INFORMASI.COM, Jakarta — China kembali menjadi sorotan pasar energi global ketika perusahaan-perusahaan penyulingan di negara tersebut mulai mencari pasokan minyak alternatif di tengah gangguan pengiriman dari Timur Tengah. Langkah itu berlangsung setelah China sebelumnya menekan impor minyak mentah untuk mengurangi paparan terhadap harga energi yang melonjak akibat konflik di kawasan.
Data Reuters menunjukkan impor minyak mentah melalui jalur laut China pada Agustus 2026 mencapai sekitar 7,14 juta barel per hari, naik dari 6,93 juta barel per hari pada Juli. Namun, angka tersebut masih hampir 40 persen di bawah rata-rata tiga bulan sebelum konflik Iran dimulai.
Perubahan tersebut penting bagi pasar global karena China merupakan importir minyak mentah terbesar dunia. Setiap perubahan dalam volume pembelian China dapat memengaruhi keseimbangan permintaan global dan harga minyak.
Pada saat yang sama, sejumlah perusahaan penyulingan China mulai meningkatkan pembelian minyak dari Rusia untuk menggantikan sebagian pasokan Timur Tengah yang terganggu. Sinopec, misalnya, dilaporkan meningkatkan pembelian minyak Rusia jenis ESPO untuk pengiriman Juli hingga September ketika pasokan dari Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya berkurang.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Beijing tidak hanya mengandalkan satu sumber pasokan ketika jalur perdagangan utama mengalami gangguan.
Selat Hormuz Menjadi Titik Rawan
Persoalan terbesar bagi Asia tetap berada pada jalur pengiriman energi dari Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2025, sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut, setara dengan sekitar seperlima konsumsi petroleum liquids dunia. Infrastruktur pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang menyediakan jalur alternatif, tetapi kapasitasnya hanya mampu menggantikan sebagian arus minyak yang biasanya melewati Hormuz.
Gangguan terhadap jalur tersebut kemudian memaksa negara-negara importir mencari sumber lain.
China sudah melakukan penyesuaian tersebut sejak awal konflik. Data EIA menunjukkan impor minyak mentah China turun menjadi rata-rata 8,1 juta barel per hari pada kuartal II 2026, atau 32 persen lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan itu terjadi setelah harga minyak meningkat akibat terganggunya arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Pada 2025, China masih mencatat rekor impor minyak sekitar 11,6 juta barel per hari. Artinya, penurunan pada 2026 bukan sekadar perubahan kecil dalam pola perdagangan, tetapi merupakan penyesuaian besar terhadap kondisi pasar energi global.
Cadangan Minyak China Mulai Menjadi Penyangga
Salah satu alasan China mampu mengurangi impor tanpa langsung mengalami kekurangan pasokan adalah keberadaan cadangan minyak yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Reuters melaporkan perusahaan energi milik negara seperti Sinopec, PetroChina, dan CNOOC telah menginvestasikan sekitar 2,3 triliun yuan atau sekitar US$343 miliar selama satu dekade terakhir untuk meningkatkan produksi domestik dan membangun cadangan energi. Produksi minyak domestik China meningkat dari sekitar 3,8 juta barel menjadi 4,3 juta barel per hari.
Strategi tersebut memberi Beijing ruang untuk menahan sebagian dampak gangguan pasokan internasional.
Namun, cadangan bukan sumber yang tidak terbatas.
Pada Agustus, China kembali menggunakan stok minyak mentahnya. Perhitungan Reuters menunjukkan kilang-kilang China mengolah sekitar 640.000 barel per hari lebih banyak daripada volume yang tersedia dari impor dan produksi domestik. Kekurangan tersebut dipenuhi dengan mengambil minyak dari persediaan.
Kondisi itu menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas kilang tidak sepenuhnya diimbangi oleh pasokan minyak baru.
Harga Minyak Kembali Menekan Asia
Tekanan terhadap China terjadi bersamaan dengan meningkatnya risiko harga energi di seluruh Asia.
Pada 17 September 2026, harga minyak Brent berada di sekitar US$104,59 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$101,29 per barel. Harga tersebut memang turun setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pengiriman minyak melalui Oman, tetapi pasar tetap menghadapi risiko gangguan pasokan akibat konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Sebelumnya, harga minyak bahkan menembus US$100 per barel setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas energi di kawasan memperbesar kekhawatiran mengenai pasokan global.
Bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak memiliki efek berantai.
Biaya bahan bakar meningkat. Biaya transportasi ikut terdorong. Industri yang menggunakan minyak sebagai bahan baku atau sumber energi menghadapi biaya produksi lebih tinggi. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Asia Menghadapi Risiko yang Tidak Seragam
Kerentanan Asia terhadap krisis energi tidak sama di setiap negara.
China memiliki cadangan minyak, produksi domestik, hubungan energi dengan Rusia, serta kemampuan negara untuk mengarahkan perusahaan energi nasional ketika pasokan global terganggu.
India memiliki basis sumber pasokan yang lebih beragam dan terus menyesuaikan rute pengadaan. Negara-negara lain yang lebih bergantung pada impor energi melalui jalur laut dapat menghadapi tekanan yang lebih besar apabila gangguan berlangsung lama.
Reuters sebelumnya melaporkan pemerintah negara-negara Asia telah berupaya mencari sumber energi alternatif dan menggunakan cadangan untuk meredam dampak krisis. Namun, biaya untuk mempertahankan kebijakan tersebut semakin besar ketika harga energi bertahan tinggi.
Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak.
Pasokan gas alam cair atau LNG ke Asia juga terganggu. Reuters memperkirakan impor LNG Asia pada September 2026 akan menjadi yang terendah untuk bulan tersebut sejak 2018, sekitar 20,09 juta ton, karena harga LNG spot melonjak dan pasokan dari Qatar terganggu oleh konflik di sekitar Selat Hormuz.
China, India, dan Pakistan termasuk negara yang mengurangi permintaan LNG ketika harga melonjak.
China Punya Ruang Bernapas, tetapi Tidak Tanpa Batas
China saat ini berada dalam posisi yang berbeda dibandingkan negara importir minyak lainnya.
Di satu sisi, Beijing mempunyai cadangan strategis, produksi domestik, jaringan pipa dengan Rusia dan Asia Tengah, serta kapasitas industri yang memungkinkan perusahaan energi mengubah sumber pasokan dengan cepat.
Di sisi lain, kebutuhan energi China tetap sangat besar. Ketika kilang kembali meningkatkan produksi dan persediaan terus digunakan, Beijing pada akhirnya harus kembali masuk ke pasar internasional dengan volume yang lebih besar apabila gangguan pasokan berlangsung lama.
Itulah sebabnya pola pembelian China menjadi salah satu indikator penting bagi pasar minyak dunia.
Jika China terus menahan impor, permintaan global dapat berkurang sehingga sebagian tekanan harga mereda. Sebaliknya, apabila kilang China meningkatkan pembelian untuk mengisi kembali cadangan yang terkuras, persaingan mendapatkan minyak dengan negara-negara Asia lainnya dapat meningkat.
Reuters menilai keputusan China untuk mempertahankan atau meningkatkan impor akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga minyak dan produk bahan bakar global dalam periode berikutnya.
Diplomasi Energi China Ikut Bergerak
Kepentingan energi juga terlihat dalam diplomasi Beijing.
Pada 16 September, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Iran dan Amerika Serikat menahan diri serta kembali ke jalur perundingan. Wang juga menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk menjamin keamanan transportasi energi dan rantai pasok global.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa bagi China, konflik Timur Tengah bukan hanya persoalan keamanan regional. Stabilitas jalur energi menjadi bagian langsung dari kepentingan ekonomi Beijing.
China merupakan pembeli utama minyak dari kawasan tersebut. Karena itu, gangguan berkepanjangan di Timur Tengah dapat memengaruhi biaya energi, industri, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi China sekaligus negara-negara Asia lainnya.
Seberapa Rentan Ekonomi Asia?
Krisis saat ini menunjukkan bahwa Asia memiliki ketahanan yang cukup besar, tetapi juga memiliki titik lemah yang jelas.
Cadangan strategis, diversifikasi pemasok, penggunaan energi alternatif, dan penurunan konsumsi dapat membantu mengurangi dampak awal. EIA sebelumnya mencatat penurunan konsumsi minyak global, terutama di Asia, ikut membatasi kenaikan harga akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Namun, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar tekanan terhadap mekanisme penyangga tersebut.
Reuters melaporkan para eksekutif Shell dan Equinor memperingatkan bahwa mekanisme tradisional untuk menyerap guncangan pasokan energi mulai melemah. Sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari, pasar global kehilangan sekitar 1,6 miliar barel minyak mentah dan kondensat serta 36 juta ton LNG. Jika gangguan berlanjut, persoalan pasokan dan infrastruktur dapat terus memengaruhi pasar hingga 2027.
Dengan demikian, persoalan utama bagi Asia bukan semata-mata apakah minyak masih tersedia. Pertanyaan yang lebih besar adalah berapa mahal biaya untuk mendapatkannya dan berapa lama negara-negara Asia mampu mempertahankan sistem penyangga energi mereka.
China kini kembali memburu minyak untuk mengamankan kebutuhan domestiknya. Pergerakan tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar global: ketika importir minyak terbesar dunia kembali meningkatkan pembelian setelah berbulan-bulan menekan permintaan, persaingan mendapatkan pasokan dapat kembali menguat.
Selama konflik Timur Tengah belum menghasilkan jalur perdagangan energi yang stabil, ketahanan ekonomi Asia akan terus bergantung pada tiga faktor utama: ketersediaan minyak, harga energi, dan kemampuan negara mengelola cadangan serta mencari sumber pasokan alternatif.