Papua Jadi Episentrum Baru Karhutla, Ratusan Hektare Lahan Masih Terbakar

Papua Jadi Episentrum Baru Karhutla, Ratusan Hektare Lahan Masih Terbakar
Ilustrasi kebakaran hutan (Sumber: Freepik)

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • BNPB mencatat luas karhutla di Papua Selatan mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas. Per 1 November 2026, masih terdapat 171 titik api dan 253 hektare lahan belum padam.
  • • Upaya pemadaman diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemantauan satelit dan drone, serta penanganan langsung oleh petugas di lapangan.
  • • Kabut asap dilaporkan mengganggu kesehatan dan aktivitas warga, bahkan menyebar ke sejumlah provinsi di luar Papua. Kebakaran juga mengancam kawasan konservasi, termasuk Taman Nasional Wasur.

INFORMASI.COM, Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua masih menjadi ancaman serius hingga awal November 2026. Meski luas area terbakar dan jumlah titik api dilaporkan menurun, ratusan hektare lahan belum sepenuhnya padam dan kabut asap terus mengganggu aktivitas masyarakat.

Titik api karhutla Papua pertama kali dilaporkan muncul pada 18 Juli 2026 di sejumlah wilayah Kabupaten Nabire. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kondisi cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering turut memperparah kebakaran.

Papua Selatan menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla yang besar. Berdasarkan laporan BNPB, luas area terdampak di provinsi tersebut mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas.

Luas Kebakaran Papua Selatan Menurun

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa hingga 1 November 2026 pukul 17.00 WIB masih terdapat 171 titik api di wilayah Papua Selatan. Sementara itu, sekitar 253 hektare lahan dilaporkan belum padam dari total area terdampak.

Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan kondisi pada 31 Oktober 2026. Saat itu, BNPB mencatat 943 titik panas, 263 titik api, dan luas area terbakar mencapai 1.742 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 577 hektare lahan masih belum padam.

Berton menyebut penurunan jumlah titik api dan luas lahan yang belum padam sebagai perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut belum berarti kebakaran sepenuhnya terkendali.

Data luas area terbakar masih perlu diverifikasi melalui pemantauan dan pemeriksaan lapangan. Angka geospasial juga dapat berubah mengikuti pembaruan pemetaan.

Operasi Pemadaman Diperkuat dengan Modifikasi Cuaca

BNPB masih memprioritaskan penanganan karhutla di Papua Selatan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Hingga 31 Oktober 2026, tercatat 13 penerbangan penyemaian awan telah dilakukan di wilayah tersebut. Dalam operasi itu, sebanyak 13.000 kilogram natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan semai untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Meski demikian, Berton menjelaskan OMC merupakan upaya pendukung dalam penanganan karhutla. Pemadaman langsung tetap dilakukan oleh petugas di lapangan.

BNPB juga terus memantau perkembangan titik api melalui citra satelit dan drone. Kombinasi pemantauan serta penanganan langsung diperlukan untuk mengidentifikasi titik api yang masih aktif dan mencegah kebakaran meluas.

Kabut Asap Ganggu Kesehatan dan Aktivitas Warga

Karhutla yang belum sepenuhnya padam menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Sejumlah warga dilaporkan mengalami batuk seiring memburuknya kualitas udara. Kesulitan memperoleh air bersih juga menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.

Sebaran asap terpantau meluas hingga Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan sebagian wilayah Jayapura. Asap bahkan dilaporkan mencapai Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, serta Sulawesi Utara.

Pergerakan asap tersebut dipengaruhi pola angin yang bertiup dari timur menuju barat laut hingga utara.

Karhutla Ancam Ekosistem Taman Nasional Wasur

Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, karhutla juga mengancam tutupan hutan dan habitat satwa endemik Papua.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kebakaran dilaporkan menghanguskan sekitar 8.707 hektare kawasan Taman Nasional Wasur di Papua Selatan.

Kawasan konservasi tersebut merupakan habitat penting bagi berbagai satwa khas Papua, seperti walabi, kanguru pohon, kasuari gelambir tunggal, dan cenderawasih. Kerusakan vegetasi akibat kebakaran berpotensi mengurangi ruang hidup dan ketersediaan pakan satwa-satwa tersebut.

Besarnya dampak terhadap ekosistem perlu terus dipantau melalui pendataan dan evaluasi di lapangan.

Pengawasan Pembukaan Lahan Perlu Diperkuat

Di tengah meluasnya dampak karhutla, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Pemerintah diharapkan memperkuat pencegahan terhadap praktik pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.

Sorotan juga muncul terhadap aktivitas perusahaan dan proyek pembangunan yang berkaitan dengan pembukaan kawasan hutan. Melansir BBC, sejumlah temuan organisasi lingkungan dan lembaga hukum di lapangan menunjukkan adanya titik api di area yang telah mengalami penggusuran oleh perusahaan maupun proyek strategis nasional (PSN).

Temuan tersebut menjadi dasar penting untuk mendorong pemeriksaan lebih lanjut mengenai hubungan antara aktivitas pembukaan lahan dan munculnya titik api. Namun, penyebab setiap kebakaran tetap perlu dipastikan melalui penyelidikan dan verifikasi di lapangan.

Penanganan karhutla Papua pada akhirnya tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Pengawasan pembukaan lahan, pencegahan pembakaran, perlindungan kawasan konservasi, serta pemantauan kualitas udara juga diperlukan agar dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan tidak semakin meluas.

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.