Trump Tuduh Zelensky Tak Mau Akhiri Perang, Kesal karena Ukraina Serang Kilang Minyak Rusia

Trump Tuduh Zelensky Tak Mau Akhiri Perang, Kesal karena Ukraina Serang Kilang Minyak Rusia
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Washington DC, Senin (18/8/2025). Foto: X/whitehouse
Ikhtisar
  • • Donald Trump menuduh Volodymyr Zelensky tidak ingin mengakhiri perang Rusia-Ukraina setelah Kyiv kembali menyerang infrastruktur minyak Rusia.
  • • Trump membela keputusannya melonggarkan sejumlah sanksi terhadap Rusia, termasuk pembatasan terkait bahan bakar diesel, demi menjaga Moskow tetap berada di meja perundingan.
  • • Zelensky memperingatkan bahwa keberpihakan Amerika Serikat kepada Rusia akan menjadi “kesalahan bersejarah.”

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyerang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara terbuka. Trump menuduh pemimpin Ukraina itu tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri perang dengan Rusia, menyusul serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia dan keputusan Washington melonggarkan sejumlah sanksi terhadap Moskow.

Perselisihan tersebut memperlihatkan ketegangan baru dalam hubungan Amerika Serikat dan Ukraina. Trump ingin mempertahankan jalur perundingan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sedangkan Kyiv khawatir pelonggaran sanksi justru memberikan keuntungan ekonomi kepada Moskow ketika perang masih berlangsung.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu (18/10/2026), Trump membela keputusannya untuk menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia. Ia beralasan bahwa tekanan ekonomi yang terlalu besar pada saat perundingan berlangsung dapat membuat Moskow meninggalkan meja perundingan.

“Keputusan saya mengenai Rusia sangat sederhana. Saya sedang dalam proses merundingkan perdamaian dalam perang antara Rusia dan Ukraina, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang secara ceroboh akan membuat Rusia menjauh dari meja perundingan,” tulis Trump, dikutip Senin (19/10/2026).

Trump juga mengklaim perundingan telah menghasilkan kemajuan. Ia menyebut adanya perkembangan besar dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, termasuk negosiasi mengenai pembebasan sandera.

Namun, di tengah klaim kemajuan tersebut, Trump justru melontarkan tuduhan keras terhadap Zelensky. Ia menyebut pemimpin Ukraina itu tidak menginginkan perang berakhir dan mempertanyakan kesungguhannya dalam mencari perdamaian.

Serangan Drone Ukraina Picu Kemarahan Trump

Ketegangan terbaru muncul setelah Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Rusia pada Sabtu (17/10/2026). Serangan tersebut menyasar sejumlah infrastruktur Rusia, termasuk fasilitas penting yang berkaitan dengan industri minyak.

Trump secara khusus mempersoalkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Menurut dia, serangan tersebut dapat memperburuk tekanan terhadap pasokan dan harga bahan bakar, termasuk di pasar Amerika Serikat.

“Zelensky menjadikan kilang diesel di Rusia sebagai target, dengan mengetahui bahwa serangan-serangan ini sangat merugikan pasar diesel dunia, termasuk pasar di Amerika Serikat,” kata Trump.

Trump kemudian mengaitkan sikap Zelensky dengan bantuan keuangan yang telah diterima Ukraina dari negara-negara Barat. Ia menuduh pemimpin Ukraina itu tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri perang meskipun telah menerima dukungan besar dari Eropa dan pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden.

“Dengan semua uang yang terkenal diberikan Eropa kepadanya dan uang yang sebelumnya diberikan Joe Biden yang licik kepadanya, dia tidak ingin mengakhiri perang ini dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya,” ujar Trump.

Tuduhan tersebut merupakan pernyataan Trump dan belum dengan sendirinya membuktikan bahwa Ukraina menolak upaya perdamaian. Kyiv justru menyatakan masih berkomunikasi dengan pihak Washington untuk mencari jalan keluar dari perang.

Trump Longgarkan Sanksi Rusia demi Menekan Harga Bahan Bakar

Perselisihan Trump dan Zelensky juga berkaitan dengan kebijakan energi Washington. Pada Jumat (16/10/2026) malam, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk menangguhkan penerapan sejumlah sanksi baru yang diwajibkan undang-undang.

Trump juga memberikan pelonggaran sementara terhadap sanksi yang berkaitan dengan bahan bakar diesel Rusia. Kebijakan itu memungkinkan pasokan diesel Rusia masuk ke pasar global, dengan harapan menambah pasokan dan menekan harga bahan bakar.

Keputusan tersebut mengejutkan Kyiv dan sejumlah sekutu Ukraina. Kebijakan itu dinilai sensitif karena pendapatan dari ekspor energi merupakan salah satu sumber pemasukan Rusia di tengah perang.

Langkah Trump juga berlangsung menjelang pemilu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Harga bahan bakar menjadi persoalan politik penting setelah biaya energi meningkat sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.

Sejumlah jajak pendapat yang disebut dalam laporan mengenai kebijakan tersebut menunjukkan Partai Republik menghadapi risiko kekalahan dalam pemilu. Kondisi itu menambah tekanan politik bagi Trump untuk meredam kenaikan biaya hidup, termasuk harga bahan bakar.

Trump juga mengatakan Rusia sejauh ini hanya memberikan sedikit bantuan kepada Iran dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Moskow. Ia menyatakan ingin mempertahankan situasi tersebut dan tidak menginginkan pihak lain mengubahnya.

Di sisi lain, pelonggaran sanksi menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara kepentingan diplomatik Washington dan tekanan ekonomi terhadap Rusia. Trump ingin menjaga Moskow tetap bersedia berunding, tetapi Ukraina khawatir kebijakan tersebut dapat memperkuat posisi Rusia.

Zelensky Peringatkan AS soal Keberpihakan kepada Rusia

Zelensky sebelumnya memperingatkan bahwa keberpihakan Amerika Serikat kepada Rusia akan membawa konsekuensi serius. Dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC News, ia mengatakan bahwa jika Washington berpihak kepada Moskow, keputusan tersebut akan menjadi “kesalahan bersejarah”.

Meski hubungan dengan Trump kembali memanas, Zelensky menyatakan komunikasi dengan pihak Amerika Serikat tetap berlangsung. Pada Minggu (18/10/2026), ia mengungkapkan telah berbicara dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.

Pembicaraan tersebut menjadi bagian dari komunikasi berkelanjutan untuk mengupayakan perdamaian. Zelensky menegaskan Ukraina tetap berusaha mendorong penyelesaian perang sekaligus mempertahankan dukungan Washington.

“Kami melakukan segala upaya dari pihak kami untuk mewujudkan hal ini, serta memastikan posisi Amerika tetap kuat guna membantu mempercepat tercapainya perdamaian,” tulis Zelensky melalui akun X miliknya.

Pernyataan kedua pemimpin itu menunjukkan perbedaan pendekatan yang semakin terbuka. Trump berusaha mempertahankan peluang kesepakatan dengan Rusia dan menghubungkan kebijakan sanksi dengan kepentingan pasar energi Amerika Serikat. Sementara itu, Zelensky berupaya menjaga dukungan Washington tanpa menghentikan tekanan Ukraina terhadap infrastruktur Rusia.

Belum ada kepastian apakah perbedaan tersebut akan menghambat perundingan. Trump mengklaim kemajuan sedang dicapai, sedangkan Zelensky menyatakan komunikasi diplomatik terus berjalan. Namun, pertukaran tuduhan di ruang publik menunjukkan bahwa upaya mengakhiri perang masih diwarnai perselisihan mengenai sanksi, energi, dan strategi menghadapi Moskow.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.