Rare Earths Jadi Kartu Penting China di Hadapan Trump

Rare Earths Jadi Kartu Penting China di Hadapan Trump
Ilustrasi - Rare Earths. Sumber: Shutterstock
Ikhtisar
  • • Dominasi China dalam penambangan dan terutama pemrosesan rare earths membuat mineral strategis ini menjadi salah satu isu penting dalam pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Washington pada 24 September 2026.
  • • Amerika Serikat sedang mempercepat pembangunan rantai pasok domestik, tetapi data terbaru menunjukkan Washington masih akan bergantung pada China hingga dekade 2030-an.
  • • Bagi Beijing, rare earths bukan sekadar komoditas ekspor. Mineral tersebut berkaitan dengan industri otomotif, elektronik, energi, semikonduktor, hingga sistem pertahanan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Washington pada Kamis, 24 September 2026. Di antara berbagai isu yang berada di meja perundingan, rare earths menjadi salah satu persoalan ekonomi paling strategis.

Reuters melaporkan pada 24 September 2026 bahwa Amerika Serikat masih akan bergantung pada China untuk kebutuhan rare earths hingga dekade 2030-an, meskipun pemerintahan Trump sedang mempercepat pembangunan fasilitas pertambangan dan pemrosesan domestik. Kondisi tersebut menciptakan ketimpangan posisi tawar ketika kedua pemimpin membahas masa depan hubungan ekonomi AS-China.

Rare earths atau unsur tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur yang memiliki sifat magnetik, optik, dan elektronik khusus. Material tersebut digunakan untuk membuat magnet berkinerja tinggi, komponen kendaraan listrik, elektronik, turbin angin, komputer, hingga sejumlah sistem pertahanan. Karena itu, persoalan rare earths tidak lagi sekadar menyangkut perdagangan mineral. Ia telah masuk ke wilayah keamanan ekonomi dan teknologi.

China Menguasai Titik Penting Rantai Pasok

Kekuatan China terletak bukan hanya pada jumlah mineral yang ditambang, tetapi juga pada kemampuan mengolahnya. Data U.S. Geological Survey menunjukkan China menyumbang sekitar 68 persen produksi rare earths dunia pada 2025. USGS juga mencatat China memiliki posisi sangat dominan dalam pemrosesan berbagai unsur tanah jarang. Untuk sejumlah heavy rare earths seperti dysprosium dan terbium, ketergantungan terhadap kapasitas pemrosesan China bahkan jauh lebih tinggi.

Reuters pada 21 September 2026 juga melaporkan China menguasai hingga sekitar 70 persen pertambangan global dan lebih dari 85 persen kapasitas pemurnian serta produksi logam tanah jarang. Dominasi pada tahap pemrosesan inilah yang membuat upaya negara lain membangun rantai pasok alternatif membutuhkan waktu panjang.

Dengan kata lain, negara lain dapat mencari sumber bijih baru. Namun, membangun fasilitas pemisahan, pemurnian, pembuatan logam, hingga produksi magnet membutuhkan investasi, teknologi, tenaga ahli, dan waktu. Di sinilah posisi China menjadi penting.

Bukan Sekadar Tambang, tetapi Penguasaan Teknologi Pengolahan

Persoalan terbesar bagi Amerika Serikat bukan semata-mata ketersediaan cadangan mineral. Washington juga harus mengejar ketertinggalan dalam pengolahan dan manufaktur lanjutan. USGS mencatat China telah membangun kapasitas besar dari pertambangan hingga fasilitas smelting dan separation. Data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan China berada di sepanjang rantai pasok, bukan hanya di lokasi tambang.

Hal tersebut menjelaskan mengapa Amerika Serikat tetap menghadapi ketergantungan meskipun investasi domestik meningkat. Reuters menilai pembangunan kapasitas AS memang berkembang pesat, tetapi belum cukup untuk menggantikan peran China dalam waktu dekat. Bahkan dengan peningkatan produksi domestik, Amerika masih diperkirakan membutuhkan impor China hingga dekade 2030-an.

Pernah Menjadi Sumber Ketegangan Dagang

Rare earths sebelumnya telah menjadi salah satu titik panas dalam konflik perdagangan AS-China. China memperketat kontrol ekspor sejumlah unsur tanah jarang pada April 2025, termasuk samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium. Beijing menyatakan kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan aturan pengendalian ekspor dan pertimbangan keamanan nasional.

China kemudian memperluas pengendalian ekspor pada Oktober 2025. Pemerintah China juga menerapkan aturan yang mencakup teknologi terkait penambangan, pemisahan, pemurnian, pembuatan material magnet, serta pemanfaatan kembali sumber daya tanah jarang. Bagi industri global, sistem lisensi tersebut membuat akses terhadap mineral strategis tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar.

Izin ekspor dan pemeriksaan penggunaan akhir menjadi bagian penting dari rantai pasok.

AS Berusaha Mengurangi Ketergantungan

Washington menyadari persoalan tersebut. Pada Januari 2026, pemerintahan Trump menyatakan mineral kritis yang telah diproses dan produk turunannya memiliki arti penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Gedung Putih secara khusus menyebut magnet permanen berbasis rare earths sebagai komponen penting dalam elektronik dan kendaraan, sementara mineral kritis lainnya digunakan dalam sistem pertahanan, energi, komunikasi, navigasi, dan infrastruktur.

Pada Juli, Trump juga mengambil langkah untuk meningkatkan pasokan mineral kritis yang dapat dipulihkan, termasuk magnet permanen rare earths yang sudah digunakan serta material bekas dan limbah yang mengandung mineral kritis. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pasokan domestik melalui daur ulang dan pemulihan material.

Sebulan kemudian, Gedung Putih mengumumkan investasi baru untuk memperkuat industri pertambangan dan rantai pasok mineral kritis Amerika. Salah satu langkahnya adalah dukungan terhadap pengembangan tambang rare earths di Madagaskar untuk memasok kebutuhan manufaktur Amerika. Strateginya jelas, yaitu mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber tanpa harus menghentikan hubungan dagang dengan China.

Kesepakatan Mei Belum Menghapus Persoalan

Isu tersebut juga memiliki latar belakang dari kesepakatan Trump dan Xi sebelumnya.

Dalam kesepakatan ekonomi Mei 2026, China berkomitmen menangani kekhawatiran Amerika mengenai kekurangan pasokan rare earths dan mineral kritis, termasuk yttrium, scandium, neodymium, dan indium. China juga berkomitmen menangani pembatasan terhadap penjualan peralatan dan teknologi produksi serta pemrosesan rare earths.

Namun, menjelang pertemuan 24 September 2026, persoalan pasokan belum sepenuhnya selesai. Reuters melaporkan bahwa pejabat Amerika Serikat dan Jepang bahkan bertemu dengan kalangan perusahaan untuk membahas hambatan pasokan yttrium, mineral yang digunakan antara lain dalam industri kedirgantaraan dan pembuatan chip. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua minggu sebelum Trump dan Xi bertemu di Washington.

Artinya, persoalan yang dibahas bukan sekadar apakah China bersedia menjual rare earths, tetapi juga seberapa stabil, transparan, dan dapat diprediksi akses terhadap material tersebut.

Mengapa Trump Tidak Bisa Mengabaikan China?

Ketergantungan tersebut menciptakan dilema bagi Washington. Amerika Serikat ingin memperkuat industri domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap China. Namun, membangun rantai pasok baru membutuhkan waktu. Sementara itu, industri Amerika membutuhkan material tersebut sekarang.

Situasi ini membuat kebijakan terhadap China harus mempertimbangkan dua kebutuhan sekaligus: mempertahankan tekanan strategis terhadap Beijing dan mencegah gangguan pasokan yang dapat memukul industri Amerika.

Reuters pada 21 September 2026 melaporkan bahwa dominasi China atas rare earths menjadi salah satu faktor yang mendorong pendekatan Trump menjadi lebih berhati-hati menjelang pertemuan dengan Xi.

Dalam konteks tersebut, rare earths menjadi kartu penting bagi Beijing bukan karena China dapat menghentikan seluruh pasokan dunia secara sederhana, tetapi karena China menguasai bagian yang sulit digantikan dalam rantai pasok.

Kartu China, tetapi Bukan Tanpa Risiko

Meski demikian, dominasi rare earths juga memiliki batas. China tetap berkepentingan mempertahankan reputasi sebagai pemasok bagi industri global. Gangguan pasokan yang terlalu besar dapat mempercepat upaya Amerika Serikat, Jepang, Eropa, Australia, dan negara lain membangun sumber alternatif.

Amerika Serikat dan sekutunya sudah bergerak ke arah tersebut.

China sendiri juga tidak sepenuhnya menggunakan rare earths sebagai instrumen pemutusan perdagangan. Sistem pengendalian ekspor lebih banyak bekerja melalui lisensi dan pemeriksaan terhadap penggunaan barang. Pemerintah China sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan pengendalian ekspor tersebut berkaitan dengan keamanan nasional dan kewajiban nonproliferasi.

Karena itu, pengaruh Beijing lebih tepat dipahami sebagai kemampuan mengatur akses dan tingkat kepastian pasokan, bukan kemampuan untuk mengendalikan seluruh pasar dunia tanpa konsekuensi.

Pertarungan Sesungguhnya Ada di Rantai Pasok

Pertemuan Trump-Xi pada 24 September 2026 memperlihatkan perubahan penting dalam persaingan AS-China. Dulu, perdagangan bilateral terutama berkisar pada tarif, ekspor-impor, dan defisit perdagangan. Kini, perdebatan bergerak lebih jauh ke pertanyaan tentang siapa yang menguasai bahan baku, teknologi, pemrosesan, manufaktur, dan rantai pasok industri masa depan.

Rare earths menjadi contoh paling jelas.

China memiliki keunggulan pada saat ini karena menguasai sebagian besar pertambangan dan kapasitas pemrosesan global. Amerika Serikat merespons dengan investasi domestik, diversifikasi pemasok, daur ulang, dan kerja sama dengan negara lain. Dengan demikian, pertemuan Trump dan Xi bukan hanya membicarakan berapa banyak rare earths yang dapat dikirim China ke Amerika.

Yang lebih strategis adalah pertanyaan mengenai siapa yang akan mengendalikan rantai pasok mineral kritis dunia dalam dekade berikutnya.

Jika Washington berhasil membangun alternatif, daya tawar China dapat berkurang secara bertahap. Jika proses tersebut berjalan lambat, ketergantungan Amerika terhadap kapasitas China akan tetap menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan ekonomi kedua negara.

Untuk saat ini, rare earths masih menjadi salah satu kartu penting yang dibawa Beijing ke meja perundingan.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.