Benda Misterius Jatuh di Kebun Sawit Kalimantan, Ternyata Puing Roket China

Benda Misterius Jatuh di Kebun Sawit Kalimantan, Ternyata Puing Roket China
Serpihan roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang memasuki kembali atmosfer Bumi pada Minggu (18/10). Sumber: BRIN
Ikhtisar
  • • Benda logam berukuran sekitar enam meter ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
  • • Hasil penelusuran BRIN mengarah pada puing roket pembawa satelit ZhuQue-2E milik China.
  • • Serpihan ditemukan sehari setelah warga melaporkan suara gemuruh dari langit dan telah dievakuasi untuk kepentingan identifikasi serta keamanan.

INFORMASI.COM, Jakarta – Penemuan benda logam berukuran besar di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengundang perhatian warga. Benda yang semula tidak diketahui asal-usulnya itu kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari roket pembawa satelit ZhuQue-2E milik China.

Serpihan tersebut ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Agro Bukit, Jalan Sampit–Pangkalan Bun Kilometer 26, pada Senin (19/10/2026) pagi. Bentuknya menyerupai bagian badan pesawat atau komponen wahana antariksa, dengan sejumlah kabel yang masih melekat.

Hasil penelusuran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa benda tersebut diduga kuat merupakan bagian dari roket yang kembali memasuki atmosfer Bumi pada Minggu (18/10/2026).

Benda Logam Ditemukan di Dalam Kebun Sawit

Penemuan serpihan bermula ketika seorang pekerja perkebunan menemukan benda logam berukuran besar di area kebun. Lokasinya berada di kawasan perkebunan PT Agro Bukit, sekitar Kilometer 26 jalan yang menghubungkan Sampit dan Pangkalan Bun.

Benda tersebut memiliki panjang sekitar enam meter. Sejumlah kabel dan komponen masih 

terlihat menempel pada bagian logam yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh itu.

Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Petugas melakukan penelusuran di lokasi dan berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk mengetahui asal-usul benda serta memastikan aspek keselamatannya.

Pada tahap awal, bentuk benda yang tidak biasa memunculkan berbagai dugaan. Namun, identifikasi tidak hanya dilakukan berdasarkan penampilan fisiknya, melainkan juga melalui penelusuran kode komponen dan data lintasan benda antariksa.

Warga Sempat Mendengar Suara Gemuruh dari Langit

Sebelum serpihan ditemukan, warga di sejumlah wilayah Kotim melaporkan suara dentuman atau gemuruh dari langit pada Minggu (18/10/2026) sore.

Laporan suara tersebut muncul dari beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Cempaga Hulu, Telawang, Mentawa Baru Ketapang, dan Baamang. Waktu kejadian menjadi salah satu petunjuk yang kemudian diperiksa untuk mengetahui kemungkinan kaitannya dengan penemuan benda logam keesokan harinya.

Peneliti Ahli Utama bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa penelusuran data orbit menunjukkan bekas roket ZhuQue-2E melintasi wilayah Kalimantan pada hari tersebut.

Lintasan benda itu bergerak dari arah utara menuju selatan. Sekitar pukul 17.36 WIB, posisinya diperkirakan berada di sekitar Sampit, berdekatan dengan waktu ketika warga melaporkan suara gemuruh.

Kesesuaian waktu dan jalur lintasan tersebut menjadi petunjuk kuat dalam proses identifikasi. Meski demikian, laporan suara gemuruh dan temuan serpihan merupakan dua hal yang perlu dibedakan dari kepastian mengenai sumber suara yang didengar warga.

BRIN Telusuri Asal Serpihan Roket China

Hasil analisis orbit mengarah pada roket ZhuQue-2E, yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace. Roket tersebut digunakan untuk membawa satelit ke orbit Bumi.

Berdasarkan informasi peluncuran yang disampaikan BRIN, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan membawa sepuluh satelit.

Setelah menjalankan misi peluncuran, bagian roket yang tidak lagi digunakan dapat tetap berada di orbit untuk sementara waktu. Ketinggiannya kemudian dapat berkurang akibat hambatan atmosfer hingga akhirnya memasuki kembali atmosfer Bumi.

Dalam kasus yang terjadi di Kotim, penelusuran data orbit menunjukkan lintasan terakhir bekas roket tersebut berdekatan dengan wilayah ditemukannya serpihan. Informasi itu memperkuat dugaan bahwa benda logam di perkebunan sawit merupakan bagian dari roket ZhuQue-2E.

Selain analisis orbit, penanda pada komponen juga menjadi salah satu petunjuk dalam proses identifikasi. Pihak terkait turut melakukan koordinasi untuk mencocokkan temuan di lapangan dengan informasi teknis mengenai roket tersebut.

Mengapa Puing Roket Bisa Mencapai Permukaan Bumi?

Benda buatan manusia yang sudah tidak lagi berfungsi di ruang angkasa dikenal sebagai sampah antariksa. Bentuknya beragam, mulai dari satelit yang tidak aktif hingga bagian roket dan pecahan komponen wahana antariksa.

Ketika benda-benda tersebut kembali memasuki atmosfer Bumi, kecepatannya yang tinggi menimbulkan pemanasan ekstrem akibat interaksi dengan udara. Proses ini dapat menyebabkan material terbakar, meleleh, atau terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Namun, tidak semua material selalu habis terbakar. Komponen tertentu dapat bertahan selama proses masuk kembali ke atmosfer dan mencapai permukaan Bumi.

Kemungkinan tersebut menjadi salah satu penjelasan ilmiah atas temuan serpihan logam di perkebunan kelapa sawit Kotim. Ukuran, bentuk, serta kondisi benda yang ditemukan menjadi bagian dari informasi yang perlu diperiksa bersama data orbit dan karakteristik komponen roket.

Serpihan Dievakuasi untuk Kepentingan Keamanan

Setelah penemuan tersebut ditindaklanjuti, pihak Bandara H Asan Sampit berkoordinasi dengan sejumlah instansi, termasuk BRIN dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Serpihan kemudian dievakuasi ke Lanud Iskandar di Pangkalan Bun untuk kepentingan identifikasi lebih lanjut dan keamanan. Langkah tersebut dilakukan setelah benda ditemukan di area perkebunan dan asal-usulnya ditelusuri.

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui koordinasi dengan BRIN, serpihan tersebut tidak mengandung bahan beracun. Meski demikian, penanganan oleh pihak berwenang tetap diperlukan untuk memastikan kondisi benda dan menghindari risiko akibat material yang belum diperiksa secara langsung.

Penemuan di Kotawaringin Timur ini menjadi salah satu contoh bagaimana bagian wahana antariksa yang sudah menyelesaikan misinya dapat kembali memasuki atmosfer dan ditemukan di wilayah berpenduduk atau kawasan perkebunan.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.