- • Luiz Inácio Lula da Silva kembali terpilih sebagai Presiden Brasil setelah meraih 51,75 persen suara, mengungguli Flavio Bolsonaro yang memperoleh 48,25 persen.
- • Kemenangan Lula menjadi pengecualian di tengah pergeseran politik ke kanan yang terjadi di sejumlah negara Amerika Selatan.
- • Maraknya kasus kejahatan, perlambatan ekonomi, kenaikan harga pangan, dan utang rumah tangga menjadi isu penting dalam pemilihan presiden Brasil.
INFORMASI.COM, Jakarta - Luiz Inácio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro. Lula meraih 51,75 persen suara dalam pemungutan suara putaran kedua pada Minggu, sedangkan Flavio memperoleh 48,25 persen.
Kemenangan tersebut membawa Lula kembali memimpin Brasil untuk masa jabatan keempatnya sebagai presiden. Hasil ini sekaligus menjadi pengecualian di tengah kecenderungan sejumlah negara Amerika Selatan yang belakangan memilih pemimpin berhaluan kanan.
Persaingan Lula dan Flavio berlangsung ketat sejak putaran pertama pemilihan pada bulan yang sama. Saat itu, Flavio unggul dengan perolehan 47,03 persen suara, sedangkan Lula memperoleh 45,16 persen. Karena tidak ada kandidat yang meraih mayoritas suara, pemilihan berlanjut ke putaran kedua.
Hasil akhir berbalik mengunggulkan Lula. Ia mampu mengatasi keunggulan awal lawannya dan mempertahankan kepemimpinan politiknya di negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Selatan tersebut.
Kemenangan Lula di Tengah Gelombang Politik Kanan
Kemenangan Lula menjadi sorotan karena sejumlah negara Amerika Selatan justru bergerak ke arah politik kanan dalam beberapa tahun terakhir.
Javier Milei memulai gelombang tersebut setelah memenangkan pemilihan presiden Argentina pada Desember 2023. Perubahan politik serupa berlanjut di negara lain, termasuk kemenangan Jose Kast di Chile pada Maret, Abelardo de la Espriella di Kolombia pada Juni, serta Keiko Fujimori dalam pemilihan putaran kedua di Peru beberapa pekan kemudian.
Sejumlah pemerintahan berhaluan kanan di kawasan itu memiliki kesamaan pandangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama dalam kebijakan keamanan dan pemberantasan narkoba.
Di tengah kecenderungan tersebut, kemenangan Lula menunjukkan bahwa pergeseran ke kanan tidak berlangsung seragam di seluruh Amerika Selatan. Hasil pemilihan Brasil juga membatasi pengaruh politik Trump di kawasan tersebut, yang belakangan semakin dekat dengan agenda pemerintahan konservatif.
Putra Bolsonaro Andalkan Janji Pemangkasan Anggaran
Dalam kampanye, Flavio Bolsonaro mengangkat isu penghematan belanja pemerintah. Ia menggunakan simbol gunting berukuran besar untuk mempromosikan janji pemangkasan belanja publik senilai US$40 miliar atau sekitar Rp720 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.
Gaya kampanye itu mengingatkan pada Presiden Argentina Javier Milei, yang kerap berpose membawa gergaji mesin untuk melambangkan pemangkasan pemborosan anggaran pemerintah.
Flavio juga memasuki putaran kedua dengan modal kemenangan pada tahap pertama. Namun, keunggulan tersebut tidak cukup untuk mengalahkan Lula dalam pemungutan suara final.
Isu ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan kedua kandidat. Pemerintahan Lula mampu menahan banyak dampak tarif yang diberlakukan Trump terhadap Brasil dan mempertahankan tingkat pengangguran tetap rendah. Namun, kenaikan harga pangan dan meningkatnya utang rumah tangga masih membebani masyarakat.
Selain ekonomi, persoalan kejahatan juga menjadi perhatian pemilih dalam pemilihan presiden kali ini.
Lula Pernah Dipenjara dalam Kasus Korupsi
Kembalinya Lula ke kursi presiden menandai perjalanan politik yang panjang dan penuh kontroversi. Ia sebelumnya memimpin Brasil pada periode 2003–2010 sebelum kembali memenangkan pemilihan presiden.
Lula pernah menjalani hukuman penjara selama 580 hari setelah divonis dalam perkara korupsi. Namun, Mahkamah Agung Brasil membatalkan vonis tersebut pada 2021.
Setelah itu, Lula kembali bertarung dalam pemilihan presiden dan mengalahkan Jair Bolsonaro, ayah Flavio, yang saat itu menjabat sebagai presiden. Jair Bolsonaro kemudian dinyatakan bersalah dan dipenjara atas tuduhan mengorganisasi kudeta.
Persaingan antara Lula dan keluarga Bolsonaro dengan demikian kembali menjadi bagian penting dalam politik Brasil. Kemenangan terbaru Lula memperpanjang kiprahnya sekaligus menggagalkan upaya putra Jair Bolsonaro untuk merebut kursi kepresidenan.
Pemungutan Suara Diperpanjang akibat Gangguan
Pemungutan suara pada Minggu sempat diperpanjang setelah terjadi gangguan di sejumlah wilayah. Beberapa bus dilaporkan tidak dapat meninggalkan garasi milik pemerintah kota, sementara hujan lebat melanda wilayah selatan Brasil.
Brasil menerapkan kewajiban memilih bagi sebagian besar warga berusia 18 hingga 70 tahun. Karena itu, gangguan dalam pelaksanaan pemungutan suara menjadi persoalan penting dalam penyelenggaraan pemilihan.
Meski menghadapi gangguan tersebut, pemungutan suara putaran kedua tetap menghasilkan kemenangan bagi Lula dengan selisih 3,5 poin persentase dari Flavio Bolsonaro.