- • Kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Singapura, Malaysia, Brunei, hingga Filipina.
- • Pada Rabu (14/10/2026), Singapura mencatat AQI 181 atau kategori tidak sehat, sementara sejumlah wilayah Malaysia seperti Johor, Selangor, Melaka, Pahang, dan Kuala Lumpur juga tidak sehat.
- • ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) melaporkan asap dengan intensitas sedang hingga pekat di Semenanjung Malaysia, Singapura, Kalimantan, Sumatra, dan Sarawak bagian barat.
INFORMASI.COM, Jakarta - Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kini melampaui batas wilayah. Asap tersebut menurunkan kualitas udara di sebagian besar wilayah Indonesia serta negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) yang diperbarui Rabu (14/10/2026) mencatat kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat. Kabut itu terpantau di Sumatra, Kalimantan, Singapura, Semenanjung Malaysia, serta Sarawak bagian barat.
“Kabut asap lintas batas berkisar dari sedang hingga pekat terdeteksi di Sumatra, Kalimantan, Singapura, Semenanjung Malaysia, serta Sarawak bagian barat,” kata ASMC.
Singapura Tertekan Asap
Kualitas udara Singapura memburuk tajam dalam beberapa hari terakhir. Data IQAir mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) Singapura mencapai 181 pada Rabu, masuk kategori tidak sehat.
Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) melaporkan konsentrasi partikel halus PM2,5 di wilayah barat negara itu mencapai 288 mikrogram per meter kubik. Kualitas udara di wilayah tersebut bahkan masuk kategori tertinggi dalam klasifikasi nasional Singapura.
Sebelumnya, pada 9 Oktober 2026, Indeks Standar Polutan (PSI) Singapura sempat menyentuh angka 192. Angka itu menjadi rekor tertinggi sepanjang 2026 dan mendekati kategori sangat tidak sehat.
Malaysia dan Brunei Ikut Terganggu
Di Malaysia, sejumlah wilayah juga mencatat kualitas udara tidak sehat. Data IQAir per Rabu menunjukkan kondisi itu terjadi di Johor, Selangor, Melaka, Pahang, dan Kuala Lumpur.
ASMC menyebut sejumlah stasiun pemantau di Semenanjung Malaysia dan Sarawak bagian barat melaporkan kualitas udara pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Kabut asap juga terdeteksi di Brunei Darussalam. Laporan Greenpeace menyebut asap telah memengaruhi kualitas udara di wilayah tersebut, bersama Sarawak, Sabah, Johor, Kuala Lumpur, Singapura, dan sebagian Filipina.
Asal Masalah: Karhutla di Indonesia
Sumber utama kabut asap tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Asap dari titik kebakaran itu bergerak melintasi perbatasan karena arah angin dan kondisi cuaca kering.
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Namun, intensitas karhutla tahun ini dinilai lebih parah karena dipicu El Nino, sehingga kebakaran meluas dan asapnya menyebar lebih jauh.
“Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memicu kabut asap hingga menurunkan kualitas udara para negara tetangga,” demikian laporan DW.
Dampak Meluas ke Sektor Publik
Kabut asap tidak hanya menurunkan kualitas udara. Di Timor-Leste, pemerintah memutuskan menutup sekolah secara nasional selama tiga hari mulai Kamis, menyusul masuknya asap dari Indonesia.
Kabut asap juga diduga memperburuk gangguan pernapasan di wilayah terdampak. Reuters melaporkan, musim kebakaran yang dipicu El Nino ini menaikkan kasus penyakit pernapasan dan menurunkan kualitas udara secara drastis di Singapura serta Malaysia.
Sementara itu, pemerintah Indonesia masih berupaya memadamkan kebakaran di sejumlah titik. Namun, selama sumber kebakaran belum terkendali, risiko asap lintas batas diperkirakan tetap mengancam kualitas udara di kawasan ASEAN.