- • Daftar calon yang didukung gerakan mahasiswa diproyeksikan meraih 52 persen suara dan 135–140 kursi parlemen Serbia.
- • Gerakan itu berhasil mengalahkan koalisi Aleksandar Vucic yang hanya memperoleh 39,3 persen suara.
- • Gerakan mahasiswa muncul dari gelombang demonstrasi antikorupsi usai peristiwa runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad, November 2024, yang menewaskan 16 orang.
INFORMASI.COM, Jakarta - Gerakan mahasiswa Serbia mencatat kemenangan besar dalam pemilihan parlemen dini pada Minggu, mengakhiri dominasi politik partai yang dipimpin Aleksandar Vucic selama 14 tahun. Proyeksi awal lembaga survei Ipsos dan CeSID menunjukkan daftar calon yang didukung mahasiswa meraih 52 persen suara, jauh di atas koalisi Vucic yang memperoleh 39,3 persen.
Vucic mengakui kekalahan tersebut sebelum hasil resmi pemilu diumumkan. Berbicara di markas kampanyenya di Belgrade, ia menyatakan bahwa perhitungan berdasarkan sampel berstrata menunjukkan gerakan mahasiswa berpeluang menguasai mayoritas parlemen.
“Saya ingin menyampaikan bahwa berdasarkan sampel berstrata, jelas bahwa kami kalah dalam pemilihan ini,” kata Vucic. “Daftar yang didukung mahasiswa telah menang. Mereka akan memperoleh antara 135 dan 140 kursi, sedangkan kami sekitar 105 kursi.”
Pernyataan itu menjadi pengakuan atas kemunduran terbesar Serbian Progressive Party (SNS) sejak partai tersebut berkuasa pada 2012. Berdasarkan proyeksi Vucic, daftar mahasiswa memperoleh sekitar 2,2 juta suara, sedangkan koalisinya mengumpulkan sekitar 1,72 juta suara.
Pemilu tersebut menentukan seluruh 250 kursi parlemen satu kamar Serbia. Untuk menguasai mayoritas, sebuah kekuatan politik membutuhkan sedikitnya 126 kursi.
Dari Demonstrasi Antikorupsi ke Kemenangan Pemilu
Kemenangan gerakan mahasiswa berakar pada gelombang demonstrasi antikorupsi yang berlangsung hampir dua tahun. Gerakan itu menguat setelah runtuhnya kanopi sebuah stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024, yang menewaskan 16 orang.
Tragedi tersebut memicu kemarahan publik dan tuntutan agar pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban. Mahasiswa kemudian menggelar aksi protes dan blokade universitas, menjadikan isu korupsi serta reformasi lembaga negara sebagai agenda utama gerakan mereka.
Dari rangkaian protes itu, muncul daftar calon bertajuk Student List – Students Win. Daftar tersebut mengusung reformasi kelembagaan dan pemberantasan korupsi, sekaligus menantang partai penguasa maupun kelompok oposisi yang lebih dahulu mapan.
Daftar calon itu secara resmi dipimpin Ilija Srdanovic, seorang profesor universitas di Novi Sad. Salah satu kandidat terkemukanya, Radomir Saicic, merupakan profesor Universitas Belgrade sekaligus anggota Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni Serbia.
Saat perayaan kemenangan berlangsung di markas gerakan mahasiswa, Saicic menyebut hasil pemilu sebagai kemenangan bersejarah bagi warga Serbia.
“Malam ini suara rakyat terdengar,” kata Saicic.
Ia mengatakan hasil sementara memperlihatkan daftar mahasiswa unggul secara meyakinkan di berbagai tempat pemungutan suara.
“Ini adalah kemenangan keberanian atas ketakutan, kemenangan harapan atas sikap apatis, kemenangan keyakinan bahwa Serbia bisa dan harus berubah,” ujarnya.
Saicic menegaskan kemenangan tersebut bukan milik satu orang atau kelompok tertentu. Ia juga meminta pendukung gerakan mahasiswa menghormati proses pemilu, merayakan hasilnya secara damai, serta menghindari provokasi dan bentrokan.
Vucic Sebut Kekalahan sebagai Verifikasi Revolusi
Dalam pernyataan pengakuan kekalahannya, Vucic mengatakan ia memilih mengumumkan proyeksi hasil lebih awal agar para pendukungnya tidak terus menunggu dalam ketidakpastian. Ia juga ingin membantah dugaan bahwa dirinya akan menolak mengakui kekalahan.
Namun, Vucic mengaitkan hasil pemilu dengan dukungan asing terhadap gerakan protes. Ia menyebut hasil tersebut sebagai “verifikasi sebuah revolusi”.
Meski kalah, Vucic menyatakan gerakan politiknya akan tetap bersatu dan melanjutkan kegiatan dari bangku oposisi. Pernyataan itu menandai perubahan posisi politik bagi partai yang selama ini menjadi kekuatan dominan di Serbia.
Vucic sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 27 September untuk mengikuti pemilihan parlemen. Pengunduran diri tersebut membuat Serbia harus menggelar pemilihan presiden baru paling lambat pada akhir Desember.
Hampir 6,5 Juta Warga Berhak Memilih
Pemilihan parlemen dini Serbia diikuti 18 daftar elektoral. Sekitar 6,45 juta warga memiliki hak pilih dan dapat memberikan suara di 8.392 tempat pemungutan suara.
Tempat pemungutan suara ditutup pada pukul 20.00 waktu setempat. Namun, warga yang masih mengantre saat penutupan tetap diizinkan menggunakan hak pilihnya.
Proyeksi awal Ipsos dan CeSID menunjukkan daftar mahasiswa berpeluang memperoleh mayoritas tunggal di parlemen. Jika hasil resmi mengonfirmasi proyeksi tersebut, gerakan yang lahir dari demonstrasi antikorupsi itu akan memiliki posisi kuat untuk membentuk pemerintahan tanpa bergantung pada koalisi dengan partai lain.
Meski demikian, angka perolehan suara dan kursi yang disampaikan dalam laporan awal tersebut masih berupa proyeksi, bukan hasil resmi final.
Pemilu ini menjadi ujian besar bagi politik Serbia setelah bertahun-tahun didominasi SNS. Kemenangan gerakan mahasiswa memperlihatkan bagaimana kemarahan publik terhadap korupsi dan tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Novi Sad berkembang menjadi kekuatan elektoral yang mampu menantang penguasa.