Ketika Budaya Populer Jadi Alat Soft Power Negara, Pengaruhnya Bisa Tak Terasa

Ketika Budaya Populer Jadi Alat Soft Power Negara, Pengaruhnya Bisa Tak Terasa
K-Culture. Sumber: Istimewa

INFORMASI.COM, Jakarta — Persaingan antarnegara tidak lagi hanya berlangsung melalui ekonomi, militer, atau diplomasi. Di tengah perkembangan platform digital, budaya populer menjadi salah satu jalur yang semakin penting untuk memperkenalkan sebuah negara kepada masyarakat dunia.

Lagu yang diputar jutaan kali, serial televisi yang ditonton lintas benua, gim yang dimainkan oleh pengguna dari berbagai negara, hingga makanan yang menjadi tren dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap negara asalnya.

Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep soft power, yakni kemampuan sebuah negara memperoleh daya tarik dan memengaruhi pihak lain melalui budaya, nilai, serta kebijakan, bukan semata-mata melalui tekanan atau kekuatan material.

Perkembangan teknologi digital membuat mekanisme tersebut berubah. Pengaruh budaya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada televisi nasional, kantor diplomatik, atau program pertukaran budaya.

YouTube, Netflix, TikTok, Instagram, layanan musik digital, platform gim, dan media sosial memungkinkan produk budaya nasional langsung menjangkau konsumen asing.

UNESCO kini juga semakin menempatkan industri budaya dan kreatif sebagai bidang yang perlu diukur secara lebih sistematis karena berkaitan dengan pekerjaan, perdagangan internasional, serta pembangunan berkelanjutan. Pada Juli 2026, UNESCO Institute for Statistics membentuk kelompok penasihat internasional untuk mengembangkan indikator baru bagi ekosistem industri budaya dan kreatif.

Perubahan tersebut membuat budaya populer semakin sulit dipisahkan dari ekonomi dan hubungan internasional.

Korea Selatan Menjadi Salah Satu Contoh Paling Terlihat

Korea Selatan menjadi salah satu contoh bagaimana industri hiburan dapat berkembang menjadi kekuatan budaya global.

K-pop, drama Korea, film, makanan, kosmetik, hingga fesyen telah menciptakan ekosistem budaya yang saling terhubung.

Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan atau MCST melaporkan bahwa dalam analisis Hallyu 2025 yang menggunakan sekitar 1,5 juta artikel media asing dan unggahan media sosial dari 30 negara, pemberitaan mengenai Korean Wave paling banyak berasal dari Asia dengan porsi 44 persen, disusul Eropa 20,8 persen dan Amerika Utara 16,9 persen.

K-pop memang masih menjadi konten Hallyu yang paling dominan di sebagian besar kawasan. Namun, pengaruh budaya Korea semakin melebar ke sastra, film, televisi, dan kuliner.

Artinya, ekspor budaya Korea tidak lagi bergantung pada satu jenis produk.

Ketika musik memperkenalkan artis dan bahasa Korea, drama memperkenalkan gaya hidup, kuliner membuka pasar makanan, sementara pariwisata memungkinkan penggemar mengalami budaya tersebut secara langsung.

Budaya Membentuk Citra Negara

Dampak terhadap persepsi negara juga terlihat dalam survei resmi pemerintah Korea Selatan.

Survei National Image of Korea 2025 yang dilakukan terhadap 13.000 responden di 26 negara menemukan bahwa 82,3 persen responden memiliki pandangan positif terhadap Korea Selatan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak survei dimulai pada 2018.

Menariknya, konten budaya menjadi faktor terbesar yang memengaruhi citra Korea Selatan, dengan porsi 45,2 persen.

Dalam survei tersebut, video platform menjadi kanal utama masyarakat asing berinteraksi dengan Korea Selatan dengan porsi 64,4 persen, diikuti media sosial 56,6 persen. YouTube dan Netflix termasuk platform yang paling banyak digunakan untuk mengakses konten Korea.

Data tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh peningkatan citra Korea Selatan semata-mata disebabkan budaya populer. Namun, survei pemerintah Korea secara eksplisit menemukan hubungan kuat antara konsumsi konten budaya dan persepsi masyarakat asing terhadap negara tersebut.

Dari K-Pop ke Pariwisata

Pengaruh budaya juga dapat berlanjut ke sektor ekonomi.

Pada April 2026, MCST melaporkan hasil penelitian terhadap wisatawan internasional yang menghadiri konser BTS di Gwanghwamun dan Goyang.

Pengunjung internasional yang disurvei rata-rata tinggal 8,7 hari dan mengeluarkan sekitar 3,53 juta won per orang selama perjalanan. Pemerintah Korea kemudian mengembangkan promosi pariwisata yang dikaitkan dengan konser dan kegiatan K-culture.

Perkembangan tersebut menunjukkan mekanisme yang lebih luas:

konten → penggemar → ketertarikan terhadap negara → perjalanan → konsumsi → hubungan budaya.

Budaya populer dengan demikian dapat menciptakan efek ekonomi sekaligus memperluas kontak masyarakat antarnegara.

China Menggunakan Budaya Tradisional dalam Format Modern

China juga memasuki arena tersebut melalui kombinasi budaya tradisional dan industri kreatif modern.

Film animasi Ne Zha 2, gim Black Myth: Wukong, novel daring, serial televisi, karakter koleksi, hingga platform digital China telah memperoleh audiens internasional.

Pemerintah China dan media resmi negara secara terbuka mengaitkan perkembangan tersebut dengan peningkatan daya tarik budaya China di luar negeri.

Dalam laporan Soft Power 2.0: The Rise of an Appealing China, China State Council Information Office menyoroti bagaimana Ne Zha 2, Black Myth: Wukong, novel daring, gim, dan konten audiovisual China menjangkau audiens internasional.

Fenomena tersebut menarik karena produk-produk itu tidak selalu tampil sebagai materi diplomasi formal.

Penonton dapat menemukan mitologi China melalui film. Pemain gim dapat mengenal kisah dan estetika tradisional melalui permainan. Konsumen dapat mengenal karakter China melalui produk koleksi.

Dengan demikian, interaksi dengan budaya China dapat terjadi tanpa seseorang secara khusus mencari informasi mengenai politik atau kebijakan Beijing.

Labubu dan Kekuatan Karakter Global

Salah satu contoh lain adalah perkembangan karakter Labubu, karakter dari perusahaan China Pop Mart.

Karakter tersebut berkembang dari produk koleksi menjadi bagian dari tren fesyen dan budaya populer global.

Media resmi China menggambarkan perkembangan Labubu sebagai contoh bagaimana produk berbasis karakter dapat menggabungkan desain, humor, budaya visual, dan perdagangan internasional.

Fenomena seperti ini memperlihatkan perubahan dalam cara budaya diekspor.

Sebuah negara tidak selalu perlu mengekspor simbol nasional secara langsung. Karakter, produk hiburan, atau merek kreatif dapat menjadi pintu masuk yang lebih ringan menuju budaya negara asalnya.

Ketika produk tersebut menjadi populer, konsumen juga dapat mulai mencari informasi mengenai negara, bahasa, makanan, tempat wisata, atau produk lain yang terkait.

Jepang Memiliki Strategi "Cool Japan"

Jepang telah lebih lama mengembangkan konsep Cool Japan, yang menggabungkan anime, manga, gim, fesyen, desain, makanan, dan pariwisata sebagai bagian dari promosi daya tarik Jepang di luar negeri.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang atau METI menyatakan pemerintah Jepang bekerja lintas kementerian untuk mempromosikan daya tarik Jepang di luar negeri, termasuk melalui konten, seni, desain, fesyen, dan pariwisata.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya dipandang sebagai sektor hiburan.

Ia dapat menjadi bagian dari kebijakan ekonomi sekaligus strategi diplomasi budaya.

Anime dapat membawa penonton mengenal bahasa Jepang. Gim dapat memperkenalkan estetika dan cerita Jepang. Kuliner dapat membuka ketertarikan terhadap restoran dan perjalanan. Fesyen dapat membuat konsumen menggunakan elemen desain yang berasal dari Jepang.

Setiap sektor dapat saling memperkuat.

Amerika Serikat Sudah Lama Menguasai Ekosistem Budaya Global

Fenomena soft power melalui budaya populer sebenarnya bukan hal baru.

Amerika Serikat telah membangun pengaruh budaya global selama puluhan tahun melalui Hollywood, musik, televisi, olahraga, teknologi hiburan, dan industri kreatif.

Film dan serial Amerika menyebarkan bahasa Inggris, gaya hidup, musik, fesyen, serta berbagai gambaran mengenai masyarakat Amerika ke berbagai negara.

Namun, perubahan teknologi digital membuat dominasi tersebut menghadapi persaingan yang semakin terfragmentasi.

Kini sebuah film tidak harus berasal dari Hollywood untuk memperoleh audiens global.

Serial Korea dapat menjadi fenomena di Amerika Latin. Gim China dapat populer di Amerika Utara. Anime Jepang dapat memiliki basis penggemar di Eropa. Musik dari berbagai negara dapat menjadi viral melalui platform digital tanpa melalui perusahaan media tradisional Barat.

Pusat produksi budaya menjadi semakin banyak.

Media Sosial Mengubah Cara Soft Power Bekerja

Perubahan terbesar mungkin bukan pada produk budaya itu sendiri, melainkan pada distribusinya.

Pada era televisi tradisional, negara memiliki peran lebih besar dalam menentukan bagaimana budaya mereka dipresentasikan kepada audiens asing.

Media sosial mengubah struktur tersebut.

Seorang penggemar dapat membuat video mengenai makanan Korea. Wisatawan dapat mengunggah pengalaman perjalanan ke China. Pemain gim dapat membuat konten mengenai karakter dari Jepang. Pengguna lain kemudian membagikan dan mengomentarinya.

Dalam model tersebut, sebagian distribusi budaya berlangsung secara horizontal.

Pemerintah dapat mendukung industri kreatif, tetapi popularitas sebuah produk pada akhirnya juga dipengaruhi oleh konsumen, algoritma platform, komunitas penggemar, dan tren pasar.

Kondisi ini terlihat dalam perkembangan Hallyu. Analisis pemerintah Korea Selatan menunjukkan bahwa media sosial dan platform video menjadi saluran utama masyarakat asing menemukan konten Korea.

Soft Power Tidak Sama dengan Propaganda

Meski memiliki hubungan dengan kepentingan negara, budaya populer tidak otomatis merupakan propaganda pemerintah.

Perbedaan tersebut penting.

Sebuah film dapat diproduksi oleh perusahaan swasta. Musisi dapat bekerja secara independen. Pengembang gim dapat mengejar keuntungan komersial. Kreator media sosial dapat membuat konten berdasarkan pengalaman pribadi.

Popularitas produk kemudian dapat memberikan dampak terhadap citra negara tanpa seluruh prosesnya dirancang oleh pemerintah.

Dalam kasus China, misalnya, pemerintah secara terbuka mempromosikan keberhasilan produk budaya seperti Ne Zha 2 dan Black Myth: Wukong sebagai bagian dari meningkatnya daya tarik budaya China. Namun, keberhasilan komersial dan penerimaan publik terhadap produk tersebut tetap dipengaruhi oleh pasar serta perilaku konsumen.

Hal yang sama berlaku pada Hallyu.

Pemerintah Korea Selatan memang memiliki kebijakan promosi budaya, tetapi musik, film, drama, makanan, dan karakter Korea juga berkembang melalui industri kreatif serta komunitas penggemar global.

Persaingan Budaya Semakin Global

Persaingan soft power kini semakin kompleks.

Negara tidak cukup hanya memiliki sejarah atau kebudayaan yang kaya. Mereka juga membutuhkan industri kreatif yang mampu mengemas budaya tersebut menjadi produk yang menarik bagi audiens global.

Ada beberapa unsur yang semakin menentukan:

Pertama, kualitas konten. Produk harus mampu menarik perhatian tanpa bergantung pada pesan resmi pemerintah.

Kedua, distribusi digital. Platform global memungkinkan konten lokal menjangkau audiens internasional dengan cepat.

Ketiga, ekosistem industri. Film, musik, gim, makanan, fesyen, pariwisata, dan perdagangan dapat saling menguatkan.

Keempat, partisipasi masyarakat. Penggemar menjadi bagian dari proses penyebaran budaya melalui unggahan, komunitas, fan art, konser, dan perjalanan.

Kelima, konsistensi citra. Ketertarikan terhadap budaya dapat terpengaruh oleh perkembangan politik, kebijakan luar negeri, atau perilaku negara asal.

Karena itu, soft power tidak sepenuhnya dapat dikendalikan pemerintah.

Budaya Populer Menjadi Jembatan Ekonomi dan Diplomasi

Ketika seseorang membeli album, menonton film, memainkan gim, memakai fesyen, memasak makanan, atau mengunjungi negara karena terinspirasi konten budaya, hubungan antara budaya dan ekonomi menjadi terlihat.

Korea Selatan telah menunjukkan keterkaitan tersebut melalui K-pop dan pariwisata. Jepang mengembangkan Cool Japan dengan menghubungkan konten, desain, pariwisata, dan industri kreatif. China memperluas jangkauan budaya melalui film, gim, karakter, platform digital, serta promosi budaya tradisional dalam bentuk modern.

Pada saat yang sama, UNESCO semakin mengembangkan kerangka statistik untuk mengukur kontribusi industri budaya dan kreatif terhadap perdagangan, pekerjaan, serta pembangunan.

Artinya, budaya semakin dipandang bukan hanya sebagai persoalan identitas. Ia juga menjadi bagian dari ekonomi global.

Era Baru Persaingan Pengaruh

Peta kekuatan dunia kini tidak hanya dapat dibaca dari jumlah kapal perang, cadangan devisa, atau ukuran ekonomi.

Pengaruh juga dapat terlihat dari lagu yang didengarkan, film yang ditonton, gim yang dimainkan, makanan yang dikonsumsi, karakter yang dikoleksi, hingga negara mana yang ingin dikunjungi masyarakat.

Korea Selatan menunjukkan bagaimana budaya populer dapat memperkuat citra nasional. Jepang mempertahankan strategi Cool Japan untuk menghubungkan industri kreatif dengan ekonomi dan pariwisata. China semakin menggabungkan warisan budaya dengan film, gim, karakter, dan platform digital.

Fenomena tersebut tidak berarti budaya otomatis membuat suatu negara lebih berpengaruh dalam seluruh aspek hubungan internasional. Namun, data menunjukkan bahwa budaya dapat membuka jalur hubungan yang berbeda dari diplomasi konvensional.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, masyarakat global mungkin tidak selalu mengenal suatu negara melalui pidato presidennya atau dokumen kebijakan luar negerinya.

Mereka bisa mengenalnya terlebih dahulu melalui sebuah lagu, film, gim, makanan, karakter, atau cerita.

Dan ketika ketertarikan itu berkembang menjadi konsumsi, perjalanan, komunitas, dan interaksi sosial, budaya populer berubah dari sekadar hiburan menjadi salah satu instrumen penting dalam persaingan pengaruh global.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.