Trump Tolak Proposal Iran Buka Hormuz, Diplomasi Kembali Menemui Jalan Buntu

Trump Tolak Proposal Iran Buka Hormuz, Diplomasi Kembali Menemui Jalan Buntu
Presiden AS, Donald Trump. Sumber: BBC
Ikhtisar
  • • Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sekaligus menghentikan konflik dan melanjutkan perundingan.
  • • Proposal Teheran mensyaratkan sejumlah langkah dari Washington, termasuk penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi terhadap penjualan minyak, serta gencatan senjata regional.
  • • Iran mengatakan pintu diplomasi masih terbuka, tetapi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan pembukaan Hormuz tetap bergantung pada terpenuhinya syarat yang diajukan Teheran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali tersendat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal Teheran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

Trump menyampaikan penolakan tersebut kepada wartawan di Gedung Putih pada Sabtu, 26 September 2026, sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memaparkan proposal itu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

“Saya menolak kesepakatan mereka,” kata Trump (dikutip dati BBC) ketika ditanya mengenai rencana Iran tersebut. Presiden AS juga menyatakan bahwa Teheran ingin segera membuka Selat Hormuz karena mengalami tekanan ekonomi akibat konflik dan pembatasan perdagangan.

Perkembangan tersebut kembali memperlebar jarak antara Washington dan Teheran setelah dalam beberapa hari sebelumnya kedua pihak masih membuka jalur komunikasi melalui mediator.

Iran Ajukan Rencana Tujuh Hari

Proposal Iran disampaikan Araghchi pada 25 September 2026 dalam keterangan kepada media di markas PBB.

Menurut Araghchi, Teheran telah menyampaikan rencana konkret tujuh hari kepada Amerika Serikat melalui Qatar. Jika Washington menerima proposal tersebut dan memenuhi persyaratan Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat dilakukan dalam tujuh hari.

Rencana itu memiliki tahapan yang cukup jelas. Iran meminta Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran, menghapus tekanan terhadap ekspor minyak Iran, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta menyetujui penghentian permusuhan yang mencakup kawasan.

Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan lalu lintas kapal dapat kembali dibuka. Pembicaraan lebih luas mengenai isu-isu yang disepakati kedua pihak kemudian dapat dimulai.

Araghchi mengatakan langkah-langkah tersebut pada dasarnya berkaitan dengan komitmen yang sebelumnya sudah dituangkan dalam Memorandum of Understanding atau MOU Iran-AS pada Juni 2026.

Trump Memilih Menolak

Trump tidak menerima formula yang diajukan Teheran.

Menurut laporan Reuters, Trump menyatakan proposal tersebut ditolak ketika ia meninggalkan Gedung Putih pada Sabtu. Ia juga menggambarkan langkah Iran untuk membuka kembali Hormuz sebagai upaya yang dilakukan karena tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Penolakan itu menjadi perkembangan penting karena sebelumnya seorang pejabat AS menyatakan pembicaraan dengan Iran melalui mediator berlangsung “positive and constructive”.

Namun, belum ada kesepakatan mengenai syarat dasar untuk menghentikan konflik.

Laporan Reuters juga menyebut bahwa Trump secara terbuka menolak proposal Iran, sementara mediator yang terlibat dalam komunikasi kedua pihak belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington kepada Teheran.

Kondisi tersebut membuat jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, tetapi proses negosiasi kembali berada dalam ketidakpastian.

Thumbnail Houthi Kembali Menyerang, Dua Rudal dan Dua Drone Dicegat Saudi
i

Baca Juga

Houthi Kembali Menyerang, Dua Rudal dan Dua Drone Dicegat Saudi

Internasional

Iran: Diplomasi Belum Ditutup

Teheran merespons penolakan Trump dengan tetap mempertahankan posisi bahwa penyelesaian konflik harus dicapai melalui perundingan.

Pada 27 September 2026, Araghchi mengatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap bergantung pada terpenuhinya persyaratan Iran.

“Hanya solusi melalui perundingan yang dapat mengeluarkan mereka dari jalan buntu ini,” tulis Araghchi dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters.

Ia juga mengatakan Iran masih menunggu mediator menyampaikan secara resmi posisi akhir Washington sebelum Teheran mengambil keputusan berikutnya.

Dengan demikian, penolakan Trump belum secara otomatis mengakhiri seluruh jalur komunikasi. Iran masih menunggu respons resmi melalui mekanisme mediasi yang selama ini digunakan.

Hormuz Menjadi Kunci Konflik

Selat Hormuz berada di pusat perselisihan karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor perdagangan energi paling strategis di dunia.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah mengganggu lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut dan memberikan dampak terhadap arus minyak serta perekonomian global. Reuters melaporkan konflik yang telah berlangsung sekitar tujuh bulan itu telah mengganggu aliran minyak melalui jalur strategis tersebut.

Iran menyatakan pembukaan Hormuz dapat dilakukan jika persyaratan politik dan keamanan yang diajukannya dipenuhi. Namun, Washington memiliki posisi berbeda. Gedung Putih sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat mengendalikan akses pelayaran di Selat Hormuz dan bahwa operasi angkatan laut AS digunakan untuk menjaga pergerakan energi sekaligus menekan pendapatan Iran.

Perbedaan posisi mengenai siapa yang bertanggung jawab atas gangguan pelayaran menjadi salah satu persoalan utama dalam negosiasi.

Thumbnail Enam Pelajaran dari Pekan Diplomasi PBB 2026
i

Baca Juga

Enam Pelajaran dari Pekan Diplomasi PBB 2026

Internasional

Persoalan Nuklir Tetap Mengganjal

Di balik persoalan Hormuz terdapat isu yang lebih luas, yaitu program nuklir Iran.

Trump berulang kali menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 22 September 2026, Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap kemungkinan Iran memperoleh senjata nuklir.

Iran, sementara itu, mengatakan siap membahas program nuklirnya dalam perundingan, tetapi tidak bersedia menerima tekanan atau pemaksaan. Menurut Reuters, seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tidak akan memberikan konsesi mengenai hak-haknya, termasuk pengayaan uranium, bahkan jika Amerika Serikat menerima proposal perdamaian tersebut.

Perbedaan tersebut membuat persoalan Hormuz dan isu nuklir saling berkaitan dalam proses diplomasi.

MOU Juni Menjadi Titik Perselisihan

Perselisihan terbaru juga berakar pada kesepakatan yang sebelumnya dicapai kedua negara.

Pada Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran menandatangani MOU yang, menurut pemerintah AS, mencakup komitmen Iran untuk membantu memastikan keamanan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Washington kemudian menyatakan Iran melanggar komitmen tersebut setelah terjadi serangan terhadap sejumlah kapal komersial pada Juli.

Iran memiliki versi berbeda.

Dalam pernyataannya kepada Dewan Keamanan PBB pada 25 September 2026, Araghchi mengatakan Iran telah mengambil langkah untuk memulihkan lalu lintas maritim setelah MOU tersebut, tetapi implementasinya kemudian terhenti akibat tindakan unilateral Amerika Serikat dan operasi militernya. Perbedaan penafsiran terhadap MOU tersebut menjadi salah satu hambatan dalam membangun kembali kepercayaan antara kedua pihak.

Diplomasi Belum Berakhir, tetapi Belum Menemukan Titik Temu

Penolakan Trump terhadap proposal tujuh hari Iran memperlihatkan bahwa kedua pihak masih memiliki perbedaan mendasar mengenai urutan langkah yang harus dilakukan.

Iran menginginkan perubahan tekanan dan blokade terlebih dahulu sebelum pembukaan Hormuz dan pembicaraan lebih luas. Washington, sebaliknya, mempertahankan tekanan terhadap Teheran dan menuntut perubahan kebijakan Iran sebagai bagian dari penyelesaian konflik.

Karena mediator belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington kepada Teheran, jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Namun, belum terdapat kesepakatan baru yang dapat menghentikan konflik atau menjamin pembukaan kembali Hormuz.

Hingga 27 September 2026, situasi tersebut membuat diplomasi AS-Iran kembali berada dalam fase ketidakpastian. Proposal Iran masih menjadi dasar pembicaraan, tetapi penolakan Trump menunjukkan bahwa kedua negara belum menemukan formula yang dapat diterima bersama.

Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi titik strategis yang menghubungkan persoalan perang, keamanan pelayaran, program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan stabilitas energi global.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.