Rusia Gempur Kyiv, Dua Tewas dan 45 Orang Terluka

Rusia Gempur Kyiv, Dua Tewas dan 45 Orang Terluka
8 pangkalan udara Ukraina hancur. Sumber: X (@StanPutins)
Ikhtisar
  • • Rusia menggempur Kyiv dengan gelombang drone pada 23 September 2026, menewaskan dua orang dan melukai 45 orang, menurut Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko.
  • • Serangan menghantam sejumlah infrastruktur sipil dan ekonomi, termasuk fasilitas perkeretaapian, gudang, stasiun bahan bakar, serta bangunan komersial.
  • • Beberapa jam kemudian, Rusia kembali menyerang Kyiv dengan rudal balistik pada dini hari 24 September 2026, menewaskan dua orang lagi dan melukai sedikitnya enam orang menurut laporan awal Reuters.

INFORMASI.COM, Jakarta — Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan udara Rusia ketika perang memasuki fase baru tekanan terhadap infrastruktur perkotaan dan energi. Pada Rabu, 23 September 2026, Rusia melancarkan serangkaian serangan drone terhadap Kyiv sejak pagi hingga malam. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan dua orang tewas dan 45 orang terluka, termasuk dua korban dalam kondisi serius.

Reuters melaporkan serangan berlangsung berjam-jam dan menjadi salah satu serangan berat terhadap Kyiv dalam beberapa waktu terakhir. Drone Rusia menghantam sejumlah lokasi di ibu kota, sementara suara ledakan terdengar di berbagai kawasan kota. Salah satu drone menghantam bangunan nonresidensial sembilan lantai. Sebuah pusat bisnis dan sejumlah gudang juga mengalami kerusakan.

Infrastruktur Perkeretaapian dan SPBU Jadi Sasaran

Serangan tidak hanya berdampak pada bangunan sipil, tetapi juga menyentuh infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi Kyiv. Operator kereta api Ukraina, Ukrzaliznytsia, mengatakan fasilitas perkeretaapian terkena serangan dan seorang pekerjanya terluka. Namun, stasiun kereta api utama Kyiv tidak mengalami kerusakan langsung.

Perusahaan energi Ukraina Ukrnafta juga melaporkan salah satu stasiun bahan bakarnya terkena serangan. Menurut Reuters, fasilitas tersebut menjadi SPBU keenam milik perusahaan yang diserang dalam beberapa pekan terakhir.

Secara keseluruhan, dua stasiun bahan bakar dilaporkan terkena serangan pada 23 September 2026. Rekaman Reuters menunjukkan salah satu fasilitas mengalami kerusakan berat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia terus menjadikan infrastruktur sipil dan kritis sebagai sasaran, termasuk fasilitas farmasi, stasiun bahan bakar, jaringan kereta api, komunikasi dan pusat perbelanjaan.

Drone Bertenaga Jet Jadi Tantangan Baru

Serangan terbaru juga memperlihatkan perubahan kemampuan serangan udara Rusia.

Reuters melaporkan Rusia semakin menggunakan drone bertenaga jet dalam serangan terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya. Drone tersebut dapat bergerak lebih cepat dan terbang pada ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah drone Shahed konvensional.

Perubahan tersebut membuat sistem pertahanan udara Ukraina menghadapi tantangan tambahan. Ketika serangan dilakukan dalam jumlah besar, Ukraina harus mengalokasikan sistem pencegat yang terbatas untuk menghadapi kombinasi drone dan rudal. Bagi Kyiv, persoalan tersebut menjadi semakin penting menjelang musim dingin, ketika infrastruktur listrik dan pemanas kembali menjadi bagian vital dari keamanan masyarakat.

Serangan Terjadi di Tengah Diplomasi di PBB

Gelombang serangan 23 September 2026 terjadi ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB dan membahas kemungkinan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi.

Sehari sebelumnya, Zelenskyy bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas kemungkinan gencatan senjata terhadap sasaran energi serta kebutuhan Ukraina mendapatkan tambahan rudal pencegat Patriot untuk menghadapi potensi kampanye serangan Rusia pada musim dingin. Belum ada kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia.

Zelenskyy kemudian menyampaikan di hadapan Majelis Umum PBB bahwa Ukraina siap melakukan gencatan senjata energi apabila Rusia juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina.

Namun, pada hari yang sama, Kremlin mengatakan kondisi untuk kembali ke perundingan damai belum tersedia. Setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di New York, Moskow kembali menegaskan komitmennya untuk mencapai tujuan perang yang disebut Rusia sebagai “operasi militer khusus”.

Rusia Kembali Serang Kyiv dengan Rudal Balistik

Tekanan terhadap Kyiv berlanjut beberapa jam setelah serangan drone 23 September 2026.

Pada dini hari 24 September 2026, Rusia kembali melancarkan serangan terhadap ibu kota Ukraina menggunakan rudal balistik dan drone. Reuters melaporkan dua orang tewas dan enam orang terluka dalam serangan tersebut berdasarkan keterangan awal Wali Kota Vitali Klitschko.

Pemerintah Kota Kyiv mencatat puing-puing rudal jatuh di sejumlah distrik. Sebuah rumah mengalami kerusakan sebagian setelah puing jatuh di halaman, sementara kendaraan terbakar di area parkir dekat fasilitas medis. Sebuah rumah sakit bersalin juga mengalami kerusakan pada jendela dan bagian fasad akibat jatuhnya puing.

Presiden Zelenskyy mengatakan serangan tersebut terjadi ketika ia sedang bertemu anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS di New York. Dalam pernyataan resmi pada 24 September 2026, Zelenskyy mengatakan sasaran serangan mencakup Kyiv dan infrastruktur sipil, bangunan tempat tinggal, rumah sakit bersalin, infrastruktur energi serta logistik.

Dua Serangan, Korban Berbeda

Perkembangan terbaru membuat angka korban perlu dibedakan berdasarkan waktu.

Serangan 23 September 2026: 2 tewas dan 45 terluka akibat gelombang serangan drone Rusia di Kyiv.

Serangan dini hari 24 September 2026: 2 tewas dan sedikitnya 6 terluka akibat serangan rudal balistik dan drone, berdasarkan laporan awal Reuters.

Karena serangan 24 September 2026 masih berkembang, jumlah korban dapat berubah seiring proses evakuasi dan pencarian di lokasi yang terkena puing.

Musim Dingin dan Infrastruktur Energi Jadi Kekhawatiran

Serangan beruntun tersebut menambah kekhawatiran Ukraina menjelang musim dingin.

Zelenskyy sebelumnya memperingatkan bahwa Rusia dapat kembali meningkatkan serangan terhadap infrastruktur listrik, pemanas, dan fasilitas energi Ukraina. Karena itu, Kyiv meminta tambahan kemampuan pertahanan udara dari negara-negara Barat, terutama sistem yang mampu menghadapi rudal balistik.

Serangan 24 September 2026 menunjukkan tantangan tersebut secara langsung. Selain bangunan tempat tinggal, puing-puing rudal dilaporkan jatuh di dekat fasilitas medis dan kawasan perkotaan lainnya.

Pada saat yang sama, jalur diplomasi belum menghasilkan kesepakatan penghentian serangan. Rusia dan Ukraina masih berbeda mengenai syarat penghentian perang, sementara pertemuan para pejabat kedua negara dan Amerika Serikat berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB.

Diplomasi Berjalan, Serangan Berlanjut

Rangkaian serangan terhadap Kyiv memperlihatkan kontras antara diplomasi dan kondisi di medan perang.

Di New York, Zelenskyy mendorong penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dan meminta dukungan pertahanan udara. Di Kyiv, sirene serangan udara kembali berbunyi dan rudal balistik menghantam ibu kota beberapa jam kemudian.

Hingga 24 September 2026, belum terdapat kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Serangan 23–24 September 2026 justru menunjukkan bahwa tekanan militer masih berlangsung ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus dibicarakan di PBB.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.