- • Pemprov DKI Jakarta mengklaim kualitas udara ibu kota membaik setelah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 21–25 Oktober 2026.
- • Dinas Lingkungan Hidup DKI mencatat konsentrasi PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida menurun di lima wilayah Jakarta pada pagi hari, 24 Oktober 2026.
- • Hujan, kondisi meteorologi, perubahan aktivitas sumber emisi, dan kemungkinan dampak OMC menjadi faktor yang dapat memengaruhi penurunan polutan. Namun, pemerintah masih memerlukan analisis lanjutan untuk memastikan kontribusi setiap faktor.
INFORMASI.COM, Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim kualitas udara ibu kota membaik setelah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama beberapa hari pada akhir Oktober 2026. Penurunan konsentrasi sejumlah polutan terpantau di lima wilayah Jakarta, terutama pada pagi hari ketika rangkaian Jakarta Running Festival (JRF) 2026 berlangsung.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5, partikel PM10, dan sulfur dioksida (SO₂) cenderung menurun pada Sabtu, 24 Oktober 2026, terutama dalam rentang pukul 04.00–07.00 WIB.
Pemprov DKI melaksanakan OMC pada 21–25 Oktober 2026 untuk mengoptimalkan potensi hujan dan membantu memperbaiki kondisi udara. Pemerintah juga melakukan penyemprotan kabut air atau water mist di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan peserta JRF.
Meski demikian, penurunan konsentrasi polutan tidak serta-merta membuktikan bahwa OMC menjadi satu-satunya penyebab perbaikan kualitas udara. DLH DKI menyebut kondisi meteorologi dan perubahan aktivitas sumber emisi lokal turut memengaruhi konsentrasi pencemar di atmosfer.
Konsentrasi PM2,5 Menurun di Sejumlah Wilayah
Data pemantauan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) DLH DKI Jakarta menunjukkan penurunan konsentrasi polutan di sejumlah wilayah pada pagi hari, 24 Oktober 2026.
Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB tercatat berada pada kisaran 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat konsentrasi PM2,5 sekitar 9–17 µg/m³ pada pukul 04.00–07.00 WIB.
Di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari berada dalam kisaran 12–43 µg/m³. Tren penurunan juga terpantau di Jakarta Barat dan Jakarta Timur.
Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan data pemantauan menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah tersebut.
“Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor meteorologi, termasuk kemungkinan kontribusi OMC,” kata Dudi dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta.
Ia menegaskan, pemerintah masih memerlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara.
Hujan Membantu Mengurangi Partikel Polutan
Salah satu faktor yang dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel pencemar di udara adalah hujan. Ketika hujan turun, sebagian partikel yang melayang di atmosfer dapat terbawa oleh tetesan air dan jatuh ke permukaan tanah melalui proses yang disebut deposisi basah atau wet deposition.
Proses tersebut dapat mengurangi konsentrasi partikulat di udara untuk sementara waktu. Efektivitasnya bergantung pada intensitas dan durasi hujan, karakteristik partikel, serta kondisi atmosfer di wilayah yang terdampak.
Dalam pelaksanaan OMC di Jakarta, pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi awan hujan melalui penyemaian bahan tertentu. Berdasarkan laporan BPBD DKI Jakarta, operasi pada 21–23 Oktober melibatkan empat sorti penerbangan menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida (NaCl).
Penyemaian dilakukan di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan. Selama periode tersebut, hujan dengan intensitas bervariasi juga tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.
Namun, hujan yang terjadi setelah pelaksanaan OMC tidak otomatis membuktikan seluruh perubahan cuaca disebabkan oleh operasi tersebut. Penilaian dampak OMC memerlukan analisis meteorologi yang mempertimbangkan kondisi awan, pergerakan angin, dan faktor atmosfer lainnya.
OMC dan Water Mist Bukan Satu-satunya Faktor
Selain hujan, kondisi meteorologi turut menentukan seberapa cepat polutan menyebar atau terakumulasi di suatu wilayah. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memindahkan polutan, sedangkan kondisi atmosfer yang stabil dapat membuat pencemar bertahan lebih lama di dekat permukaan.
Aktivitas sumber emisi juga berpengaruh. Volume kendaraan, kegiatan industri, aktivitas konstruksi, dan pembakaran terbuka dapat memengaruhi jumlah polutan yang dilepaskan ke udara.
Pemprov DKI menjalankan penyemprotan water mist di sejumlah ruas jalan untuk membantu menyejukkan lingkungan dan meningkatkan kenyamanan peserta JRF. Meski demikian, pengaruh penyemprotan tersebut terhadap kualitas udara di seluruh Jakarta perlu dibedakan dari perubahan konsentrasi polutan yang tercatat oleh stasiun pemantauan.
Dengan kata lain, perbaikan kualitas udara dalam periode tertentu dapat terjadi karena gabungan sejumlah faktor. Untuk menentukan kontribusi setiap upaya pemerintah, diperlukan pembandingan data sebelum, selama, dan setelah intervensi, disertai analisis kondisi cuaca dan aktivitas emisi.
Transportasi dan Industri Masih Menjadi Sumber Emisi Penting
Penurunan konsentrasi polutan dalam beberapa hari tidak berarti persoalan polusi udara Jakarta telah selesai. Pengendalian jangka panjang tetap memerlukan upaya untuk mengurangi emisi dari sumbernya.
Inventarisasi emisi DLH DKI Jakarta pada 2020 menunjukkan bahwa sektor transportasi menjadi sumber utama sejumlah polutan di ibu kota. Sektor ini menyumbang sekitar 67,03 persen emisi PM2,5 dan 57,99 persen PM10 berdasarkan inventarisasi tersebut.
Sementara itu, industri pengolahan menjadi sumber utama sulfur dioksida dengan kontribusi sekitar 61,96 persen. Sektor industri juga menjadi salah satu penyumbang penting bagi beberapa polutan lainnya.
Data tersebut menggambarkan bahwa sumber pencemaran berbeda menurut jenis polutan. Karena itu, upaya memperbaiki kualitas udara perlu disesuaikan dengan karakteristik emisi, termasuk pengendalian kendaraan bermotor, pengawasan emisi industri, serta pencegahan pembakaran terbuka.
Perlu dicatat, angka inventarisasi emisi 2020 tersebut menggambarkan hasil kajian pada periode itu dan bukan pengukuran langsung kontribusi emisi pada Oktober 2026.
Kualitas Udara Membaik Belum Berarti Aman Sepanjang Hari
Perbaikan konsentrasi polutan pada waktu tertentu juga tidak selalu mencerminkan kondisi udara sepanjang hari. Kualitas udara dapat berubah menurut lokasi, waktu, cuaca, dan aktivitas manusia.
Pada Minggu pagi, 25 Oktober 2026, misalnya, IQAir mencatat indeks kualitas udara Jakarta sebesar 79 pada pembaruan pukul 06.00 WIB. Konsentrasi PM2,5 berada pada angka 24 µg/m³, atau sekitar 4,8 kali panduan tahunan kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Data tersebut memperlihatkan pentingnya membedakan penurunan polutan pada periode tertentu dengan perbaikan kualitas udara yang bertahan dalam jangka panjang. Angka dari stasiun pemantauan pemerintah dan platform pemantauan lain juga perlu dibandingkan dengan memperhatikan waktu pembaruan, lokasi, dan metode pengukuran.
Masyarakat tetap disarankan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Ketika kualitas udara memburuk, warga dapat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menggunakan masker pelindung partikulat yang sesuai jika harus beraktivitas di luar.
Penurunan polusi udara Jakarta pada akhir Oktober 2026 menjadi perkembangan positif, tetapi penyebab dan keberlanjutannya masih perlu dikaji. Hujan, kondisi meteorologi, aktivitas emisi lokal, dan kemungkinan kontribusi OMC perlu dianalisis bersama agar pemerintah dapat menentukan langkah pengendalian yang efektif dalam jangka panjang.