- • Fenomena atmospheric river atau sungai atmosfer yang aktif di sekitar Australia disebut membawa uap air menuju wilayah selatan Indonesia dan berpotensi meningkatkan curah hujan di Pulau Jawa.
- • Peneliti BRIN Erma Yulihastin menyebut aliran uap air tersebut memiliki panjang lebih dari 3.000 kilometer dan membawa kelembapan tinggi di lapisan troposfer bawah.
- • BMKG belum memastikan hubungan langsung fenomena tersebut dengan peningkatan hujan di Jawa karena masih diperlukan analisis terhadap kondisi atmosfer dan faktor cuaca lokal.
INFORMASI.COM, Jakarta — Fenomena atmospheric river atau sungai atmosfer disebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan curah hujan di Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir. Aliran uap air dalam jumlah besar dari sekitar Australia menuju wilayah selatan Indonesia dinilai dapat mendukung pembentukan awan hujan.
Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menjelaskan fenomena atmospheric river yang sedang aktif di Australia membawa kelembapan menuju Indonesia bagian selatan, khususnya Pulau Jawa.
Melalui akun X miliknya, Erma menyebut aliran tersebut berbentuk seperti sungai di atmosfer dengan panjang lebih dari 3.000 kilometer. Kelembapan tinggi dari fenomena ini berada di lapisan troposfer bawah, sekitar 1–3 kilometer di atas permukaan bumi.
"Atmospheric River yang sedang aktif di Australia, penyebab hujan merata selama beberapa hari terakhir di Indonesia, khususnya Indonesia bagian selatan (Jawa)," tulis Erma, dikutip Selasa (3/11/2026).
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum memastikan keterkaitan langsung fenomena tersebut dengan peningkatan curah hujan di Pulau Jawa.
Apa Itu Atmospheric River?
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), atmospheric river merupakan jalur panjang dan relatif sempit di atmosfer yang mengangkut uap air dalam jumlah besar dari satu wilayah ke wilayah lain.
Meski disebut sungai atmosfer, fenomena ini tidak membawa air dalam bentuk cair seperti sungai di permukaan bumi. Atmospheric river merupakan aliran uap air yang bergerak mengikuti pola angin di atmosfer.
Fenomena tersebut menjadi bagian penting dari siklus air global karena berperan memindahkan kelembapan dari kawasan tropis menuju wilayah lain.
Ketika aliran udara lembap mencapai daratan, uap air yang dibawanya dapat berubah menjadi hujan atau salju. Proses pembentukan hujan dapat terjadi ketika udara lembap terdorong naik, misalnya akibat pertemuan massa udara atau keberadaan pegunungan.
Saat bergerak naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, udara mengalami pendinginan. Uap air kemudian mengalami kondensasi dan membentuk awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Meski mampu membawa uap air dalam jumlah besar, atmospheric river tidak selalu memicu cuaca ekstrem. Dampaknya bergantung pada kondisi atmosfer dan wilayah yang dilaluinya.
BMKG Belum Pastikan Atmospheric River Picu Hujan di Jawa
Berbeda dengan penjelasan Erma, BMKG menyatakan masih diperlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan pengaruh atmospheric river di sekitar Australia terhadap peningkatan curah hujan di Pulau Jawa.
Prakirawan Meteorologi Publik BMKG, Agus Salim, mengatakan fenomena tersebut memang berpotensi mendukung pembentukan awan hujan. Namun, keberadaannya tidak serta-merta menjadi penyebab hujan di suatu wilayah.
"BMKG masih perlu melakukan analisis lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan fenomena atmospheric river (AR) di sekitar Australia dengan peningkatan hujan di Pulau Jawa," kata Agus.
Menurut dia, pengaruh aliran uap air terhadap curah hujan di Indonesia bergantung pada arah pergerakannya serta interaksi dengan kondisi atmosfer setempat.
Peningkatan kelembapan juga bukan satu-satunya faktor yang menentukan terbentuknya hujan. Proses tersebut dipengaruhi oleh konvergensi angin, tingkat kelabilan atmosfer, serta faktor lokal seperti kondisi topografi.
Selain itu, pola angin, kelembapan udara, aktivitas gelombang atmosfer, dan suhu muka laut di sekitar Indonesia turut memengaruhi intensitas serta sebaran hujan.
Mengapa Atmospheric River Bisa Meningkatkan Curah Hujan?
Aliran uap air yang dibawa atmospheric river dapat meningkatkan kandungan kelembapan di atmosfer. Ketika bertemu dengan kondisi yang mendukung pembentukan awan, kelembapan tersebut berpotensi menghasilkan hujan.
Di wilayah dengan topografi pegunungan, udara lembap dapat terdorong naik ketika melewati lereng. Proses pendinginan di lapisan atmosfer kemudian memicu kondensasi dan pembentukan awan hujan.
Namun, seberapa besar kontribusi atmospheric river terhadap hujan di Jawa masih perlu dikaji bersama faktor atmosfer lainnya.
Dengan demikian, fenomena sungai atmosfer dapat menjadi salah satu unsur yang mendukung peningkatan curah hujan, tetapi belum dapat dipastikan sebagai penyebab tunggal hujan merata di Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir.