INFORMASI.COM, Jakarta — Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru ketika kecerdasan buatan (AI) berkembang dari sekadar industri teknologi menjadi salah satu arena utama persaingan ekonomi, keamanan nasional, dan pengaruh global.
Perkembangan terbaru menunjukkan posisi kedua negara semakin berdekatan dalam kemampuan AI. Associated Press melaporkan pada 16 September 2026 bahwa China dengan cepat mempersempit kesenjangan dengan Amerika Serikat melalui pengembangan model dari perusahaan seperti Moonshot AI, DeepSeek, Z.ai, dan Alibaba. Di sisi lain, Amerika Serikat masih memiliki keunggulan dalam sejumlah bidang, termasuk penelitian, kemampuan model mutakhir, dan ekosistem teknologi AI.
Perubahan tersebut membuat persaingan AS-China tidak lagi hanya berlangsung di laboratorium perusahaan AI. Pertarungan kini merambah ke semikonduktor, kapasitas komputasi, perangkat lunak, rantai pasok teknologi, keamanan siber, hingga kemampuan negara-negara lain untuk memilih ekosistem teknologi mana yang akan mereka gunakan.
Kesenjangan AI AS-China Makin Menyempit
Salah satu perubahan terbesar terjadi pada kemampuan model AI. Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 14 September 2026 menyebut kesenjangan performa antara model AI Amerika Serikat dan China secara efektif telah menyempit. China mengembangkan strategi yang menekankan open-weight models, sementara perusahaan dan peneliti China juga semakin menguasai teknologi domestik sebagai respons terhadap pembatasan akses terhadap teknologi Amerika.
Model open-weight memungkinkan bobot model tersedia bagi pengembang untuk digunakan atau dimodifikasi dengan tingkat keterbukaan yang lebih tinggi dibanding model AI tertutup. Strategi tersebut memberikan China jalur berbeda untuk memperluas penggunaan AI sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan Amerika.
CSIS menilai perkembangan model China juga mulai memengaruhi pasar global karena model open-weight dapat menjadi alternatif bagi perusahaan yang ingin mengurangi ketergantungan pada teknologi AI Amerika.
Namun, perkembangan itu tidak berarti China telah mengambil alih posisi Amerika Serikat dalam seluruh aspek AI. Analisis terbaru menunjukkan Amerika Serikat masih memiliki keunggulan dalam kemampuan frontier AI, penelitian, serta sejumlah komponen penting dalam ekosistem teknologi AI. Karena itu, kompetisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai proses penutupan kesenjangan daripada pergantian kepemimpinan teknologi secara menyeluruh.
Chip Menjadi Salah Satu Medan Utama
Persaingan AI tidak dapat dipisahkan dari kemampuan memproduksi dan memperoleh chip berperforma tinggi. Model AI mutakhir membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah besar. Karena itu, akses terhadap prosesor AI, memori berkecepatan tinggi, peralatan manufaktur semikonduktor, pusat data, serta jaringan komputasi menjadi bagian penting dari persaingan kedua negara.
Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir memperketat pembatasan ekspor teknologi semikonduktor canggih ke China. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membatasi kemampuan China memperoleh teknologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan AI berkemampuan tinggi.
China kemudian mempercepat upaya membangun ekosistem teknologi domestik. Perkembangan terbaru terlihat dari Huawei. Reuters melaporkan pada 17 September 2026 bahwa permintaan terhadap perangkat komputasi AI Huawei di China telah meningkat hingga produksi perusahaan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik. Huawei juga mempercepat pengembangan generasi chip AI berikutnya dan mengembangkan sistem komputasi berskala besar untuk menghubungkan hingga satu juta prosesor.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa pembatasan akses terhadap chip Amerika tidak menghentikan pengembangan AI China. Sebaliknya, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Beijing memperkuat kemampuan domestik.
Washington Tuduh Ada Pengambilan Kemampuan Model AI
Persaingan kemudian memasuki wilayah baru: bagaimana model AI dikembangkan dan dari mana kemampuan teknologinya diperoleh. Pada 16 September 2026, sejumlah lembaga keamanan Amerika Serikat menuduh perusahaan AI China melakukan industrial-scale distillation terhadap model AI Amerika.
Istilah distillation merujuk pada teknik yang dapat digunakan untuk mentransfer kemampuan dari model AI yang lebih besar ke model lain yang lebih kecil atau lebih efisien. Teknik tersebut sendiri memiliki penggunaan yang sah dalam pengembangan AI, sehingga yang menjadi persoalan Washington adalah dugaan penggunaan secara tidak sah untuk mengekstraksi kemampuan model milik perusahaan Amerika.
Analisis CSIS mencatat pemerintah Amerika Serikat menuduh sejumlah perusahaan China menggunakan metode tersebut untuk mempersempit kesenjangan kemampuan AI. China membantah tuduhan tersebut. Perselisihan ini menunjukkan bahwa medan persaingan AI telah bergeser dari sekadar “siapa yang memiliki model paling canggih” menjadi “siapa yang menguasai pengetahuan, data, komputasi, dan ekosistem pengembang di balik model tersebut”.
China Membangun Ekosistem AI Sendiri
Beijing pada saat yang sama terus mendorong integrasi AI ke dalam sektor ekonomi. Pada 11 September 2026, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China meluncurkan rencana aksi untuk mempercepat integrasi AI dengan industri perangkat lunak dan layanan teknologi informasi.
China menargetkan penggunaan alat pemrograman berbasis AI dan platform pengembangan di lebih dari 20.000 perusahaan perangkat lunak besar pada 2028. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 100 aplikasi berbasis agen AI untuk berbagai sektor serta sedikitnya lima proyek open-source berkualitas tinggi.
Pemerintah China memperkirakan sektor-sektor yang berkaitan dengan AI dapat mencapai nilai gabungan lebih dari 10 triliun yuan pada 2030. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa strategi China tidak hanya mengejar kemampuan model AI. Beijing juga berusaha memastikan AI masuk ke industri manufaktur, perangkat lunak, layanan digital, dan kegiatan ekonomi sehari-hari.
AI Mulai Menjadi Instrumen Pengaruh Global
Persaingan AS-China juga semakin terlihat di luar wilayah kedua negara. Pada KTT BRICS di New Delhi pada September 2026, Presiden China Xi Jinping mengusulkan kerja sama yang lebih besar dalam AI, industri digital, manufaktur pintar, serta pengembangan talenta.
China juga menyatakan akan menjadi pelopor pembentukan komunitas AI open-source BRICS, mendukung pengembangan dan penerapan large language models (LLM), serta mengadakan seminar dan pelatihan AI.
Dalam forum tersebut, Xi juga menyerukan agar negara-negara BRICS meningkatkan kerja sama AI dan memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendorong industrialisasi. Langkah ini memberi dimensi baru pada persaingan teknologi. Pengaruh tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menghasilkan model AI paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang mampu menyediakan teknologi, infrastruktur, pelatihan, dan ekosistem yang digunakan negara lain.
China Dorong Tata Kelola AI yang Lebih Terbuka
Beijing juga berupaya membangun posisi dalam pembentukan aturan global mengenai AI. Dalam konferensi pers Kementerian Luar Negeri China pada 14 September 2026, juru bicara Guo Jiakun mengatakan AI merupakan teknologi penting bagi kesejahteraan manusia dan menyerukan pengembangan AI yang “terbuka dan inklusif”.
Beijing juga menolak apa yang disebutnya sebagai ketakutan berlebihan, konfrontasi, dan persaingan yang merusak karena dinilai dapat menghambat tata kelola AI global. Pada saat yang sama, Xi dalam KTT BRICS menyerukan percepatan pembentukan kerangka tata kelola AI global berbasis konsensus. Posisi tersebut memberikan China ruang untuk tidak hanya menjadi pengembang teknologi, tetapi juga aktor yang ingin ikut menentukan aturan penggunaan AI di tingkat internasional.
Washington Mulai Membuka Ruang Dialog
Di tengah meningkatnya persaingan, kedua negara juga mulai mencari ruang untuk membahas risiko AI. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington terbuka untuk membicarakan risiko AI bersama China. Dialog tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembicaraan tingkat tinggi sebelum rencana pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada 24 September 2026 di Washington.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Amerika Serikat dan China tengah mempersiapkan dialog khusus mengenai risiko keselamatan AI. Salah satu isu yang dibahas adalah kemungkinan kerja sama dalam memantau serangan siber yang diarahkan oleh AI serta pertukaran informasi untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.
Namun, dialog mengenai risiko AI tidak otomatis mengakhiri persaingan teknologi. Washington masih menghadapi persoalan akses China terhadap chip dan teknologi semikonduktor canggih. Sebaliknya, Beijing terus memperkuat kemampuan domestik dan mempertanyakan pembatasan teknologi Amerika.
Perebutan Pengaruh Tidak Lagi Hanya Soal Teknologi. Perkembangan tersebut membuat persaingan AI AS-China memiliki tiga lapisan sekaligus, yaitu:
Pertama, persaingan kemampuan teknologi, mulai dari model AI hingga chip dan komputasi.
Kedua, persaingan ekosistem, yakni siapa yang mampu menciptakan perusahaan, pengembang, pusat data, infrastruktur, dan rantai pasok yang paling kuat.
Ketiga, persaingan aturan dan pengaruh, termasuk siapa yang ikut menentukan standar keamanan, tata kelola, akses teknologi, dan penggunaan AI di negara lain.
Dengan demikian, perkembangan AI telah memperluas medan persaingan strategis AS-China. Teknologi yang dahulu terutama dipandang sebagai produk komersial kini juga menjadi instrumen dalam hubungan ekonomi dan geopolitik.
Bagi Washington, mempertahankan keunggulan AI berkaitan dengan kemampuan menjaga posisi dalam teknologi mutakhir. Bagi Beijing, mempercepat kemandirian AI sekaligus memperluas penggunaan teknologi China menjadi bagian dari strategi pembangunan dan hubungan internasional.
Pertemuan Trump dan Xi pada 24 September akan menjadi salah satu forum penting untuk melihat apakah kedua negara dapat menemukan ruang kerja sama mengenai risiko AI tanpa menghapus persaingan teknologi yang semakin dalam. Yang jelas, babak baru persaingan AI AS-China tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menciptakan model paling kuat, tetapi juga oleh siapa yang mampu membangun ekosistem teknologi dan jaringan pengaruh yang paling luas.