AS dan Eropa Menghadapi Tekanan Energi, Siapa yang Paling Terpukul?

AS dan Eropa Menghadapi Tekanan Energi, Siapa yang Paling Terpukul?
Amerika Serikat dan Eropa. Sumber: thedailystar.net

INFORMASI.COM, Jakarta — Amerika Serikat dan Eropa sama-sama menghadapi tekanan energi ketika gangguan pasokan global kembali mendorong harga minyak dan produk olahan ke level tinggi. Namun, karakter tekanannya berbeda. Bagi Amerika Serikat, persoalan utama saat ini terlihat pada kenaikan harga bahan bakar, terutama diesel. Sementara itu, Eropa menghadapi kombinasi tekanan yang lebih kompleks karena harus menjaga pasokan gas menjelang musim dingin ketika persediaan masih berada di bawah rata-rata historis.

Data terbaru menunjukkan harga minyak Brent sempat berada di atas US$100 per barel setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mengganggu arus energi global. International Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report September menyebut harga Brent mencapai US$113,48 per barel pada 9 September 2026, setelah rata-rata Agustus 2026 berada di US$91 per barel.

Eropa Masuk Musim Dingin dengan Stok Gas Rendah

Tekanan terbesar Eropa berada pada pasar gas alam. Menurut laporan Reuters pada 17 September 2026, penyimpanan gas Eropa berada sekitar 69 persen penuh, jauh di bawah rata-rata 85 persen untuk periode yang sama dalam lima tahun terakhir. Jerman dan Belanda, yang secara bersama-sama memiliki sekitar 35 persen kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa, termasuk negara dengan pengisian relatif tertinggal.

Harga gas juga menunjukkan tekanan yang kuat. Harga acuan gas Eropa tercatat sekitar €81 per megawatt-jam, sekitar 150 persen lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. Pada saat yang sama, harga bensin di Uni Eropa sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan diesel naik sekitar 38 persen.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Eropa akan memasuki periode musim dingin ketika permintaan pemanas meningkat. Reuters melaporkan pada 17 September 2026 bahwa stok gas Uni Eropa bahkan berada sekitar 67 persen penuh menurut sumber industri, level yang disebut sebagai rekor terendah untuk periode tersebut. Uni Eropa sebelumnya menargetkan penyimpanan sekitar 80 persen pada Desember.

Namun, situasi tersebut belum berarti Eropa menghadapi kekurangan gas secara langsung. Komisi Eropa pada 3 September 2026 menyatakan bahwa tidak terdapat risiko segera terhadap keamanan pasokan gas. Uni Eropa dinilai lebih siap dibandingkan krisis energi 2021–2022 karena telah melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan kapasitas impor LNG, dan menurunkan konsumsi gas. Dengan demikian, persoalan utama Eropa saat ini bukan semata-mata apakah gas tersedia, tetapi berapa mahal biaya untuk memastikan gas tersebut tersedia sepanjang musim dingin.

Amerika Serikat Juga Tertekan, tetapi Struktur Pasokannya Berbeda

Amerika Serikat juga menghadapi kenaikan biaya energi. IEA mencatat harga diesel di AS telah menembus US$200 per barel pada awal September dan berada sekitar 94 persen di atas level sebelum perang. Harga produk olahan di Eropa dan Asia juga meningkat tajam.

Kenaikan harga diesel memiliki dampak luas karena bahan bakar tersebut digunakan dalam transportasi barang, pertanian, konstruksi, industri, dan logistik. Namun, AS memiliki keunggulan struktural dalam produksi energi domestik.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan produksi minyak mentah AS mencapai rata-rata 13,8 juta barel per hari pada 2026, meningkat dari 13,7 juta barel per hari pada 2025. Produksi gas alam AS juga diperkirakan mencapai rekor baru.

Untuk gas alam, EIA memperkirakan persediaan AS pada akhir Oktober mencapai sekitar 3.969 miliar kaki kubik, sekitar 5 persen di atas rata-rata lima tahun. Produksi gas yang kuat dari wilayah Permian dan Haynesville menjadi salah satu penopangnya. Artinya, AS tetap terkena dampak kenaikan harga energi global, tetapi tekanan terhadap keamanan pasokan gas domestik relatif berbeda dari Eropa.

Minyak Menjadi Titik Tekanan Bersama

Perbedaan antara AS dan Eropa tidak berarti Amerika Serikat terbebas dari krisis energi. Keduanya tetap terhubung melalui pasar minyak global.

IEA memperkirakan produksi minyak global turun 5,7 juta barel per hari pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 10 juta barel per hari produksi minyak negara-negara Teluk sempat terdampak gangguan pada Agustus. Persediaan minyak global juga terus menyusut.

EIA memperkirakan persediaan minyak global telah berkurang sekitar 400 juta barel sepanjang 2026 dan masih dapat terus turun hingga akhir tahun. Lembaga tersebut memperkirakan harga Brent rata-rata sekitar US$90 per barel pada paruh kedua 2026.

Tekanan tersebut kemudian diteruskan ke konsumen melalui harga bensin, diesel, biaya logistik, tiket penerbangan, dan berbagai produk yang bergantung pada transportasi.

Eropa Lebih Rentan terhadap Gas, AS Lebih Terlindungi oleh Produksi Domestik

Perbandingan kedua kawasan menunjukkan dua bentuk kerentanan yang berbeda. Eropa menghadapi risiko yang lebih besar pada gas alam. Ketergantungan terhadap pasar LNG global membuat negara-negara Eropa harus bersaing dengan pembeli Asia untuk mendapatkan kargo LNG, terutama apabila musim dingin lebih dingin dari perkiraan.

Reuters melaporkan bahwa jika musim dingin di Eropa dan Asia berlangsung dingin secara bersamaan, pembeli Eropa berpotensi bersaing dengan Asia untuk memperoleh pasokan LNG dari Amerika Serikat.

Sementara itu, AS memiliki bantalan lebih besar pada sisi produksi gas domestik. EIA memperkirakan harga gas Henry Hub rata-rata sekitar US$3,43 per juta British thermal unit pada 2026, jauh berbeda dari tekanan harga gas Eropa yang jauh lebih tinggi.

Namun, posisi tersebut juga memiliki konsekuensi. AS merupakan salah satu pemasok LNG utama dunia. Ketika harga global meningkat, produsen dan eksportir AS memperoleh insentif ekonomi lebih besar untuk mengirim LNG ke pasar internasional. Dengan kata lain, kapasitas produksi AS membantu memperkuat ketahanan energinya sendiri sekaligus menjadikan Amerika Serikat semakin penting bagi keamanan energi Eropa dan Asia.

Jadi, Siapa yang Paling Terpukul?

Jika ukurannya adalah keamanan pasokan gas dan risiko menghadapi musim dingin, Eropa saat ini menghadapi tekanan yang lebih besar. Stok gasnya relatif rendah, harga gas tinggi, dan kawasan tersebut harus bersaing mendapatkan LNG di pasar global yang ketat.

Jika ukurannya adalah beban harga bahan bakar, Amerika Serikat juga menghadapi tekanan serius. Harga diesel AS telah melonjak tajam dan EIA memperkirakan harga diesel ritel AS rata-rata mencapai US$5,55 per galon pada kuartal IV 2026.

Perbedaan utamanya terletak pada struktur energi. Eropa lebih rentan terhadap gangguan dan harga gas global, sedangkan AS memiliki basis produksi minyak dan gas domestik yang lebih besar tetapi tetap menghadapi transmisi harga minyak global ke konsumen.

Karena itu, tekanan energi saat ini bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki energi lebih banyak. Persoalannya adalah siapa yang memiliki akses terhadap energi dengan biaya yang tetap terjangkau ketika pasar global mengalami gangguan pasokan.

Bagi Eropa, ujian terbesar akan datang ketika musim dingin dimulai. Bagi AS, tantangannya adalah menahan kenaikan harga bahan bakar tanpa mengorbankan permintaan domestik, sementara ekspor energi Amerika semakin dibutuhkan oleh pasar global.

Jika gangguan pasokan Timur Tengah berlanjut, kedua kawasan tetap akan menghadapi tekanan. Tetapi berdasarkan kondisi energi terbaru hingga pertengahan September 2026, Eropa memiliki titik kerentanan yang lebih jelas pada gas dan persiapan musim dingin, sementara AS relatif lebih terlindungi pada sisi pasokan domestik.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.