dan Teheran. Kesepakatan mengenai program nuklir, keamanan kawasan, serta Selat Hormuz akan menjadi isu utama yang menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.