INFORMASI.COM, Jakarta — Ekonomi China memperlihatkan dua wajah yang berbeda pada Agustus 2026. Di satu sisi, industri dan manufaktur berteknologi tinggi kembali menguat karena permintaan global terhadap produk terkait kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, masyarakat China justru semakin menahan belanja.
Data terbaru menunjukkan produksi industri China tumbuh 5,2 persen secara tahunan pada Agustus, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 5,1 persen pada Juli. Kinerja tersebut ditopang oleh sektor teknologi, termasuk baterai lithium-ion, robot industri, dan peralatan pencetakan 3D.
Namun, penguatan industri tersebut tidak diikuti pemulihan konsumsi. Penjualan ritel China hanya meningkat 0,4 persen pada Agustus dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu menjadi pertumbuhan terlemah sejak Mei dan melanjutkan perlambatan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Ledakan AI Menjadi Penopang Industri
Perkembangan AI kini menjadi salah satu faktor yang membantu industri China mempertahankan momentum.
Permintaan terhadap teknologi dan infrastruktur AI mendorong produksi berbagai komponen serta peralatan berteknologi tinggi. Ekspor juga memperoleh keuntungan dari meningkatnya kebutuhan global terhadap produk teknologi China.
Kondisi tersebut membuat sektor industri tampak lebih kuat dibandingkan kondisi ekonomi domestik secara keseluruhan. Reuters mencatat pertumbuhan sektor industri pada Agustus terutama didorong oleh ledakan teknologi berbasis AI, sementara sektor properti dan konsumsi masih menjadi titik lemah.
Perkembangan ini menjadi bagian dari perubahan struktur ekonomi China. Negara tersebut secara bertahap berusaha mengurangi ketergantungan terhadap properti dan investasi tradisional dengan mendorong manufaktur berteknologi tinggi, energi hijau, digitalisasi, dan AI.
IMF juga mencatat munculnya model pertumbuhan baru yang bertumpu pada teknologi, industri hijau, dan digitalisasi ketika mesin pertumbuhan lama berbasis properti dan infrastruktur mulai kehilangan tenaga.
Konsumsi Rumah Tangga Justru Melemah
Masalahnya, pertumbuhan sektor teknologi belum otomatis meningkatkan daya beli masyarakat.
Penjualan ritel hanya naik 0,4 persen pada Agustus. Angka tersebut menurun dari pertumbuhan 1 persen pada Juni dan menunjukkan bahwa masyarakat masih berhati-hati mengeluarkan uang.
Tekanan tersebut juga terlihat dari lemahnya permintaan kredit rumah tangga. Pada Agustus, kredit baru perbankan China berada jauh di bawah ekspektasi pasar. Pinjaman rumah tangga bahkan mengalami kontraksi untuk bulan keenam berturut-turut, menunjukkan rendahnya minat masyarakat mengambil utang untuk konsumsi maupun pembelian properti.
Kondisi pasar properti menjadi salah satu faktor penting. Penurunan aktivitas properti membuat masyarakat lebih berhati-hati karena nilai aset dan prospek pendapatan mereka masih menghadapi ketidakpastian.
Pertumbuhan China Makin Tidak Seimbang
Perbedaan antara industri teknologi dan konsumsi memperlihatkan persoalan yang lebih besar dalam perekonomian China.
Pada kuartal II 2026, ekonomi China hanya tumbuh 4,3 persen secara tahunan, melambat dari 5 persen pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut menjadi pertumbuhan kuartalan terlemah dalam lebih dari tiga tahun. Lemahnya konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor yang membayangi kuatnya manufaktur dan ekspor.
Masalah lain datang dari investasi. Dalam delapan bulan pertama 2026, investasi aset tetap China turun 7,2 persen, sementara investasi sektor properti anjlok hampir 20 persen. Pada saat yang sama, pengangguran perkotaan meningkat menjadi 5,3 persen pada Agustus.
Situasi tersebut menciptakan pola pertumbuhan yang tidak merata: perusahaan yang bergerak di sektor teknologi dan ekspor dapat menikmati peningkatan permintaan, sedangkan rumah tangga dan sektor ekonomi yang bergantung pada konsumsi domestik belum memperoleh dorongan yang sama.
AI Bisa Menjadi Solusi, tetapi Juga Tantangan
Pertumbuhan berbasis AI memberikan peluang besar bagi China untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat posisi industrinya. Namun, para ekonom mulai mempertanyakan apakah ledakan AI dapat berjalan seiring dengan target pemerintah untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.
Caixin Global melaporkan bahwa sejumlah ekonom dan pelaku industri memperingatkan pertumbuhan AI dapat meningkatkan kapasitas produksi, tetapi pada saat yang sama berpotensi menekan pendapatan tenaga kerja dan permintaan konsumen jika otomatisasi mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan.
Dengan kata lain, teknologi dapat membuat perusahaan lebih produktif tanpa otomatis membuat masyarakat lebih konsumtif.
Persoalan tersebut menjadi penting bagi China karena pemerintah membutuhkan sumber pertumbuhan yang lebih seimbang. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap ekspor dan investasi berisiko membuat perekonomian rentan ketika permintaan global melemah.
China Perlu Menghidupkan Kembali Konsumsi
Lembaga internasional sebelumnya telah mengingatkan China mengenai persoalan tersebut.
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi China tumbuh 4,4 persen pada 2026, dengan konsumsi domestik masih menghadapi tekanan akibat kehati-hatian masyarakat dan berlanjutnya penyesuaian sektor properti. Bank Dunia menilai penguatan jaring pengaman sosial dapat meningkatkan kepercayaan rumah tangga sehingga masyarakat lebih berani membelanjakan pendapatan mereka.
Asian Development Bank juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,6 persen pada 2026. Lembaga tersebut menilai investasi teknologi tinggi dan ekspor dapat menopang pertumbuhan, tetapi pemulihan konsumsi rumah tangga tetap menjadi faktor penting untuk menjaga momentum ekonomi.
IMF bahkan menilai peralihan menuju model ekonomi berbasis konsumsi harus menjadi prioritas. Lemahnya permintaan domestik, menurut IMF, berkaitan dengan berkepanjangannya krisis properti dan lemahnya perlindungan sosial yang membuat masyarakat cenderung menabung daripada berbelanja.
Tantangan China Bukan Lagi Sekadar Tumbuh
Data Agustus menunjukkan bahwa persoalan ekonomi China bukan semata-mata mengenai kemampuan negara tersebut menghasilkan pertumbuhan.
China masih mampu meningkatkan produksi industri, mengembangkan AI, memperbesar kapasitas manufaktur berteknologi tinggi, dan mempertahankan kekuatan ekspornya. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut mengalir ke pendapatan rumah tangga dan konsumsi masyarakat.
Jika konsumsi tetap lemah sementara teknologi dan ekspor menjadi penopang utama, ketidakseimbangan ekonomi dapat semakin dalam. Sebaliknya, jika pemerintah berhasil meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperkuat daya beli, kemajuan teknologi dapat menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.