- • Elon Musk kembali masuk lingkaran resmi pemerintahan Presiden Donald Trump.
- • Kini, bos Tesla itu menjadi co-leader “Project Meridian”, studi Pentagon tentang masa depan peperangan.
- • Musk sebelumnya memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) yang memotong ribuan pekerjaan federal, sebelum hengkang Mei 2025.
INFORMASI.COM, Jakarta - Miliarder teknologi Elon Musk secara resmi kembali masuk struktur advisori pemerintahan Presiden Donald Trump. Bos Tesla itu akan menjadi salah satu pemimpin “Project Meridian”, inisiatif Pentagon yang bertujuan mempelajari dan merumuskan arah masa depan peperangan.
Pengumuman itu disampaikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pidato di Pangkalan Militer Quantico, Virginia, Rabu (7/10/2026).
“Project Meridian akan menjadi upaya yang dipimpin oleh otak-otak terbaik Amerika untuk mempelajari masa depan peperangan,” kata Hegseth. “Kami memanfaatkan sumber keunggulan Amerika yang unik, yang tidak dimiliki musuh kita: para inovator, pemimpin senior, dan teknolog kami,” kata Hegseth.
Tarik Ulur Hubungan Trump dan Elon Musk
Secara kronologis, keterlibatan Musk dalam pemerintahan Trump dimulai pada 2024, ketika ia secara terbuka mendukung kampanye Trump dan membantu kembalinya mantan presiden itu ke Gedung Putih. Setelah Trump menang, Musk ditunjuk sebagai kepala Department of Government Efficiency (DOGE), sebuah unit khusus yang memimpin pemotongan pekerjaan besar-besaran di seluruh pemerintah federal AS.
Namun, hubungan keduanya sempat retak pada awal 2025 akibat perselisihan publik soal undang-undang belanja pemerintah. Musk akhirnya meninggalkan DOGE pada Mei 2025. Sejak itu, keduanya melakukan rekonsiliasi, dan Musk kembali menjadi sosok yang sering hadir di Gedung Putih, meski tidak seintens periode sebelumnya.
Puncak rekonsiliasi itu terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Selasa (6/10), Musk duduk di sebelah Trump saat makan siang dengan para eksekutif kecerdasan buatan (AI), di mana ia ikut menandatangani kesepakatan keselamatan AI sukarela yang disebut Trump sebagai “mengikat secara moral”.
Pekan lalu, Musk juga hadir dalam jamuan kenegaraan Trump untuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan pada Mei ia terbang ke Beijing menggunakan Air Force One sebagai bagian dari delegasi bisnis yang mendampingi Trump dalam kunjungan kenegaraan.
Apa itu Project Meridian?
Project Meridian akan dipimpin tiga figur kunci: Elon Musk, Palmer Luckey (34 tahun), co-founder perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries, dan Newt Gingrich (83 tahun), mantan Ketua DPR AS dari Partai Republik. Hegseth mengatakan proyek ini akan menghimpun pemimpin sektor swasta, akademisi, dan pakar kebijakan yang dipilih secara khusus.
“Tujuan proyek ini adalah secara kreatif melihat ke masa depan dan mengidentifikasi domain yang harus kita kuasai serta kemampuan yang harus kita kuasai,” kata Hegseth. Ia menambahkan, temuan Project Meridian harus selesai dan diserahkan dalam 120 hari.
Keterlibatan Musk dalam Project Meridian tidak terlepas dari posisi perusahaan-perusahaannya yang sudah menjadi kontraktor utama Pentagon. SpaceX, misalnya, sedang membangun jaringan satelit untuk perisai rudal “Golden Dome” yang direncanakan Trump. Sementara itu, firma AI-nya, xAI, tahun ini menandatangani kesepakatan yang memungkinkan militer menggunakan chatbot Grok pada sistem rahasia.go+2
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang potensi konflik kepentingan, meski tidak ada pernyataan resmi yang mengangkat isu tersebut. Namun, fakta bahwa Musk kini kembali dekat dengan Trump, setelah sempat berselisih, menunjukkan bahwa hubungan bisnis-politik antara keduanya tetap strategis.
Musk Kembali Jadi Donatur Utama Republik
Di politik, Musk juga kembali menjadi donatur utama Partai Republik. Setelah menghabiskan lebih dari 250 juta dolar AS untuk mendukung Trump dan kandidat Republik lainnya dalam pemilu 2024, Musk pada siklus pemilu sela November 2026 telah menyumbangkan sedikitnya 90 juta dolar AS kepada kandidat individu dan kelompok politik konservatif, berdasarkan data Komisi Pemilihan Federal AS.
Kembalinya Musk ke lingkaran kekuasaan Trump, baik sebagai penasihat militer maupun donatur, menandai konsolidasi baru antara sektor teknologi, pertahanan, dan politik di Washington. Dengan tenggat 120 hari, Project Meridian diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret yang akan membentuk arah strategi pertahanan AS di era kecerdasan buatan, perang siber, dan otonomi tempur.