INFORMASI.COM, Jakarta — Konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah melonjak setelah serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi memperbesar kekhawatiran bahwa gangguan pasokan akan meluas ke jalur distribusi minyak utama dunia.
Pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, harga minyak Brent naik sekitar 2 persen menjadi US$107,55 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$103,27 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran mengganggu operasional pipa minyak East-West milik Arab Saudi.
Pipa tersebut memiliki kapasitas pengaliran hingga sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau setara dengan sekitar 4 persen pasokan minyak global. Gangguan pada jalur tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan terjadinya kekurangan pasokan.
Konflik Timur Tengah Kembali Tekan Pasokan Minyak
Kekhawatiran pasar tidak hanya berasal dari kerusakan infrastruktur Arab Saudi. Situasi di sejumlah jalur pelayaran strategis juga belum sepenuhnya normal.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, masih berada jauh di bawah rata-rata. Data yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal komoditas melewati selat tersebut pada Selasa, dibandingkan rata-rata sekitar 12 kapal dalam 10 hari sebelumnya.
Kondisi itu penting bagi pasar minyak karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman energi dari kawasan Teluk. Gangguan yang berlangsung lebih lama dapat mempersempit pasokan yang tersedia di pasar internasional dan menjaga harga minyak tetap tinggi.
Tekanan juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi dan memperkuat posisinya di sepanjang pesisir Yaman. Pada saat yang sama, pembicaraan negara-negara Arab Teluk dengan Iran ditunda sehingga meningkatkan kekhawatiran konflik akan meluas.
Harga Minyak Indonesia Ikut Naik
Dampak gejolak pasar global sebenarnya sudah terlihat dalam pergerakan Indonesian Crude Price (ICP).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan rata-rata ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel, naik US$7,75 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$81,68 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan tersebut dipengaruhi risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan di jalur distribusi minyak internasional.
“Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia,” ujar Laode Sulaeman seperti dikutip dari Kementerian ESDM.
Pemerintah sebelumnya memperkirakan ICP September masih berada pada level tinggi, sekitar US$83-US$87 per barel. Namun, perkembangan harga minyak global pada pertengahan September menunjukkan tekanan pasar kembali meningkat.
Lalu, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia memiliki dua sisi.
Sebagai negara yang masih membutuhkan impor minyak dan produk BBM, harga minyak internasional yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pengadaan energi. Data Ditjen Migas menunjukkan impor minyak dan gas Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar US$4,31 miliar, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan berikutnya dapat muncul pada APBN. Ketika harga minyak meningkat, pemerintah menghadapi pilihan untuk menyerap sebagian kenaikan melalui subsidi dan kompensasi atau meneruskannya kepada konsumen melalui penyesuaian harga energi.
Jika harga BBM bersubsidi dipertahankan, kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara. Sebaliknya, apabila harga BBM dinaikkan, masyarakat dapat menghadapi kenaikan biaya transportasi dan harga barang.
Risiko Berikutnya: Inflasi dan Harga Barang
Dampak kenaikan harga minyak tidak berhenti pada harga BBM.
Minyak merupakan komponen penting dalam aktivitas ekonomi, terutama transportasi dan distribusi barang. Jika biaya energi meningkat dalam waktu lama, biaya logistik dapat ikut naik. Kondisi tersebut kemudian berpotensi memberikan tekanan terhadap harga barang dan inflasi.
Pengalaman sejumlah negara Asia menunjukkan efek tersebut mulai muncul ketika harga minyak melonjak. Reuters melaporkan kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah telah menekan mata uang sejumlah negara pengimpor energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Bagi Indonesia, tekanan tersebut juga perlu dilihat dari sisi nilai tukar. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi. Jika tekanan terhadap rupiah meningkat, biaya impor dapat menjadi lebih mahal.
Namun, Indonesia juga memiliki sisi positif dari kenaikan harga komoditas energi. Sebagai produsen minyak dan gas, pemerintah tetap memperoleh penerimaan dari sektor hulu ketika harga minyak meningkat. Besarnya manfaat tersebut bergantung pada produksi domestik, volume impor, harga jual, serta kebijakan fiskal yang berlaku.
Pemerintah Dihadapkan pada Ketidakpastian Konflik
Persoalan terbesar bagi Indonesia saat ini bukan hanya seberapa tinggi harga minyak, tetapi berapa lama harga tersebut bertahan.
Jika konflik Timur Tengah mereda dan jalur pengiriman kembali normal, tekanan harga dapat berkurang. Sebaliknya, serangan lanjutan terhadap fasilitas produksi atau jalur pelayaran dapat memperketat pasokan dan mempertahankan harga minyak di atas US$100 per barel.
Kementerian ESDM menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan kondisi jalur distribusi internasional untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Dengan demikian, bagi masyarakat Indonesia, dampak konflik Timur Tengah tidak hanya terjadi jauh di kawasan Teluk. Pergerakan harga minyak dunia dapat berujung pada biaya impor energi, tekanan APBN, inflasi, nilai tukar, dan biaya distribusi barang di dalam negeri.
Selama harga BBM bersubsidi masih ditahan pemerintah, dampak langsung kepada konsumen dapat diredam. Namun, apabila harga minyak dunia tetap tinggi dalam waktu panjang, tekanan terhadap keuangan negara dan biaya ekonomi nasional akan semakin besar.