Perjalanan Pabrik Gula di Jawa, Salah Satu Lumbung Ekonomi Kolonial Belanda

INFORMASI.COM, Jakarta – Penanaman tebu dan industri gula di Indonesia sudah ada sejak zaman Belanda. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Pulau Jawa mengalami pertumbuhan signifikan dalam industri gula di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Dikutip dari laman Pemerintah Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Jumat (10/1/2025), penerapan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870 membuka peluang bagi investor swasta untuk menanam modal di sektor perkebunan.
Khususnya tebu, yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional. Misalnya, di Yogyakarta ada 19 pabrik gula yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Sleman, Bantul, dan Kulon Progo.
Mengapa Masakan Jawa Tengah dan Jogja Cenderung Manis?Beberapa di antaranya adalah PG Medari, PG Cebongan, PG Sewu Galur, PG Gesikan, dan PG Bantul. Pabrik-pabrik ini berperan penting dalam mengolah hasil panen tebu menjadi gula, yang kemudian diekspor ke berbagai negara.
Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalur kereta api, turut mendorong perkembangan industri gula. Perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), membangun jalur yang menghubungkan Yogyakarta dengan daerah sekitarnya, memudahkan transportasi tebu dari perkebunan ke pabrik dan distribusi gula ke pelabuhan.
Namun, krisis ekonomi global pada 1929, yang dikenal sebagai Malaise, berdampak signifikan terhadap industri gula di Jawa. Anjloknya harga gula di pasar internasional memaksa pemerintah kolonial untuk membatasi produksi.
Perjanjian perdagangan gula internasional, seperti “Chadbourne Agreement”, mengharuskan Hindia Belanda mengurangi produksi gula dari sekitar 3 juta ton menjadi 1,4 juta ton per tahun. Akibatnya, banyak pabrik gula di Yogyakarta dan sekitarnya terpaksa ditutup untuk menekan biaya produksi.
Ini Alasan Orang Sunda Suka Teh TawarDari 19 pabrik gula yang pernah beroperasi di Yogyakarta, hanya PG Madukismo di Bantul yang masih aktif memproduksi gula hingga saat ini. Jejak sejarah pabrik-pabrik gula lainnya dapat ditemukan dalam bentuk bangunan tua, rel kereta api bekas, dan nama-nama daerah yang terkait dengan industri gula masa lalu.
Perkembangan industri gula di Jawa pada masa kolonial Belanda meninggalkan warisan sejarah yang mendalam.
Selain mempengaruhi struktur ekonomi dan sosial masyarakat setempat, industri ini juga membentuk infrastruktur dan pola pemukiman yang masih dapat dilihat hingga kini. Meskipun banyak pabrik gula telah tiada, peninggalannya tetap menjadi saksi bisu dinamika ekonomi kolonial di Indonesia.
(Penulis: Daffa Prasetia)
Komentar (0)
Login to comment on this news