Inilah Kisah di Balik Tiga Lukisan Raden Saleh yang Terkenal

INFORMASI.COM, Jakarta - Pada Oktober 1851, tulis Werner Kraus dalam "Raden Saleh dan Karyanya" (2018), Raden Saleh naik kapal uap Makassar untuk pulang ke tanah kelahirannya, Jawa, yang telah dia tinggalkan selama 22 tahun. Beberapa bulan sebelumnya pada 17 Maret 1851, di Den Haag, Belanda, dia dianugerahi gelar Schilder des Konings atau Pelukis Raja. Pemerintah Belanda menyediakan tunjangan biaya pulang sebesar f 3.000 untuk Raden Saleh.
Pelukis terkemuka yang lahir di Semarang pada Mei 1807 ini meninggalkan sejumlah karya seni yang terkenal dan berpengaruh. Salah satu lukisan Raden Saleh yang paling dikenang masyarakat Indonesia adalah "Penangkapan Pangeran Diponegoro".
Kisah Menarik Hoegeng yang Jarang Diketahui Orang: Pernah Jadi Sasaran SniperLukisan kecurangan Belanda terhadap pahlawan Indonesia itu sebenarnya telah dibuat oleh seniman Belanda, Nicolaas Pieneman. Lukisan Raden Saleh, catat Werner Kraus, sangat berbeda dengan lukisan Pieneman dalam hal pengaturan tokoh utama. Jika Pieneman melukis Pangeran Jogja itu sebagai orang yang terpukul dan tanpa emosi menghadapi takdirnya, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan wajah yang penuh murka dan bersikap menghina.
Selain soal pahlawan perang Jawa, lukisan Raden Saleh lain yang popular bertema alam. Di Istana Presiden, tulis Agus Dermawan T. Dalam buku "Dari Lorong-lorong Istana Presiden" (2019), ada satu lukisan yang beberapa kali berganti pigura. Lukisan itu berjudul "Harimau Minum".
Lukisan yang diselesaikan Raden Saleh pada 1863 itu, tulis Agus, awalnya dibingkai persegi. Presiden Sukarno yang merasa terganggu dengan bingkai dalam berbentuk persegi memerintahkan Lim Wasim untuk menggantinya dengan bentuk membulat pada 1963.
Seperti banyak lukisan pemandangan Raden Saleh lainnya, lukisan "Harimau Minum", catat Werner Kraus, menonjolkan kebesaran alam. Bahkan pemangsa yang paling ditakuti di Jawa, tampak kecil dan tidak berarti. Harimau itu tak mengusik ketentraman, justru merupakan bagian dari keselarasan yang lebih besar.
Karya bangsawan dari Kampung Bustaman, Semarang, yang tak kalah beken ialah yang berjudul "Perburuan Banteng". Karyanya yang satu ini sempat lenyap dari panggung kesenian selama satu abad lebih.
Konon, tulis Agus Dermawan T. dalam "Karnaval Sahibulhikayat" (2021), pada 1859, "Perburuan Banteng" dibeli oleh seorang pengusa Prancis yang punya bisnis kebun kopi dan tebu di Jawa Tengah. Lukisan itu dipajang di rumahnya lalu diboyong putranya, J.S.S. Cezard, ke kediamannya di Kota Auray, Prancis.
Berganti abad, pada 2017, rumah tua milik Cezard itu akan dijual. Seluruh isi rumah pun, catat Agus, digeledah hingga ditemukan "Perburuan Banteng" di dalam gudang.
Tanpa ekspektasi berlebihan, lukisan itu dibawa ke rumah lelang di Vannes untuk dijual dengan harga awal 200.000 euro, tulis Agus, setelah diteliti keasliannya. Lelang dilakukan pada 27 Januari 2018.
Betapa mengejutkannya bahwa lukisan yang diciptakan pada 1855, tulis Agus, laku terjual dengan harga 7,2 juta euro. Tapi setelah ditambah dengan biaya premium, lukisan itu dihargai sebesar 8,9 juta euro. Sekitar 45 kali lipat dari harga awal!
(Penulis: Dhia Oktoriza Sativa)
Komentar (0)
Login to comment on this news